Banjir Lahar Dingin Sinabung Putus Jembatan Penghubung Antardesa

0
98

Liputan6.com, Sumatera Utara – Relawan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Kabupaten Karo bekerja keras membersihkan material lahar dingin yang memenuhi jembatan di Desa Sukatendel, Kecamatan Tigan Derket menggunakan alat berat.

Seperti ditayangkan Liputan6 SCTV, Rabu (21/2/2018), jembatan ini tertutup material lahar dingin akibat tingginya curah hujan yang terjadi di sekitar puncak Gunung Sinabung. Jembatan ini merupakan penghubung Kecamatan Simpang Empat menuju Kecamatan Kuta.

 

 

Desa Suka Tendel merupakan kawasan aliran lahar dingin Gunung Sinabung. BPBD Kabupaten Karo menghimbau agar warga waspada dan menjauhi aliran yang dilalui lahar dingin jika sedang terjadi hujan.

Sehari sebelumnya, Gunung Sunabung meletus hebat. Tangis dan ketakutan dirasakan siswa sekolah dasar di Desa Naman Teran, Kabupaten Karo, Sumatera Utara yang berhamburan keluaran begitu mendengar dan melihat erupsi Gunung Sinabung yang dahsyat pada Senin pagi.

Seperti ditayangkan Liputan6 SCTV, Selasa (20/2/2018), erupsi Sinabung dengan kolom abu vulkanik mencapai 5 KM sempat membuat lima desa gelap gulita. Sekitar 500 warga Desa Naman Teran kembali mengungsi ke jambur atau gedung pertemuan terdekat.

Di malam hari, warga Desa Naman yang berada radius lima kilometer dari Puncak Gunung Sinabung kembali pulang ke rumah namun sambil berjaga-jaga.

Pascaerupsi, para petani pun berupaya membersihkan lahan pertanian yang tertutup abu vulkanik tebal. Para petani Gunung Sinabung mengaku merugi lebih dari 50 persen karena tanaman mereka tertutup abu selama beberapa jam. Saat ini status Sinabung masih berada pada awas level empat.

Petugas PVMBG mencatat masih terjadi gempa-gempa susulan serta bentukan guguran lava.

Gelap Gulita

Setelah sebulan istirahat memuntahkan abu vulkanik, Gunung Sinabung kembali bergejolak pada Senin 19 Februari 2018. Kali ini letusannya sangat dahsyat, dan menjadi yang terbesar dalam sejarah Gunung Sinabung.

Gunung Sinabung yang terletak di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, meletus hebat pukul 08.54 WIB.

“Gunung Sinabung meletus pagi ini dengan tinggi kolom abu mencapai kurang lebih 5.000 meter,” tulis Kepala Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam akun twitternya, @Sutopo_PN, Senin (19/2/2018).

Menurut Sutopo, dalam letusan tersebut terdengar suara bergemuruh. Selain itu, awan panas juga menyembur dari kawah gunung dengan jangkauan ke arah timur laut. “Sejauh 3,5-4,9 km dan ke arah selatan sejauh 4.900 m,” lanjut Sutopo.

Tingginya semburan abu vulkanik pada letusan kali ini, yakni setinggi 5 kilometer, disebut sebagai letusan yang terdahsyat pada 2018.

Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pos pantau Gunung Sinabung, jarak luncur abu vulkanik sektoral Selatan-Tenggara 4.900 meter dan sektoral Tenggara-Timur 3.500 meter.

Selanjutnya awan panas letusan dengan jarak luncur 4.900 meter mengarah ke Selatan. Teramati gugur dengan jarak luncur 1.000-1.500 meter mengarah ke Tenggara dan visual tertutup abu.

Saat erupsi, juga terjadi gempa. Sutopo menerangkan, sejak pukul 06.00 WIB hingga 12.00 WIB telah berlangsung 1 kali gempa letusan dengan 607 detik, 1 kali awan panas letusan dengan durasi 607 detik, dan 10 kali awan panas guguran dengan durasi 195-792 detik.

“Kemudian 14 kali gempa guguran, 5 kali gempa hembusan, 1 kali gempa low frekuensi, dan 5 kali gempa vulkanik dalam,” uajr Sutopo.

Dia juga menyebutkan, dalam letusan Gunung Sinabung kali ini selain abu vulkanik dan gempa, bebatuan kecil juga meluncur dari perut Sinabung.

“Batuan kecil juga menghujani 5 kecamatan itu. Hujan kerikil kecil juga masih terjadi seperti di Desa Kuta Mbaru dan Kuta Rakyat hingga pukul 10.00 WIB,” sebut Sutopo.

Besarnya letusan membuat sejumlah desa di Kabupaten Karo gelap gulita akibat tertutup material abu vulkanik.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karo Martin Sitepu mengatakan, desa-desa yang gelap gulita tersebut berada di sejumlah kecamatan, mulai dari Simpang Empat, Payung, Tiga Nderket, Naman Teran, hingga Munthe.

“Gelap gulita Karo sekarang ini. Warga juga kita imbau untuk selalu memakai masker,” ucap Martin.

Meski demikian, Martin mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak perlu panik. Sebab, menurut dia, kondisi tetap normal. Namun, Martin mengungkapkan bahwa dampak erupsi Gunung Sinabung kali ini sangat luar biasa, hingga menyebabkan sejumlah desa di Karo gelap gulita.

“Imbauan kita, warga menjauhi zona merah yang telah ditetapkan petugas,” kata Martin.

Sementara Kepala Bidang Humas Polda Sumatera Utara Kombes Rina Sari Ginting menyebutkan, total ada delapan kecamatan di Kabupaten Karo yang terdampak letusan Seinabung.

Di antaranya Kecamatan Simpang Empat, Naman, Teran, Payung, Tiganderket, Kutabuluh, Munte, Tigabinanga, dan Kecamatan Juhar.

“Di 2018 ini, berdasarkan laporan yang masuk ke kita merupakan yang terdasyat dan tertinggi,” kata Rina, Senin (19/2/2018).

Ia menerangkan, di Kecamatan Simpang Empat ada lima desa yang terkena dampak. Di Kecamatan Naman Teran sembilan desa terdampak, Kecamatan Payung seluruh desa terdampak, dan Tiganderket seluruh desa terdampak.

Kemudian di Kecamatan Kutabuluh juga seluruh desa yang terdampak, di Kecamatan Munte ada sembilan desa, Tigabinanga tujuh desa, dan di Kecamatan Juhar lima desa yang terkena dampaknya.

“Saat erupsi terjadi, ketebalan abu di jalan mencapai 5 sentimeter dan jarak pandang ke depan kurang lebih 2 meter,” ucap Rina.

Besarnya letusan membuat sejumlah desa di Kabupaten Karo gelap gulita akibat tertutup material abu vulkanik.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karo Martin Sitepu mengatakan, desa-desa yang gelap gulita tersebut berada di sejumlah kecamatan, mulai dari Simpang Empat, Payung, Tiga Nderket, Naman Teran, hingga Munthe.

“Gelap gulita Karo sekarang ini. Warga juga kita imbau untuk selalu memakai masker,” ucap Martin.

Meski demikian, Martin mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak perlu panik. Sebab, menurut dia, kondisi tetap normal. Namun, Martin mengungkapkan bahwa dampak erupsi Gunung Sinabung kali ini sangat luar biasa, hingga menyebabkan sejumlah desa di Karo gelap gulita.

“Imbauan kita, warga menjauhi zona merah yang telah ditetapkan petugas,” kata Martin.

Sementara Kepala Bidang Humas Polda Sumatera Utara Kombes Rina Sari Ginting menyebutkan, total ada delapan kecamatan di Kabupaten Karo yang terdampak letusan Seinabung.

Di antaranya Kecamatan Simpang Empat, Naman, Teran, Payung, Tiganderket, Kutabuluh, Munte, Tigabinanga, dan Kecamatan Juhar.

“Di 2018 ini, berdasarkan laporan yang masuk ke kita merupakan yang terdasyat dan tertinggi,” kata Rina, Senin (19/2/2018).

Ia menerangkan, di Kecamatan Simpang Empat ada lima desa yang terkena dampak. Di Kecamatan Naman Teran sembilan desa terdampak, Kecamatan Payung seluruh desa terdampak, dan Tiganderket seluruh desa terdampak.

Kemudian di Kecamatan Kutabuluh juga seluruh desa yang terdampak, di Kecamatan Munte ada sembilan desa, Tigabinanga tujuh desa, dan di Kecamatan Juhar lima desa yang terkena dampaknya.

“Saat erupsi terjadi, ketebalan abu di jalan mencapai 5 sentimeter dan jarak pandang ke depan kurang lebih 2 meter,” ucap Rina.

http://news.liputan6.com/read/3302041/dahsyatnya-letusan-gunung-sinabung-ubah-siang-jadi-gulita?HouseAds&campaign=Rajut_News_STS1