Jumlah Pabrik yang Buang Limbah ke Sungai Citarum Terus Bertambah

0
84

Terus bertambahnya volume sampah di aliran Sungai Citarum Lama, diakui Komandan Sektor 6 Citarum Harum, Yudi Zanibar. Banyaknya sampah rumah tangga yang dibuang langsung ke sungai, membuat tim Satgas Sektor 6 Citarum Harum kesulitan membersihkan sungai.

Selain kurangnya kesadaran mas­yarakat, banyaknya saluran limbah ilegal juga mempersulit pembersihan sungai. “Kami sudah membersihkan aliran sungai ini sejak beberapa hari yang lalu. Namun hasilnya sampah kembali menumpuk di beberapa ­aliran anak Sungai Citarum,” kata Yudi, Senin, 5 Februari 2018.

Dia mengharapkan, warga bisa le­bih sadar terhadap kebersihan ling­kungan terutama warga yang tinggal di sepanjang bantaran Sungai Cita­rum. Dia mengimbau agar tidak membuang lagi sampah ke sungai. “Mari kita jaga bersama. Jangan membuang sampah ke sungai agar Sungai Citarum bisa kembali bersih seperti semula,” ucap dia.

Pegiat lingkungan Kabupaten Bandung Denny Suwandi yang terga­bung dalam relawan lingkungan Elemen Lingkungan (Elingan) Kabupaten Bandung mengatakan, penangan­an Sungai Citarum sebagai sungai terkotor dan terhitam di dunia, tidak cukup hanya dengan melakukan pem­bersihan sampah di aliran su­ngai. Perlu upaya penyadaran kepada masyarakat secara masif.

“Pengawasan kepada pelaku industri pun harus diperketat. Itu karena banyak pabrik yang membuang limbahnya ke Citarum. Jika penya­daran dan pengawasan lingkungan tidak dilakukan secara masif, stigma Citarum sebagai sungai terkotor dan terhitam akan terus nempel,” ujar­nya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat Anang Sudarna di Bojongsoang mengatakan, jumlah pabrik pencemar di aliran Sungai Citarum di wilayah Cekungan Bandung terus bertambah. Saat ini, sedikitnya 39 perusahaan terindikasi kuat membuang limbahnya ke aliran Sungai Citarum. Jumlah pabrik tersebut terdiri dari 31 pabrik yang diungkap Tim Survei Citarum Harum dan 8 lainnya hasil inspeksi mendadak DLH Jawa Barat.

“Kami rencananya akan mela­ku­kan sidak ke 49 perusahaan. Dari hasil sidak hingga 3 Februari 2018, kami mendapati 8 perusahaan ter­indikasi membuang limbahnya ke Sungai Citarum. Total ada 39 pabrik. Berdasarkan pengamatan visual, bau, warna limbah, temperatur, dan PH terindikasi melanggar. Ada per­usahaan tekstil dan lainnya,” ujar­nya.

Lebih lanjut Anang menuturkan, dari total 39 perusahaan tersebut satu perusahaan di Kota Cimahi me­nolak diperiksa oleh Dinas Ling­kungan Hidup Jawa Barat. Pihaknya bersama TNI dan polisi akan kembali memeriksa perusahaan tersebut. Sampel air dari perusahaan perusahaan yang menolak diperiksa tersebut saat ini sedang diuji laboratorium. Diharapkan pada Selasa, 6 Februari 2018 sudah keluar hasilnya.

Banjir cileuncang

Sementara itu, hujan yang melanda Kabupaten Bandung sejak Senin, 5 Februari 2018 pagi menimbulkan banjir cileuncang di beberapa titik. Sumbatan sampah membuat drainase tersumbat sehingga air meluap ke jalan.
Seperti di perempatan Jalan Raya Alfathu dekat kantor Pemkab Bandung, perempatan Jalan Raya Alfathu dekat balai Desa Soreang, dan perempatan Perumahan Gading Tutuka 1. Seorang warga, Zaenal, me­nga­takan, air juga membawa sampah sehingga jalan menjadi kotor. Drai­nase juga tak berfungsi meski baru saja diperbaiki.

Warga Perum Gading Tutuka 1, Agus, mengaku sudah kesal dengan banjir yang selalu terjadi setiap hujan turun. “Genangan banjir di Jalan Raya Gading Tutuka percis di depan pintu gerbang Perumahan Gading Tutuka 1 yang ketinggiannya bisa sete­ngah meter. Sudah bertahun-tahun banjir tak juga bisa diatasi,” ujarnya.***

http://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2018/02/06/jumlah-pabrik-yang-buang-limbah-ke-sungai-citarum-terus-bertambah-418943