Empang di Hulu Citarik

0
58

Lokasi Empang adalah situ (danau kecil) di hulu sungai Citarik Gunung Masigit Kareumbi. “Itu dulu!” kata warga di sana. Dulu, mereka bisa berenang, menggunakan rakit, dan memancing ikan di sana. “Airnya cukup dalam. Enggak tahu sih berapa dalamnya mah. Pokoknya dulu mah warga bisa berenang di sana, rarakitan, dan mancing,” katanya.

https://drive.google.com/file/d/1A1ScyVVQiIq9q3i3V-i8jHtb6P9jpfHd/view

Ya…, itu dulu! Apa pun kondisinya, fakta saat ini empang sudah menjadi lapangan. Tinggal tersisa secuil kolam dan lahan rumput yang agak berair. Mata air yang sebelumnya ada di pojok di dekat rumpun bambu pun sudah tidak terlihat lagi, mungkin terkubur.

Penyebabnya? Tentu saja pelumpuran, sedimentasi, erosi, atau apa pun namanya yang turun dari lahan pertanian di atasnya. Pelumpuran ini sangat terasa dalam 3-4 tahun terakhir ketika petani mulai menggunakan plastik sebagai mulsa tanah. Selain itu, pengolahan tanah yang dilakukan juga seringkali memotong lereng. Hal itu menyebabkan air larian yang membawa lumpur semakin tinggi.

Kondisi serupa juga terjadi di Cigumentong, daerah yang lebih rendah dari Empang.  Terdapat lahan ENCLAVE Kp. Cigumentong (±30 hektar) dan populasi sekitar 18 KK. Kampung berbatasan langsung dengan kawasan konservasi TB Masigit Kareumbi.

Di sini, para petani menanam komoditas sayuran tumpang sari seperti cabai, tomat, dan kol. Pola guludan memotong kontur juga dilakukan sehingga mempercepat erosi permukaan. Petani menanam sayuran sampai di pinggir sungai sehingga beberapa titik mengalami erosi/longsor.

Berdasarkan delineasi yang dilakukan di atas citra Google Earth Maret 2018, didapatkan land use sebagai berikut:

Land Use Cigumentong
No Penggunaan Luas Satuan
1 Pertanian sayuran 17,6 hektare
2 Pemukiman 0,75 hektare
3 Hutan tanaman 9,35 hektare
TOTAL 27,7 hektare
  • Pemilik lahan belum semuanya teridentifikasi

https://www.google.com/maps/d/viewer?mid=1VFP0qGt3hcarTGcMHnOYuOL8UdEz9njM&ll=-6.946303408610834%2C107.92443250000008&z=16

Selain berakibat pada sedimentasi, pola pertanian di sana juga membuat masalah pencemaran karena muncul redisu pestisida, residu pupuk kimia, sampah domestik (plastik) dan warga tidak menggunakan septic tank (menggunakan kolam).

Kondisi tersebut masih bisa diperbaiki. Peluang konservasi masih tetap ada seperti;

a. Tutupan sekitar area masih cukup baik
b. Terdapat upaya penghijauan lahan di sebelah utara, dan pohonnya sudah mulai besar (pohon kayu Maesopsis eminii)
c. Terdapat upaya konservasi dengan pola Wali Pohon di sekitar batas kawasan-kampung.

Penanganan dapat dilakukan dengan cara;

a. Identifikasi tenurial -> tata guna lahan -> skema agroforestri
b. Sosialisasi tentang konservasi tanah -> identifikasi pengguna -> demplot pertanian ramah lingkungan -> Penggunaan kompos dan minimalisasi pestisida kimia
c. Develop sabuk hijau di pinggir bantaran sungai
d. Develop manajamen sampah (plastik) skala kecil
e. Pengukuran tingkat pencemaran limbah domestik (eq: fecal coliform) di kolam ikan milik warga dan identifikasi lebih lanjut apakah sudah mencemari sungai
f. Revitalisasi rawa/ranca Cigumentong sebagai retensi: identifikasi tenurial -> desain revitalisasi

rawa cigumentong 03-2018

Ranca Cigumentong (±3000 m2)