Catatan Akhir Tahun: Citarum, Akankah Menjadi Sungai yang Harum?

0
28

Sungai Citarum yang aliran airnya membelah delapan wilayah kabupaten/kota di Jawa Barat adalah anugerah. Sungai terpanjang di Jawa Barat ini merupakan sumber air bagi tiga waduk besar yang sekaligus penyuplai irigasi. Namun, di sisi lain, sungai ini juga dijadikan tempat pelarian pabrik nakal untuk membuang limbahnya.

Persoalan yang mendera Sungai Citarum terasa begitu kompleks. Di hulu, kawasan tangkapan air terus dieksploitasi dari hutan menjadi tanaman semusim yang menimbulkan sedimentasi dan erosi.

Tercatat, kerusakan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum hulu mencapai 845.846 hektar. Rinciannya, lahan kritis di dalam kawasan hutan sekitar 164.419 hektar dan di luar kawasan hutan 681,427 hektar.

Persoalan limbah industri, pertanian, peternakan, serta rumah tangga yang tak terkendali pun turut memperkeruh kualitas air. Akibatnya, air yang bersumber dari Gunung Wayang di Bandung Selatan ini tidak layak konsumi. Sebab, parameternya tidak memenuhi syarat untuk kebutuhan air minum.

Berdasarkan data yang dihimpun, air di Waduk Cirata yang berjarak 60 kilometer dari hulu Citarum pun, telah mengandung zat kimia berbahaya seperti H25, bakteri E coli, Coliform, COD serta BDO yang melebihi ambang batas. Kondisi yang sangat berbahaya bagi kehidupan makhluk hidup dan lingkungan.

Masalah masih berlanjut. Pencemaran dan sedimentasi hebat juga terjadi sampai ke hilir Citarum. “Kadang, di waktu tertentu, kualitas airnya sangat buruk. Acapkali ikan di tambak kami mati sebelum masa panen,” kata Udin Saripudin, petambak ikan bandeng di Desa Pakis, Kecamatan Pakis Jaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, yang berada di muara Citarum.

“Dulu, kami masih bisa memelihara udang bago dan udang peci sebagai tambahan penghasilan. Kini, semua tambak kami tinggalkan karena rugi,” jelas warga lainnya.

Air tawar dari sungai sepanjang 269 kilometer ini memang dipergunakan untuk menetralisir keasinan air laut, menjadi payau, agar sesuai untuk pertumbuhan ikan bandeng. Namun, akibat airnya terkotaminasi limbah, sebagian besar tambak masyarakat yang berada di pesisir utara Karawang itu, tidak begitu optimal pengelolaannya.

Masalah di hilir ini nyatanya menyempurnakan ruwetnya persoalan Citarum. “Hilir, bukan hanya muara bagi air Ciatrum tetapi juga muaranya sampah-sampah yang terbawa alirannya. Alhasil, ikan terbatas dan tentu (pencemaran) mengurangi pendapatan nelayan,” kata Sarmin (52) nelayan Laut Jawa ketika ditemui di Desa Tanjungbungin yang berbatasan dengan Kabupaten Bekasi. Di sini sampah menjadi persoalan pelik setelah abrasi.

Penanganan

Sudah lama Sungai Citarum menjadi masalah nasional. Terutama, semenjak adanya laporan yang mengukuhkan sungai sarat sejarah ini sebagai salah satu sungai terkotor di dunia. The World Dirtiest RiverolehInternational Herald Tribune, pada 5 Desember 2008 dan The Dirtiest Riverdisematkan olehThe Sun, 4 Desember 2009 untuk Sungai Citarum.

Beberapa program skala besar pun dicanangkan. Mulai dari pemerintah daerah hingga pemerintah pusat dengan dana tidak murah. Tercatat Program Kali Bersih (PROKASIH) merupakan kegiatan awal pemulihan kondisi Citarum. Lalu, Program Integrated Citarum Water Resources Management Investment Program (ICWRMIP) hingga Program Citarum Bersih, Sehat, Indah, dan Lestari (Bestari) yang diiniasi Pemprov Jawa Barat pada 2014.

Menjelang akhir 2017, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritimana dibawah arahan Luhut Binsar Pandjaitan mewacanakan akan dibuatnya instalasi pengelolaan limbah (IPAL) komunal sebagai langkah pemulihan lanjutan. Langkah ini diambil guna memimalisir limbah dan sampah masuk ke wilayah perairan. Sebab, 80% sampah laut berasal dari daratan yang merupakan persoalan besar.

Dalam kasus ini pula Kementerian Perindustrian ikut dilibatkan dengan tujuan meningkatkan pengawasan. Mengingat, industri di sepanjang hulu sungai hingga muara berjumlah 608 unit, yang setengahnya hampir didominasi industri tekstil yaitu 468 unit.

Namun, program yang dijalankan ini, menurut pendapat beberapa pihak masih terkesan parsial. Belum terlihat terintegrasi.

“Terus terang, partisipasi kami (sebagai industri) atas program-program yang pemerintah munculkan belum jelas mekanismenya. Termasuk grand desainprogramnya yang belum terlihat rinci kepada kami,” kata Kepala Bagian Umum PT. Kahatex Ruddy. Sejauh ini, kata dia, pihak industri hanya mendapatkan informasi program tetapi belum jelas arah yang dianjurkan pemerintah.

Potensi

Sejatinya, Citarum memiliki potensi air luar biasa. Dari hulu hingga hilir, sekitar 420 ribu hektar tanaman padi, airnya dipasok dari Citarum melalui sejumlah irigasi. Air yang melimpah ini membuat produksi padi Jawa Barat mencapai 11.644.899 ton pada 2015, atau sebesar 15,41% dari total produksi nasional, yakni 75.550.000 ton.

Pada Sungai Citarum juga terdapat tiga waduk yang secara kaskade, dibangun dalam satu sungai, menghasilkan listrik sebesar 2.585 Megawatt, yang terkoneksi Jawa dan Bali. Peran lainnya yaitu, dari Waduk Jatiluhur air mengalir ke hilir melalui bendungan curug kemudian membagi air ke saluran Tarum Barat dan Tarum Timur.

Tarum Barat mengalirkan air untuk memenuhi kebutuhan air baku bagi 80% penduduk DKI Jakarta. Sedangkan Taruma Timur, dipakai untuk irigasi lumbung padi seperti Kabupaten Karawang, Purwakarta, Cianjur, Subang, dan Indramayu.

Namun, si sisi lain, berdasarkan data Podes 2012, jumlah penduduk di wilayah Sungai Citarum yang sebanyak 25.301.837 jiwa membuat kondisi lingkungan di sekitar sempadan sungai berubah. Tekanan pertumbuhan jumlah penduduk membuat volume sampah terus menjadi masalah setiap tahunnya.

Di Desa Batu Jaya, Kecamatan Batu Jaya, Kabupaten Karawang, misalnya, sebagian besar masyarakat masih memanfaatkan aliran sungai untuk keperluan sehari-hari. Menurut warga sekitar, Samiatun (53) aliran sungai masih digunakan sebatas mencuci.

“Kalau sekarang hanya mencuci saja, itu juga menggunakan aliran irigasi,” ujar dia. Namun, aliran sungai ini juga dijadikan warga sebagai tempat pembuangan sampah karena di daerahnya tidak ada tempat pembuangan sampah (TPS) atau tempat pembuangan akhir (TPA).

Kasi Pemerintahan Batu Jaya Herman Hidayat, mengamini perihal ketidaktersediaan TPS maupun TPA ini. Dia berargumen, upaya penyediaan tempat sampah itu sepenuhnya kewenangan desa.

“Inisiatifnya harus dari desa karena kecamatan tidak memiliki dana untuk penyediaan tempat sampah. Kami hanya melakukan sosialisasi agar masyarakat hidup bersih,” ucap Herman. Padahal, Batu Jaya berjarak 10 kilometer ke pesisir Pantai Pakis Jaya.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengakui, dibalik perannya yang strategis, Citarum sering dihadapkan pada masalah pencemaran dan sampah. Menurut dia, akar kedua persoalan itu adalah masalah kultur. Program Citarum Bestari diklaim menjadi solusi merubah budaya yang tidak sesuai itu.

Ahmad Heryawan menyebut manajemen pengelolaan lingkungan hidup di Jawa Barat tak lepas dari tiga hal, yaitu program struktural, nonstruktural, dan respon kultural.

“Dalam konteks Citarum, kami lakukan gerakan Lima Tidak. Di hulu Tidak Menebang Pohon, ke hilirnya nanti Tidak Membuang Limbah Ternak, Tidak Membuang Limbah Rumah Tangga, Tidak Membuang Limbah Industri, dan pastinya Tidak Membuang Sampah ke Sungai,” tegasnya di berbagai kesempatan.

Catatan Akhir Tahun: Citarum, Akankah Menjadi Sungai yang Harum?