Limbah Warna-warni dan Bau Masih Cemari Citarum di Majalaya

0
141

Ramai program “Citarum Harum” yang diangkat  Presiden RI Djoko Widodo tidak memengaruhi perilaku sejumlah pabrik tekstil dalam pengolahan limbah. Pada Jumat (16/3/18) sejumlah pabrik tekstil di Kec. Majalaya Kab. Bandung masih terlihat mengeluarkan limbah berwarna ungu dan berbau tak sedap langsung ke Sungai Citarum.

Sumber limbah tersebut tidak hanya berasal dari satu pabrik tekstil tetapi dari sejumlah pabrik  di sekitar Majalaya. Menurut warga sekitar, warna limbah itu berubah-ubah sesuai dengan warna kain yang sedang diproduksi oleh pabrik tekstil tersebut. Limbah itu dikeluarkan lewat gorong-gorong ertuliskan “PERHATIAN! Limbah Berbahaya Keluar dari Sini”.

Hal itu juga dikatakan oleh Ketua komunitas Elemen Lingkungan atau ELINGAN Deni Riswandani. “Warna yang dikeluarkan di pipa-pipa dan gorong-gorong itu tidak selalu hitam, kadang merah, biru, atau ungu,” katanya menjelaskan. Kang Deni, begitu sapaan bagi pria yang sudah menjadi ketua ELINGAN semenjak 2010 ini, juga menceritakan bahwa dia dan timnya sempat mengarungi cairan limbah berwarna biru di sekitar pembuangan limbah. “Kami rutin melakukan water patrol menggunakan perahu karet.”

Sementara itu, di perbatasan Desa Padamulya dan Sukamukti aliran limbah mengalir melalui sungai kecil yang sangat berdekatan dengan permukiman warga. Setiap hari warga terpaksa merasakan aroma tak sedap dari limbah pabrik tekstil yang berada dekat dengan rumah mereka. Seorang warga yang tak mau disebutkan identitasnya pun bercerita bahwa dua anak perempuannya mengalami batuk dan sesak napas akibat setiap hari terpaksa mencium bau limbah pabrik. Tidak adanya bantuan dan penyuluhan kesehatan dari pihak terkait memperparah keadaan warga. Beberapa warga bahkan masih membuang sampah ke sungai yang membuat aliran air sungai tersendat dan menyebabkan bau busuk semakin kuat.

Menurut kang Deni, dia dan anggotanya sudah sering memberikan informasi tentang pembuangan limbah di wilayah Majalaya kepada pemerintah, tapi tidak ada tindakan lebih lanjut. Komunitas ELINGAN dan TNI sudah sering melakukan pengintaian dan menemukan beberapa pelanggaran tapi wewenang untuk menutup dan memberikan peringatan kepada pabrik hanya bisa dilakukan oleh Polda Jawa Barat.