Home Artikel Artikel Kemanusiaan

Artikel Kemanusiaan

Dimana akan menampilkan seluruh POSTING yang masuk dalam category artikel kemanusiaan (letak pada header menu (ARTIKEL - Kemanusiaan) )

Sukamsi, Pendekar Mangrove dari Kebumen

0
sukamsi berkeliling di kawasan hutan mangrove yang ditanam sejak beberapa tahun lalu di pesisir Pantai Ayah dan pantai Logending, Kebumen, Jateng. Foto : L Darmawan

Sejatinya, Sukamsi, 43, awalnya merupakan pendamping anak-anak penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Sejak tahun 2003, Sukamsi melakukan advokasi terhadap anak-anak jalanan di terminal, stasiun, tempat wisata, jalanan dan lainnya. Sebelum bersama anak-anak PMKS, Sukamsi juga pernah berkecimpung di koperasi nelayan bersama anak-anak yatim, karena tidak sedikit orang tua dari anak-anak itu hilang di laut.

“Jadi sebetulnya saya ini sejak muda sebagai pendamping mereka yang tersisihkan. Mulai dari koperasi nelayan hingga anak-anak PMKS. Karena ternyata banyak anak yang jadi pemulung, pengamen, gelandangan dan lainnya. Saya mulai mendampingi mereka sejak tahun 2003 memiliki rumah singgah di Gombong, Kebumen,”kata lelaki kelahiran Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kebumen, Jawa Tengah (Jateng) itu.

Namun, dalam perjalanannya, tahun 2005, dirinya tak lagi mempunyai dana untuk menyewa rumah singgah di Gombong. Akhirnya bersama dengan anak-anak jalanan, ia “bedhol desa” ke daerah Ayah, Kebumen. “Kami sengaja memindahkan rumah singgah ke Ayah untuk menghemat anggaran. Karena pada waktu itu, sudah tidak punya uang lagi untuk menyewa rumah singgah di Gombong. Ada sekitar 27 anak-anak jalanan yang ikut serta pindah ke Ayah,”ujar Sukamsi yang memiliki gelar sarjana dan master di bidang ilmu hukum pidana tersebut.

sukamsi berkeliling di kawasan hutan mangrove yang ditanam sejak beberapa tahun lalu di pesisir Pantai Ayah dan pantai Logending, Kebumen, Jateng. Foto : L Darmawan
sukamsi berkeliling di kawasan hutan mangrove yang ditanam sejak beberapa tahun lalu di pesisir Pantai Ayah dan pantai Logending, Kebumen, Jateng. Foto : L Darmawan

Ia mencurahkan seluruh perhatiannya kepada anak-anak tersebut, terutama soal pendidikan mereka dan kebutuhan hidup sehari-hari. “Waktu itu, suasana sangat prihatin. Karena kami harus mencukupi kebutuhan harian dan memastikan mereka bersekolah. Sebab, ilmu dan pendidikan merupakan salah satu yang utama dalam kehidupan. Meski lewat kelompok belajar (Kejar) Paket, yang penting mereka mengeyam pendidikan,”tegasnya.

Dijelaskan oleh Sukamsi, meski sudah prihatin, namun mereka tetap bersyukur karena mereka bisa mendapatkan lauk dari ikan dan kepiting di sekitar Pantai Ayah. Tanpa diduga, ada bencana besar yakni gelombang tsunami yang menghantam perairan Kebumen pada tahun 2006. “Ketika pindah ke Ayah, sesungguhnya kondisi kami sudah berat. Ternyata, ada lagi cobaan yang kami alami, yakni bencana tsunami. Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa, namun dampak tsunami terhadap lingkungan sangat terasa,”ungkapnya.

Menurutnya, dampak tsunami cukup dahsyat, lingkungan di sekitar Pantai Ayah atau Logending benar-benar rusak. “Bahkan, ikan, udang, dan kepiting pun entah ke mana. Kalau dihitung-hitung, ada sekitar dua tahun, nelayan mengalami paceklik. Paceklik yang terjadi pasca tsunami juga kami rasakan, karena tidak gampang lagi memperoleh ikan atau kepiting di sekitar Pantai Ayah. Benar-benar kami survival untuk menghidupi 27 anak-anak jalanan ketika itu. Karena untuk mendapatkan lauk saja sangat susah payah,”kata Sukamsi.

Tanam Mangrove

Di tengah kerusakan lingkungan yang terjadi, Sukamsi bersama anak-anak jalanan dampingannya kerap masih bisa mendapatkan ikan dan kepiting. “Nah, yang sering terjadi kenapa kepiting biasanya diperoleh pada akar pohon mangrove, terutama yang besar. Karena hal tersebut kerap kami jumpai, maka kesimpulan awal adalah mangrove adalah pohon yang cocok bagi habitat kepiting. Dari situlah, kami memulai gerakan menanam,” kata Sukamsi.

Kawasan hutan mangrove di pesisir Pantai Ayah dan pantai Logending, Kebumen, Jateng yang kini menjadi penahan tsunami dan kawasan wisata. Foto : L Darmawan
Kawasan hutan mangrove di pesisir Pantai Ayah dan pantai Logending, Kebumen, Jateng yang kini menjadi penahan tsunami dan kawasan wisata. Foto : L Darmawan

Bersama dengan anak-anak dampingannya, Sukamsi mengajak mereka untuk memulai tanam pohon mangrove jenis apapun. “Meski kami tidak memiliki secara khusus bibit mangrove, tetapi gerakan menanam kami lakukan. Ada saja kami mendapatkan bibit, terutama di sekitar mangrove yang masih tersisa. Gerakan ini kami lakukan mulai akhir 2007 silam. Pokoknya, kalau ada lahan kosong harus ditanami. Penanaman dilakukan saat air surut,”jelasnya.

Ketika mulai menanam, lanjut Sukamsi, dirinya sudah memiliki masterplan saat mulai menghijaukan kawasan Pantai Ayah dengan pohon mangrove. “Yang pasti, di lokasi setempat lahan ada, tenaga dari anak-anak juga siap dan sedikit-sedikit ada juga bibit. Sementara saya sudah menyiapkan masterplan. Mulai dari perencanaan pemberdayaan ekonomi, estetika agar bisa jadi wisata hingga sebagai mitigasi bencana. Kami bekerja bareng menghijaukan kawasan ini dengan membawa nama ‘kelompok mangrove’,” ujarnya.

Meski upaya penanaman telah dilakukan sejak tahun 2007, namun pihaknya masih tetap kesulitan memperoleh bantuan bibit dari proposal yang diajukan. “Kami sadar, kalau anak-anak jalanan seperti ini sukar memperoleh kepercayaan. Jangankan kepercayaan dari pemerintah, orang tua mereka saja sulit memberi kepercayaan. Walau begitu, kami tetap bersemangat untuk terus menanam. Anak-anak melakukan penanaman, saya yang berfikir konsep ke depan,”kata dia.

Baru kemudian di tahun 2010, Pemerintah Desa Ayah mengakui keberadaan kegiatan tersebut. Sehingga dari sebelumnya, kelompok yang dinamakan “kelompok mangrove” berubah menjadi Kelompok Pecinta Alam Pantai Selatan (KPL Pansela). “Nah, tahun 2010 jugalah ada tawaran penghijauan dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut). Yang unik dari proposal yang kami ajukan adalah, pohon yang kami tanam tidak akan ditebang. Inilahnya mengapa kemudian, KPL Pansela menjadi salah satu kelompok yang memperoleh kepercayaan mendapatkan bantuan bibit,”ujar Sukamsi.

lokasi-pembibitan-pohon-mangrove di di pesisir Pantai Ayah, Kebumen, Jateng. Foto : L Darmawan
lokasi-pembibitan-pohon-mangrove di di pesisir Pantai Ayah, Kebumen, Jateng. Foto : L Darmawan

Dengan program Kebun Bibit Rakyat (KBR) tersebut, pada tahun itu juga KPL Pansela mulai menghijauan kawasan sekitar Pantai Logending. Jika sebelumnya hanya sedikit jumlah bibit yang ditanam, maka dengan adanya KBR, KPL Pansela mendapatkan kesempatan untuk menanam dengan jumlah 50 ribu bibit mangrove. Ada setidaknya 5 hektare lahan yang bisa dihijaukan.

“Selain menanam, kami juga terus membuat pembibitan, sehingga semakin banyak pohon mangrove yang dapat ditanam. Hingga kini setidaknya ada sekitar 35-50 ha lahan mangrove di wilayah ini. Kami menghijaukan tidak hanya di perairan Kebumen, tetapi juga di Cilacap, daerah yang berbatasan persis dengan Pantai Logending. Yang paling penting adalah menanam mangrove. Semakin luas kian bagus, karena tidak akan mengalami kerugian kalau terus menanam,”tambahnya.

Dampak Positif

Pada awalnya melakukan penanaman, anak-anak jalanan yang tergabung dalam KPL Pansela itu dicibir. Bahkan, sampai sekarang juga masih ada yang berpikiran negatif. Namun, upaya yang baik tentu saja harus terus berjalan. “Kalau itu baik, kenapa tidak. Apalagi, hingga kini dampak positif telah dirasakan oleh warga dan nelayan sekitar,”ungkap Sukamsi.

Dengan adanya mangrove yang mulai tumbuh dan berkembang hingga puluhan ha tersebut, maka dampak positifnya mulai dirasakan. “Misalnya saja warga di sekitar Pantai Logending khususnya petani bisa tanam padi. Sebab, dengan adanya hutan mangrove, maka air laut tidak lagi masuk ke sawah, sehingga sawah airnya tawar. Selain itu, angin dari laut tidak lagi membawa titik-titik air yang membuat korosi barang milik warga,”jelasnya.

Di sisi lain, nelayan juga mendapat keuntungan. Sebab, dengan adanya hutan mangrove, maka lumpur dari Kali Bodo yang biasanya langsung masuk ke laut tertahan di kawasan mangrove. “Lumpur yang bisa ditahan di area hutan mangrove, maka terumbu karang bisa bertumbuh. Setidaknya ada tiga titik yang kini terumbu karangnya berkembang. Sebab, dengan pertumbuhan terumbu karang, lobster bakal juga muncul,” kata dia.

Kawasan hitan mangrove yang berada disekitar Pantai Logending dan Pantai Ayah, Kebumen, Jateng. Foto : L Darmawan
Kawasan hitan mangrove yang berada disekitar Pantai Logending dan Pantai Ayah, Kebumen, Jateng. Foto : L Darmawan

Menurut Sukamsi, hutan mangrove juga menjadi tempat perkembangbiakan ikan. Bahkan, ikan bawal putih atau baramundi yang sempat hilang, kini sudah muncul lagi. “Ikan baramundi merupakan ikan khas payau tersebut biasa ditemukan di sekitar mangrove. Harganya cukup lumayan mencapai Rp50 ribu per kilogram (kg). Ikan jenis lain juga muncul, serta kepiting gampang dicari. Ternyata dengan mangrove tumbuh baik, secara ekonomi juga bisa meningkatkan pendapatan nelayan karena tangkapan melimpah,”ungkapnya.

Sukamsi menuturkan hutan mangrove berfungsi juga sebagai penahan laju gelombang tsunami. “Dengan adanya pengalaman gelombang tsunami tahun 2006, maka diperlukan hutan mangrove sebagai penahan gelombang tsunami. “Khusus hutan mangrove di Pantai Logending ini juga telah menjadi destinasi wisata selain pantai. Sudah banyak yang datang ke sini menikmati kawasan mangrove. Tidak hanya berasal dari Kebumen, tetapi juga Cilacap, Purworejo, Purwokerto dan lainnya. Pengelola wisata oleh KPL Pansela. Ongkos naik perahu juga murah hanya Rp10 ribu, sedangkan masuknya ditarik Rp5 ribu. Itu belum formal, hanya sebatas sumbangan saja,”tambahnya.

Sumer : www.mongabay.co.id

 

Gunung Barujari Meletus, 389 Wisatawan Masih di Atas Gunung Rinjani

0
Kontributor Mataram, Karnia Septia Suasana di Bandara Internasional Lombok, Selasa (27/9/2016)
Kontributor Mataram, Karnia Septia Suasana di Bandara Internasional Lombok, Selasa (27/9/2016)
Kontributor Mataram, Karnia Septia
Suasana di Bandara Internasional Lombok, Selasa (27/9/2016)

MATARAM, KOMPAS.com

– Sekitar 389 wisatawan masih berada di atas gunung Rinjani saat gunung Barujari di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) meletus, Selasa (27/9/2016) siang.Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.commenyebutkan, berdasarkan informasi sementara dari Seksi Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) sejak 25-27 September 2016 terdapat 389 orang wisatawan, yaitu 333 orang wisatawan mancanegara dan 56 orang wisatawan lokal yang dilaporkan melalui pintu masuk Sembalun.

Saat ini, BPBD Provinsi NTB bersama BPBD Lombok Timur, TNGR, Kepolisian, Pos Pengamatan Gunung Rinjani, dan relawan masih melakukan koordinasi untuk mengetahui kondisi wisatawan yang masih berada di gunung Rinjani.

Terkait peningkatan aktivitas vulkanik gunung Barujari (anak gunung Rinjani), PVMBG meminta kepada masyarakat di sekitar gunung dan pengunjung tidak diperbolehkan beraktivitas di dalam kaldera Gunung Rinjani radius 3 kilometer dari kawah gunung Barujari.

Dengan adanya rekomendasi tersebut, maka semua wisatawan atau pengunjung harus keluar dari radius 3 kilometer dari gunung Rinjani.

Pada 25 Oktober 2015 lalu saat Gunung Rinjani ditetapkan status waspada, petugas mengevakuasi paksa 1.113 orang wisatawan dari zona berbahaya.

Sementara itu, berdasarkan hasil analisis sata visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bencana, maka PVMBG menaikkan status gunung Rinjani dari normal aktif (level I) menjadi waspada (level II) terhitung sejak Selasa (27/9/2016) pukul 15.00 Wita.

Penulis : Kontributor Mataram, Karnia Septia
Editor : Farid Assifa

Sumber : regional.kompas.com

Kampanye Anti Perburuan Satwa Liar di Hutan Mangrove Muara Gembong

0

PROFAUNA Indonesia mengadakan rangkaian kampanye bertajuk “Stop berburu satwa di hutan mangrove Muara Gembong” di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (1/9). PROFAUNA Indonesia menilai edukasi di ujung utara Jawa Barat ini perlu dilakukan mengingat habitat hutan mangrove Muara Gembong terus terancam. Kondisi ini ditandai dengan merosotnya populasi primata, khususnya lutung jawa, selama dua puluh tahun terakhir akibat perburuan dan alih fungsi hutan mangrove.

Edukasi dilakukan melalui edukasi ke SMP Negeri 1 Muara Gembong, SMP dan SMA Pelita Bangsa-Muara Gembong secara marathon, dilanjutkan dengan melakukan pemasangan spanduk edukasi di dua titik yang menjadi lokasi favorit perburuan. Kegiatan ditutup dengan pengamatan primata di hutan mangrove Muara Bendera – Muara Gembong.

“Ini adalah edukasi pertama PROFAUNA ke Muara Gembong, selanjutnya kami akan mengembangkan program berkelanjutan yang didesain khusus berdasarkan situasi dan kondisi di sini. Targetnya populasi lutung jawa yang merupakan satwa endemik di sini bisa ditingkatkan, habitatnya pun bisa kita upayakan bisa menyokong kehidupan mereka,” jelas Rinda Aunillah Sirait, Koordinator PROFAUNA Indonesia Representatif Jawa Barat.img-20160901-wa0015

Kegiatan edukasi ini tergolong unik karena dilakukan secara marathon dengan keterbatasan akses transportasi. Bahkan, Supporter PROFAUNA Indonesia harus menggunakan perahu kayu selama 30 menit untuk menjangkau lokasi SMP dan SMA Pelita Bangsa yang berada dekat dengan kawasan hutan mangrove Muara Bendera, Kecamatan Muara Gembong. Lokasi sekolah itu relatif jauh dari akses jalan yang bisa dilewati kendaraan roda empat.

Kegiatan edukasi  ini medapat dukungan pegiat konservasi hutan mangrove setempat. Mpok Kabupaten Bekasi 2016, Siti Rohimah, bahkan turut mendampingi seluruh rangkaian edukasi di Muara Gembong.

“Saya mendukung aksi PROFAUNA Indonesia yang mau membantu memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga ekosistem hutan mangrove terakhir di Kabupaten Bekasi,” tutur Imah, panggilan akrabnya.

Pasang Spanduk dan Poster Larangan Berburu

Maraknya kegiatan perburuan di kawasan hutan mangrove Muara Gembong telah meresahkan masyarakat setempat. Sejumlah warga Muara Gembong mengaku setidaknya selama dua puluh tahun terakhir populasi satwa di hutan mangrove turun drastis.

“Dulu saat saya kecil mudah sekali melihat elang terbang di langit desa kami. Selain itu dulu jumlah lutung jawa di hutan mangrove Muara Bendera pernah sampai seribuan lebih, sekarang sedikit sekali. Mungkin tidak sampai seratus,” ujar Yoyok, guru SMP Negeri 1 Muara Gembong.

Mengantisipasi hal ini, PROFAUNA Indonesia berinisiatif memasang berbagai materi edukasi berisi peringatan tidak berburu satwa di hutan mangrove Muara Gembong.  Dr. Herlina Agustin, MT, Advisory Board PROFAUNA Indonesia yang terjun langsung memimpin pemasangan materi edukasi di Muara Gembong.

img-20160901-wa0018

Herlina menjelaskan untuk tahap awal, PROFAUNA Indonesia Representatif Jawa Barat melakukan upaya penyadaran untuk tidak berburu di kawasan hutan mangrove Muara Gembong. Pihaknya akan berupaya terus mengembangkan upaya perlindungan ekosistem secara bertahap, salah satunya dengan mendukung kegiatan pelestarian yang tengah dilakukan aktivis konservasi setempat.

“Kondisi ekosistem hutan mangrove di Muara Gembong perlu mendapat perhatian bersama. Perlu adanya kajian khusus terkait populasi satwa, kondisi habitat dan potensi lokal yang bisa diberdayakan untuk melindungi ekosistem hutan mangrove Muara Gembong. Setelah itu kita kembangkan strategi konservasi yang tepat,” jelas Herlina.

PROFAUNA Indonesia memasang spanduk larangan berburu di hutan mangrove Muara Bendera dan sekitar Pantai Bahagia yang kerap menjadi titik perburuan ataupun lokasi transit pemburu. Selain itu, puluhan poster larangan berburu disebar ke sejumlah sekolah, mading kecamatan, balai desa dan lokasi berkumpul warga yang kerap dikunjungi pemburu.

“Kami akan membantu memasang poster dari PROFAUNA ini di lokasi-lokasi strategis agar pesannya terbaca oleh warga secara luas,” ujar Uci, aktivis konservasi Muara Gembong.

img-20160901-wa0014

Sumber: www.progfauna.net

BNPB: Erupsi Gunung Gamalama Masih Berlanjut

0
Puncak Gunung Gamalama mengeluarkan asap solfatara terlihat di Ternate, Maluku Utara, Minggu (28/12). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM masih menetapkan status Gunung Gamalama pada level III atau siaga sejak gunung tersebut bererupsi menyemburkan abu vulkanik pada Kamis, 17 Desember. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/Rei/NZ/14.
Puncak Gunung Gamalama mengeluarkan asap solfatara terlihat di Ternate, Maluku Utara, Minggu (28/12). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM masih menetapkan status Gunung Gamalama pada level III atau siaga sejak gunung tersebut bererupsi menyemburkan abu vulkanik pada Kamis, 17 Desember. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/Rei/NZ/14.
Puncak Gunung Gamalama mengeluarkan asap solfatara terlihat di Ternate, Maluku Utara, Minggu (28/12). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM masih menetapkan status Gunung Gamalama pada level III atau siaga sejak gunung tersebut bererupsi menyemburkan abu vulkanik pada Kamis, 17 Desember. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/Rei/NZ/14.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa erupsi Gunung Gamalama terus berlanjut dan hujan abu masih terjadi di beberapa wilayah.

“Otoritas Bandara Babullah di Ternate memperpanjang penutupan bandara hingga Jumat (5/8). Keputusan buka atau tutup bandara disesuaikan dengan kondisi erupsi Gunung Gamalama dan hujan abu besok pagi,” kata Kepala Pusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui siaran pers di Jakarta, Kamis.

Berdasarkan informasi dari Pos Pengamatan Gunung Gamalama PVMBG, Kamis, pengamatan visual pada pukul 06.50 WIT, embusan abu keluar dari kawah puncak bagian timur menuruni lereng Timur.

“Dari pengukuran seismik tidak terekam adanya gempa-gempa vulkanik yang menunjukkan bahwa embusan abu ini merupakan pelepasan tekanan dari energi sisa erupsi sehari sebelumnya,” katanya.

Erupsi Gunung Gamalama, kata dia, menyebabkan hujan abu di beberapa kelurahan di Kota Ternate, seperti Kelurahan Salero, Soa Sio, Sangaji, Dufa-Dufa, dan beberapa kelurahan di Kecamatan Ternate Tengah.

“Masyarakat belum perlu mengungsi. Masyarakat di sekitar Gunung Gamalama dan pengunjung atau wisatawan tidak diperbolehkan mendaki dan mendekati kawah yang ada di puncak Gunung Gamalama dalam radius 1,5 kilometer,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa kondisi aktivitas masyarakat berjalan normal. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku Utara, BPBD Kota Ternate dan unsur pemerintah daerah, kata dia, telah memberikan bantuan masker.

“Total 10.000 lembar masker sudah dibagikan kepada masyarakat. Mobil-mobil tangki dikerahkan untuk menyemprot jalan dan bandara agar tidak tertutup abu vulkanis,” katanya.

Sumber : Antara

10 Ribu Masker Dibagikan Pasca-erupsi Gunung Gamalama

0
Gunung Gamalama meletus
Gunung Gamalama meletus
Gunung Gamalama meletus

Liputan6.com, Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membagikan 10.000 masker ke masyarakat untuk mengantisipasi abu vulkanikGunung Gamalama.

Akibat erupsi Gunung Gamalama pada Rabu 3 Agustus 2016, hampir sebagian besar kelurahan di Kecamatan Ternate Utara dan Kecamatan Ternate Tengah tertutup abu vulkanik.

“Beruntung, hujan yang turun pada siang hari membuat abu vulkanik larut ke dalam aliran permukaan dan tidak beterbangan tertiup angin,” ujar Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulisnya, Kamis (4/8/2016), di Jakarta.

Sementara itu, pembersihan Bandara Babullah di Kota Ternate dilakukan dengan menyemprot landas pacu hingga Rabu malam. Petugas mengerahkan beberapa mobil tanki air untuk membersihkan bandara. Jika tidak ada erupsi susulan yang lebih besar di Gunung Gamalama, kemungkinan hari ini Bandara Babullah dibuka dan beroperasi kembali.

Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Gamalama PVMBG pada Rabu 3 Agustus 2016, selama pukul 12.00-18.00 WIB aktivitas vulkanik masih labil dan fluktuatif. Terjadi satu kali gempa tektonik lokal dengan amplitudo maksimum 49 mm dan lama gempa 50.10 detik.

Satu kali gempa hembusan dengan amplitudo maksimum 6 mm, dan lama gempa 10.66 detik. Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-2 mm, dominan 1.5 mm.

Sementara, pengamatan secara visual asap berwarna kelabu tebal dengan ketinggian 300-800 m ke arah timur sampai selatan. Saat ini status Gunung Gamalama masih tetap waspada atau level II. Masyarakat sekitar dan wisatawan dilarang mendaki dan mendekati kawah yang ada di puncak Gunung Gamalama dalam radius 1.5 km.

Gempa Tektonik di Dompu Diduga Picu Aktivitas Gunung Rinjani

0
AFP PHOTO / PIKONG Foto yang diambil pada 1 November 2015 ini menunjukkan gunung Baru Jari menyemburkan abu vulkani seperti dilihat dari Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Aktivitas Gunung Baru Jari (2.375 mdpl) terus meningkat dan berstatus waspada.
AFP PHOTO / PIKONG Foto yang diambil pada 1 November 2015 ini menunjukkan gunung Baru Jari menyemburkan abu vulkani seperti dilihat dari Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Aktivitas Gunung Baru Jari (2.375 mdpl) terus meningkat dan berstatus waspada.
AFP PHOTO / PIKONG
Foto yang diambil pada 1 November 2015 ini menunjukkan gunung Baru Jari menyemburkan abu vulkani seperti dilihat dari Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Aktivitas Gunung Baru Jari (2.375 mdpl) terus meningkat dan berstatus waspada.

JAKARTA, KOMPAS.com

– Gempa tektonik di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, Senin pagi diduga memicu aktivitas vulkanik Gunung Rinjani. Kondisi Gunung Barujari yang belum stabil masih dapat terpengaruh oleh gempa tektonik.”Kami menduga bahwa peningkatan aktivitas (Gunung Rinjani) saat ini ada pengaruhnya dari gempa tektonik tersebut,” kata Kepala Subbidang Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Devi Kamil Syahbana kepada Kompas.com, Senin (1/8/2016).

Mengapa Gunung Tambora dan Sangeangapi belum terpicu, mengapa Rinjani yang lebih jauh justru mengalami peningkatan aktivitas?

“Dalam seismologi gunung api, dipahami bahwa sistem gunung api yang labil akan lebih rentan terpicu gempa tektonik. Rinjani saat ini belum betul-betul sampai di keseimbangannya, buktinya masih ada asap terus keluar, oleh karenanya begitu tergoncang gempa bumi,” kata Devi.

Ia menyebut, pasca-erupsi Rinjani pada kuartal akhir 2015 lalu, aktivitas erupsi kecil masih terjadi sesekali. Menurutnya, hal itu disebabkan Rinjani memiliki karakter erupsi yang lama dan pasca-erupsi puncaknya sendiri membutuhkan waktu untuk kembali ke keseimbangannya.

“Kami masih menganalisis apakah peningkatan ini sifatnya menerus (diikuti oleh letusan yang signifikan) atau transient(sementara, akan menurun kembali karena aktivitasnya yang hanya dipicu gempa),” jelasnya.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutupo Purwo Nugroho dalam siaran pers yang diterima Kompas.com mengatakan guncangan gempa bumi di Kabupaten Dompu menyebabkan tekanan dari dalam perut Gunung Rinjani sehingga menimbulkan letusan.

Seperti diketahui, gempa mengguncang Dompu, Nusa Tenggara Barat pada pukul 06.40 WIB. Gempa itu berkekuatan M 5,7. Saat ini, aktivitas vulkanik anak Gunung Rinjani turut mengakibatkan penutupan Bandara Internasional Lombok.

Akun Twitter Kementerian Perhubungan, Senin sore, menyebutkan bahwa penutupan bandara itu dilakukan mulai hari ini pukul 16.55 Wita hingga Selasa (2/8/2016) pukul 10.00 Wita.

“Penutupan BIL diperpanjang sampai jam 10.00 Wita tanggal 2 Agustus 2016 karena sebagian debu vulkanik sudah masuk di area bandara,” demikian pernyataan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Senin.

Penulis : Wahyu Adityo Prodjo
Editor : Yunanto Wiji Utomo

Sumber: www.sains.kompas.com

GEMPABUMI SESAR AKTIF GUNCANG PURWOREJO DAN SEKITARNYA

0

13707582_10154358078019931_7065154738453337060_n

HARI Senin, tanggal 18 Juli 2016, pada pukul 05.59.00 WIB, wilayah Purworejo dan sekitarnya diguncang gempabumi tektonik dengan kekuatan M=3,6 Skala Richter. Pusat gempabumi ini terletak pada koordinat 7.62 lintang selatan dan 109.92 bujur timur, tepatnya di daratan pada jarak sekitar 18 kilometer arah barat laut Kota Purworejo pada kedalaman hiposenter 13 kilometer.

Berdasarkan hasil analisis peta tingkat guncangan (shake map) BMKG, dampak gempabumi ini menimbulkan guncangan pada I Skala Intensitas Gempabumi BMKG (SIG-BMKG) atau II skala intensitas Modified Mercally Intensity (MMI) di hampir seluruh wilayah Purworejo, Wonosobo, Magelang, dan Kebumen. Gempabumi ini tercatat dengan baik oleh peralatan BMKG dan di berbagai daerah tersebut beberapa orang dilaporkan merasakan guncangan gempabumi.

Meskipun dampak gempabumi tidak signifikan, tetapi peristiwa gempabumi ini menarik untuk dikaji, karena sebelumnya pada tanggal 11 Juli 2016, di tempat yang sama juga terjadi gempabumi dengan kekuatan M=3,5 Skala Richter dan M=2,9 Skala Richter.

Secara tektonik, perlu kita pahami bahwa kondisi tektonik regional wilayah Jawa Tengah juga dikontrol oleh dinamika tunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia di selatan Jawa. Akibat tunjaman lempeng tersebut terbentuklah struktur-struktur geologi regional berupa sesar aktif di wilayah daratan Jawa Tengah. Sebagai contoh, struktur tersebut dapat diamati di antaranya adalah pola Sesar Kebumen – Semarang – Jepara. Lajur seismotektonik sesar di zona ini umumnya berarah baratdaya-timurlaut.

Peristiwa gempabumi yang mengguncang Purworejo dan sekitarnya pagi ini merupakan gempabumi kecil (minor) yang berkedalaman dangkal. Jika kita perhatikan Peta Geologi Lembar Kebumen, tampak bahwa di zona gempabumi yang lokasinya berada di sebelah utara Kutoarjo terdapat struktur lipatan dan sesar.

Struktur sesar yang ada di sebelah utara Kutoarjo ini dikenal sebagai Sesar Rebung. Sehingga dengan kedalaman hiposenter 10 – 16 kilometer, maka gempabumi yang terjadi pagi ini kembali dipicu oleh aktivitas sesar aktif. Struktur sesar yang diduga aktif adalah Sesar Rebung yang struktur sesarnya paralel dengan Sungai Rebung yang melintasi Wilayah Desa Karang Tengah di Selatan dan Wilayah Kecamatan Bruno di Utara.

Dari hasil monitoring BMKG selama satu jam paska gempabumi belum terjadi gempabumi susulan. Untuk itu masyarakat Purworejo dan sekitarnya dihimbau agar tetap tenang mengingat gempabumi yang terjadi hanya berupa guncangan lemah dan tidak tidak menimbulkan kerusakan.***

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG
Twitter: @daryonobmkg

Sumber: Fanpage resmi BMKG

Gempabumi Kandawangan KALBAR Dipicu Sesar Aktif

0

HARI Jumat 24 Juni 2016, gempabumi tektonik mengguncang kuat Daerah Kandawangan, Ketapang, Kalimantan Barat. Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempabumi terjadi pada pukul 07.41.36 WIB dengan kekuatan M=5,0 dengan episenter terletak pada koordinat 2,61 LS dan 110,19 BT, tepatnya di darat pada jarak sekitar 10 kilometer arah baratdaya Kota Kandawangan, Ketapang, Kalimantan Barat pada kedalaman hiposenter 10 kilometer.

Efek gempabumi yang didasarkan oleh Peta Tingkat Guncangan (shake map) BMKG menunjukkan bahwa wilayah terdampak gempabumi di Kota Kandawangan dan sekitarnya mengalami guncangan pada skala intensitas V-VI MMI (III SIG-BMKG) artinya getaran dirasakan oleh semua penduduk, kebanyakan orang terkejut dan lari keluar dan kerusakan ringan pada bangunan rumah dapat terjadi. Menurut laporan banyak warga setempat panik dan berlarian keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Laporan terbaru menyebutkan terjadi kerusakan ringan pada beberapa bangunan rumah di Kandawangan sebagai dampak gempabumi ini.

Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa berdasarkan kedalaman hiposenternya yang cukup dangkal menunjukkan bahwa gempabumi ini disebabkan oleh aktivitas sesar aktif. Karena hiposenter berada di kedalaman 10 kilometer maka gempabumi ini disebut sebagai gempabumi dangkal, sehingga wajar jika guncangan gempabumi ini di rasakan cukup kuat di Kota Kandawangan dan sekitarnya yang lokasinya paling dekat dengan pusat gempabumi.

Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempabumi ini dibangkitkan oleh aktivitas sesar aktif. Kondisi ini sesuai dengan data geologi setempat yang menunjukkan bahwa di daerah ini terdapat struktur tektonik berupa lipatan, sesar, dan kelurusan. Lipatan umumnya berarah timur-barat. Sementara itu, di zona ini sistem sesar tidak berkembang dengan baik, hanya berupa sesar-sesar mikro yang umumnya berarah timur-barat. Kelurusan umumnya juga berarah timurlaut-baratdaya dan barat-timur.

Berdasarkan monitoring BMKG, hingga penjelasan ini disampaikan, sudah terjadi satu kali gempabumi susulan. Kepada masyarakat Kandawangan dan sekitarnya, dihimbau agar tetap tenang sambil mengikuti arahan BPBD dan BMKG, serta tidak terpancing isu karena gempabumi susulan yang terjadi kekuatan semakin kecil dan tidak ada potensi akan terjadinya gempabumi yang lebih besar.***

Dr. DARYONO, S.Si.,M.Si.
Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG
Twitter: @daryonobmkg

13501667_10154293043979931_6442208563896931834_n

Sumber: Facebook www.bmkg.go.id

Peta Direvisi, Sumber Baru Gempa Ditemukan

0

peta_gempa1

KOMPAS.com –  Riset terbaru menemukan data dan sumber gempa baru di sejumlah wilayah Indonesia dengan potensi kekuatan lebih besar daripada perhitungan sebelumnya. Sebagian sumber gempa itu berpotensi menimbulkan dampak pada kota-kota besar di Indonesia, termasuk Jakarta dan Surabaya.

Temuan ini mengubah peta gempa Indonesia, sekaligus menuntut perubahan standar bangunan dan tata ruang, serta manajemen mitigasi bencana.

”Banyak gempa besar di Indonesia di luar ekspektasi para ahli. Misalnya gempa Aceh 2004, Yogyakarta 2006, Padang 2009, dan gempa Samudra Hindia 2012. Dari riset terbaru, kami menemukan sejumlah sumber gempa baru belum masuk peta gempa,” kata Irwan Meilano, ahli gempa dari Institut Teknologi Bandung, di Jakarta, Minggu (29/5/2016).

Sumber gempa baru terutama di zona Banda-Flores, sesar Sumatera, sesar di Jawa, gempa dari zona subduksi selatan Jawa, dan sesar aktif memanjang dari utara laut Pulau Bali sampai daratan Jawa bagian utara. ”Temuan baru kegempaan ini akan diuji publik, Senin (30/5/2016) dan Selasa (31/5/2016), di Jakarta, untuk revisi peta gempa nasional,” kata Irwan, yang juga Koordinator Geodesi, Tim Pemutakhiran Gempa Indonesia.

Untuk daerah Banda dan Flores, ancaman gempa terutama dari zona subduksi di selatan. ”Hasil riset terbaru kami menunjukkan, pergerakan di sebelah utara (back arc Bali-Wetar) lebih aktif. Potensi gempa dari utara Bali hingga Pulau Wetar di atas magnitudo (M) 8,” ujarnya.

Patahan di utara Bali itu dideteksi menerus ke barat hingga di daratan Jawa bagian utara, atau dikenal Sesar Kendeng. Kecepatan gerakan Sesar Kendeng 5 mm per tahun, dan bisa berdampak pada Kota Surabaya.

Di Jawa Barat, riset terbaru sesar Lembang, yang diprediksi memicu gempa kekuatan maksimal magnitudo 6,4, kini direvisi jadi maksimal magnitudo 7. ”Ada bukti, gempa yang merusak di Jawa Barat pada 1450 bersumber dari sesar ini,” ujarnya.

Untuk sesar Sumatera, revisi terutama akan dilakukan bagi zona sesar darat di Aceh dan Lampung. ”Dulu sesar Aceh dinilai rendah aktivitas dengan pergerakan 2 mm per tahun, kini ditemukan kekuatan gerak 20 mm per tahun atau 10 kali. Pergerakan sesar Sumatera di Lampung 8 kali lebih aktif dari hitungan sebelumnya,” katanya.

Ancaman Jakarta

Untuk Jakarta, data menunjukkan kota itu pernah hancur besar akibat gempa pada 1699. Selain dari sesar Baribis yang memicu gempa merusak pada 1780, gempa kemungkinan dari zona subduksi selatan Jawa, kekuatan lebih besar daripada perhitungan sebelumnya. ”Data terbaru, gempa subduksi di selatan Jawa kekuatan minimal M 8,5, dari sebelumnya diperkirakan maksimal M 8,1,” kata Irwan.

Riset oleh ahli paleotsunami Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Eko Yulianto, di selatan Jawa menemukan jejak tsunami besar di masa lalu. ”Kami menemukan deposit tsunami raksasa di Binuangun, Kabupaten Lebak (Banten) dan Widoropayung, Cilacap (Jawa Tengah) pada masa hampir bersamaan, 300 tahun lalu,” ucapnya.

Berdasarkan jarak lokasi deposit tsunami lebih dari 500 km, gempa pemicunya diduga amat kuat. ”Panjang rupture (bidang yang retak) pemicu tsunami setara gempa di Sendai, Jepang, pada 2011. Perkiraan gempa di atas magnitudo 9,” ujarnya.

Gempa kuat dari selatan Jawa memicu kehancuran di Jakarta. Menurut katalog gempa Arthur Wichman (1918), gempa amat kuat di Jakarta, 5 Januari 1699, pukul 01.30, merobohkan banyak bangunan dan memicu longsor besar di Gunung Gede-Pangrango dan Salak. (AIK)
Sumber : Kompas.com, 30 Mei 2016

Sivitas Terkait : Dr. Eko Yulianto

 

Sumber: www.lipi.go.id

Gunung Sinabung Kembali Meletus, Brastagi Bakal Diguyur Hujan Abu

0
gunung-sinabung-kembali-meletus-brastagi-bakal-diguyur-hujan-abu-smtYmXBJLb
Gunung Sinabung. (Foto: BBC Indonesia)

KARO – Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali bergejolak pagi ini, Kamis 26 Mei 2016. Sekira pukul 08.40 WIB, gunung tersebut kembali meletus.

Gunung Sinabung memuntahkan awan panas ke Tenggara dan Timur sejauh 2,5 KM dan 700 meter ke arah Selatan. Abu Vulkanis yang dilontarkannya diperkirakan akan menghujani Kota Berastagi.

Petugas PVMBG yang memantau Gunung Sinabung, Hendra Gunawan mengatakan aktivitas gunung tersebut beberapa hari ini memang terus mengalami peningkatan. Kegempaan masih sering dimunculkannya.

Oleh karena itu, pihak PVMBG mengimbau warga agar tidak memasuki atau beraktivitas di zona bahaya Sinabung. Sebab, aktivitas gunung tersebut bisa saja mengalami peningkatan yang signifikan dan berbahaya.

(abp)

Sumber: www.news.okezone.com

Wali Pohon - MDC Wanadri

0FansLike
815FollowersFollow
4,673SubscribersSubscribe

Podcasts

Latest sermons

Block title