Home Artikel Artikel Lingkungan

Artikel Lingkungan

Dimana akan menampilkan seluruh POSTING yang masuk dalam category artikel lingkungan (letak pada header menu (ARTIKEL - Lingkungan) )

Yuk, Jadi Wisatawan yang Bijak Lingkungan

0
Bidadari Halmahera, yang begitu menarik perhatian. Foto: Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata

Ingin menjajal petualangan baru wisata alam? Cobalah sesekali melongok kekayaan hutan dan laut yang ada di taman nasional kita. Saat ini, terdapat 53 taman nasional yang berjajar dengan segala keunikan dan keragaman hayatinya, dari Sumatera hingga Papua.

“Masing-masing punya keunikan dan kekayaan yang berbeda. Taman Nasional membutuhkan dukungan kita semua. Kunjungi dan jaga kelestariannya. Cintai dengan benar,” ujar Kepala Bagian Penyajian dan Pelayanan Informasi Publik, Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kuswandono Tedjosiswojo dalam peluncuran start up agen perjalanan Sebumi.id di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu  lalu.

Menurut Kuswandono, Indonesia mengadopsi cara pengelolaan taman nasional seperti di Amerika Serikat yang sudah berlangsung lama. Kesuksesan pengelolaan taman nasional, tidak hanya dari kelestarian tetapi juga memberikan kesejahteraan terhadap masyarakat di sekitarnya, tanpa mengambil langsung hasil dari hutan.

“Untuk agen perjalanan, misalnya operator hanya sampai gerbang. Selanjutnya, dilaksanakan masyarakat lokal.”

Baca: Ayo, Saatnya Kita Jelajah Taman Nasional

Kampanye mengunjungi taman nasional ini yang dimanfaatkan Iben Yuzenho, pendiri Sebumi. Anak muda ini bersama teman-temannya, mendirikan agen perjalanan wisata dengan titik fokus taman nasional.

Dalam menawarkan jasanya, start up ini membranding konsep penguatan story telling dan desain. “Kami percaya, cerita para traveler lebih kuat ketimbang membaca informasi yang formal,” ujar Iben.

Sejak dikembangkan 2015, Iben berusaha menanamkan nilai-nilai kecintaan pada lingkungan dan alam. Mereka pun memberikan gimmick di sela perjalanan seperti tumbler minuman untuk mencegah penggunaan botol plastik minuman sekali pakai. Ada juga menanam pohon (tergantung destinasi wisata taman nasionalnya), serta memberikan sabun atau sampo organik. “Kami rencanakan nanti ada insentif harga atau diskon, misalnya dari setoran sampah selama perjalanan,” ujarnya.

Iben memulai wisata berbasis lingkungan ini dari kecintaannya terhadap alam, karena sering mengunjungi berbagai taman nasional. Ditambah lagi, pengalaman kakaknya sebagai ranger di taman nasional dan penyidik kehutanan. “Saya iri, dulu saat berkunjung ke Taman Nasional Gunung Palung pengunjungnya hanya 1.800 orang. Sementara di Serawak, yang sama-sama punya orang utan, aliran sungainya juga sama, pengunjungnya lebih dari 60 ribu,” ujarnya.

Perjalanan wisata berbasis lingkungan ini juga dirasakan artis dan musisi Lala Karmela. Beberapa waktu lalu dia bersama Sebumi.id merasakan perjalanan mengeksplorasi tempat wisata di Sumba. Penyanyi dan aktris film Bukaan 8 ini mengaku senang dan mendapatkan pengalaman yang berbeda. ”Senang bisa jalan ke Sumba, sekaligus bisa eksplorasi alam wisata, tempat yang indah. Saya juga berinteraksi dan mengenal masyarakat lokal di sana,” ujarnya.

Pengalaman tesebut menjadi sesuatu yang berharga. Lala menjadi tahu dan mendapat pengetahuan tentang kekayaan Indonesia  serta pengetahuan tentang lingkungan. “Saya percaya kalau kita menjaga alam, alam akan menjaga kita semua,” ujarnya.

Cendrawasih kecil (Paradisaea minor). Foto: Rhett A. Butler

Destinasi wisata unik

Masing-masing taman nasional mempunyai keunikan, kekayaan, dan keragaman hayati berbeda. Wisatawan dapat mengeksplorasi keragaman itu. Jika Anda penasaran dengan kecantikan burung bidadari dan burung-burung paruh bengkok, Anda bisa mengunjungi Taman Nasional Aketajawe Lolobata di Sofifi, Maluku Utara. Taman Nasional seluas 167 ribu hektar ini menyimpan kekayaan beragam.

“Wisata pengamatan burung menjadi andalan di taman nasional ini. Setidaknya, wisatawan akan menjumpai 20 jenis burung,” ujar Sadtata Noor Adirahmanta, Kapala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Pengamatan tak hanya dilakukan siang hari tapi juga malam yang menambah keunikan dan keseruan.

Taman nasional ini juga menyimpan alam yang cantik untuk wisata petualangan di Goa Rimpala, susur Sungai Tayawi, air terjun Bay Rorai; hingga pengenalan jenis flora dan fauna khas Maluku Utara.

Petualangan seru juga bisa didapatkan di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau. Para wisatawan bisa menikmati wisata olahraga di kawasan hutan konservasi, pengamatan satwa liar, atau susur sungai.

Tesso Nilo juga terkenal dengan produksi hutan alam yakni madu yang dipanen secara unik dari pohon sialang, dengan ritual masyarakat lokal malam hari. “Upacara didahului dengan ritual, untuk menggiring ratu lebah dan anak buahnya,” ujar Gobel, petugas dari Taman Nasional Tesso Nilo pada presentasi di pameran IndoGreen sebelumnya, Sabtu (15/4/2017).

Indahnya pemandangan di Taman Nasional Karimunjawa. Foto: Sebumi.id/Sidonn

Pelancong bijak

Berwisata atau berpetualang ke alam bebas memang mengasyikkan, apa lagi pergi bersama rombongan. Melihat pemandangan yang indah, hewan atau bunga yang cantik membuat kita ingin menyentuh atau memetiknya. Tapi, sebagai pelancong atau pengunjung yang mengikuti wisata berbasis lingkungan –alangkah baiknya jika kita tak melakukannya, cukup mengaguminya dengan memandangnya.

Pegiat lingkungan dan juga penulis buku, Harley Sastha, membagikan ilmunya untuk memandu kita sebagai pelancong yang menerapkan wisata ramah lingkungan dan berkelanjutan. “Ada beberapa hal yang harus menjadi pegangan dalam wisata berkelanjutan,” ujar Harley.

Hal-hal itu adalah ramah lingkungan; melindungi warisan budaya dan lingkungan; memberi manfaat ekonomi, serta sosial dan budaya bagi masyarakat sekitar atau masyarakat lokal.

Pria yang sudah menjelajah ke berbagai taman nasional ini mengimbau untuk memikirkan segala sesuatu sebelum berangkat ke tempat tujuan/destinasi berkemah dan lain lain. Juga, urusan sampah sisa aktivitas yang mungkin kita timbulkan. Termasuk, kondisi tempat tujuan, apa yang dikonsumsi, halangan atau rintangan yang akan dihadapi. “Tujuan dan aktivitas kita akan menentukan berapa banyak sampah serta dampaknya,” ujarnya.

Tak hanya itu, seorang pelancong juga harus mempersiapkan diri dan sikap perilaku sebelum menuju lokasi wisata alam yang dituju. Sebut saja, status lokasi yang akan kita datangi, taman nasional, taman hutan rakyat, cagar alam, dan sebagainya. Ini dikarenakan, tiap lokasi mempunyai keunikan dan aturan berbeda. Gunakan juga pengetahuan yang kita miliki untuk menjaga kelestarian kawasan misal, tidak mencuci perlengkapan makanan di sumber air. Selain tidak mencemari lingkungan, kita juga memberi kesempatan binatang untuk minum. “Pastikan pula, kita tidak membeli berbagai produk turunan satwa liar dan tumbuhan dilindungi, ini penting,” tandasnya.

Sumber: http://www.mongabay.co.id/

Kisah Unik Pasangan Disabilitas Menjaga Penyu di Pulau Cangke

0

Pulau Cangke adalah sebuah pulau kecil dan indah. Salah satu dari 115 pulau kecil yang berada di Kabupaten Kepulauan Pangkejene Kepulauan, Sulawesi Selatan. Banyak cerita menarik di pulau yang tak begitu luas ini. Termasuk kisah sepasang suami istri penyandang disabilitas, membantu upaya konservasi penyu di pulau ini.

Saya berkunjung ke pulau yang berada di Desa Matiro Dolangeng, Kecamatan Liukang Tuppabiring ini, Kamis (25/5/2017), melalui pelabuhan rakyat Kayu Bangkoang, Makassar. Saya mengikuti rombongan dari PT Mars Symbioscience Indonesia yang akan melakukan acara sunatan massal di Pulau Bontosua. Mengunakan kapal kayu yang cukup besar, butuh waktu sekitar 2 jam, sementara dengan speed motor biasanya hanya 1 jam.

Dari Pulau Bontosua, saya melanjutkan perjalanan dengan speed motor milik Polair Pangkep, bersama dengan tiga petugas yang kebetulan sedang melakukan patroli rutin. Butuh waktu sekitar 1 jam untuk tiba di pulau ini.

Pulau Cangke di Kelurahan Mattiro Tasi, Kecamatan Liukkang Tuppabiring, Pangkep, Sulsel, menjadi surga bagi penyu-penyu yang berdatangan di musim tertentu. Selain penyu, pengunjung juga bisa melakukan snorkling dan diving sekitar pulau dengan kondisi terumbu karang yang masih bagus. Foto: Wahyu Chandra

Mendekati pulau, terlihat dua bangunan rumah panggung kecil di kejauhan. Rumah keluarga Daeng Abu Sofyan, satu-satunya penghuni pulau, dan kantor patroli Polair.

Seorang perempuan tua terlihat duduk di teras rumah, seperti menyambut kedatangan kami. Tepat di depan rumah itu terdapat sebuah plang ucapan selamat datang untuk pengunjung. Beberapa bangunan gazebo terjajar rapi di sepanjang pesisir pantai.

“Bapak sedang solat duhur, tunggumi,” katanya dengan bahasa Makassar.

Meski dikenal sebagai pulau penyu, tak banyak yang kami temukan ketika kami datang. Hanya beberapa ekor yang disimpan di sebuah kolam fiber pemeliharaan. Dua ekor berukuran agar besar, berumur sekitar delapan bulan dan lainnya masih berumur 5 bulan.

Aiptu Solotang, polisi Polair Polres Pangkep yang berjaga di pulau tersebut bercerita bahwa meski musim penyu sudah tiba namun hingga saat ini belum ditemukan satu lubang pun di sekitar pulau. Ini dianggapnya tak lazim.

“Mungkin ini faktor cuaca. Kalau bulan-bulan sekarang, seharusnya sudah banyak penyu. Tapi kita belum temukan apa-apa sampai saat ini,” katanya.

(baca : Solotang, Seorang Diri Menjaga Perairan 42 Pulau Liukang Tuppabiring)

Anggota Polair Polres Pangkep, Solotang memperlihatkan penyu yang sudah cukup besar, berusia sekitar delapan bulan, ditempatkan di kolam penangkaran. Penyu tersebut akan segera dilepasliarkan ke alam ketika penyu-penyu. Foto: Wahyu Chandra

Penyu-penyu yang berada di kolam penangkaran adalah penyu yang terambil dari tahun sebelumnya. Jumlahnya semakin berkurang karena akan segera dilepas jika dianggap sudah waktunya. Penyu yang tertinggal hanya sebagai pajangan bagi pengunjung yang datang.

“Kalau sudah ada gantinya ini akan segera kami lepas. Sudah terlalu lama di kolam,” lanjutnya.

Menurut Solotang, sejak ditetapkan sebagai kawasan konservasi penyu, Pulau Cangke menjadi surga bagi penyu-penyu yang datang bertelur di musim-musim tertentu. Larangan penangkapan penyu ataupun pengambilan telur penyu cukup efektif menambah populasi penyu di daerah tersebut dan pulau-pulau sekitarnya.

“Terhitung sejak 2015 lalu sudah ada sekitar 1.000-an tukik yang kami rilis ke alam. Ada sekitar 19 lubang di sekitar pulau. Setiap lubang bisa sampai ratusan telur meski yang menetas hanya sebagian atau tak cukup separuhnya.”

Untuk melindungi lubang-lubang penyu tersebut, Solotang bersama dengan Daeng Abu dan istrinya biasanya membuat pagar kecil dari ranting-ranting kayu.

“Itu untuk melindungi telur dari predator, termasuk dari warga yang kebetulan melintas. Kalau dipagari artinya itu tak bisa diganggu,” jelas Solotang.

Setahun terakhir pengunjung mulai berdatangan ke Pulau Cangke, tidak hanya untuk melihat penyu, tapi juga menikmati pemandangan indah di sore hari dan menyelam di sekitar pulau. Foto: Wahyu Chandra

Ancaman terhadap keberadaan penyu dan tukik memang selalu ada. Penangkapan penyu besar masih kadang terjadi, begitupun dengan pengambilan telur.

“Namun sejak kami banyak operasi, penangkapan penyu dan pengambilan sudah mulai berkurang. Kita aktif sosialisasi di pulau-pulau sekitar. Ada ancaman hukumnya.”

Penangkapan penyu, yang bisa berukuran panjang 1,5 meter, biasanya untuk diambil batoknya untuk bahan pembuatan aksesoris, seperti cincin dan mata kalung. Sementara telur penyu untuk dikonsumsi.

“Ada semacam kepercayaan di sini kalau telur penyu bisa menambah vitalitas laki-laki. Ada juga yang ambil untuk sekedar lauk, khususnya masyarakat yang ada sekitar sini.”

Konservasi penyu di Pulau Cangke sendiri dimulai pada tahun 2015 lalu atas inisiatif Kapolres Pangkep yang saat itu dijabat oleh Hidayat. Hidayat dikenal sebagai pejabat polisi yang peduli lingkungan dan tegas terhadap praktek illegal fishing dan destructive fishing di sekitar perairan Pangkep.

“Ketika Pak Hidayat melihat pulau ini, beliau menganggap cocok untuk konservasi penyu. Makanya kemudian dibangun pos pengawasan dan gazebo-gazebo untuk pengunjung yang datang.”

Untuk membantu dalam pengawasan, maka Hidayat kemudian melibatkan masyarakat setempat, yaitu Daeng Abu dan istrinya Maidah. Sepasang suami istri inilah yang kemudian setiap hari mengeliling pulau mencari lubang-lubang penyu untuk dijaga dan dipindahkan di kolam penangkaran.

Pasangan suami istri ini terbilang unik karena dua-duanya merupakan penyandang disabilitas, namun dalam bekerja saling membantu dan melengkapi.

“Saya ini buta sudah belasan tahun lalu, sementara istri saya pendengaran tidak begitu bagus. Kalau istri saya keliling pulau dapat lubang ia segera bilang, saya kemudian tunjukkan caranya dipindahkan,” kata Daeng Abu sambil tertawa.

Pasangan suami istri penyandang disabilitas, Daeng Abu dan istrinya Maidah, bersama Solotang, petugas Polair Pangkep, menjaga keberadaan penyu di Pulau Cangke. Sejak 2015 lalu sudah ribuan tukik yang mereka selamatkan dan dilepasliakan ke alam. Foto: Wahyu Chandra

Mereka berdua juga kerap memancing di sekitar pulau. Daeng Abu, dengan keterbatasannya masih menemani istrinya melaut dengan perahu kecil mereka.

“Istri saya tak bisa berenang jadi takut melaut sendirian, saya menemani mengayuh perahu, dia yang memancing,” tambahnya.

Daeng Abu sendiri telah berada di pulau tersebut sejak tahun 1972 sebagai seorang buangan karena menderita kusta. Sebelumnya ia tinggal di Pulau Pala, tak jauh dari pulau tersebut. Tak tahan melihat kesendirian Daeng Abu, istrinya Maidah kemudian menyusul untuk menemani. Mereka dikaruniai enak orang anak, namun sayangnya hanya seorang saja yang hidup.

“Anak saya sekarang di Pulau Pala, ia punya usaha kepiting. Ia punya sembilan orang anak dan paling bungsu sekarang akan kuliah di Pangkep,” ungkap Daeng Abu bangga.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari kebutuhan makanan selain dari anaknya, yang rutin datang ke pulau, juga berasal dari Pemda Pangkep, berupa gaji per bulan sebesar Rp450 ribu, yang diterima per tiga bulan.

Menurut Solotang, keberadaan Daeng Abu dan istrinya selama ini memang sangat membantu menjaga kelestarian penyu di pulau tersebut. Apalagi selama ini Daeng Abu dulunya juga merupakan warga pengumpul telur penyu untuk konsumsi sehari-hari.

Sayangnya, meski menjadi kawasan konservasi dan potensial untuk tempat wisata, namun pengelolaan pulau ini sepertinya kurang mendapat perhatian pemerintah. Meski telah ada bantuan berupa bangunan gazebo dan kolam-kolam penangkaran, namun tak ada pengelolaan secara berkelanjutan.

Menurut Solotang, sejak Kapolres Hidayat dimutasi ke daerah lain, perhatian terhadap tempat ini mulai berkurang. Meskipun tetap ada upaya perawatan dan pengawasan namun sangat terbatas karena tak adanya penganggaran khusus untuk pengelolaan.

“Kita tetap jaga tempat ini, setiap tiga bulan tetap wajib bikin laporan ke Polda tentang perkembangan penyu dan tukik, cuma sekarang kita terbatas. Kalau nantinya akan ada bantuan, bisa berupa speed boat dan bahan bakar. Termasuk kebutuhan operasional lainnya.”

Jaraknya yang cukup jauh dari ibukota kabupaten membutuhkan bahan bakar yang cukup besar sekali berkunjung ke pulau tersebut. Selama ini kebutuhan bahan bakar masih ditunjang dari operasional operasi rutin Polair, sehingga kunjungan ke pulau tersebut masih tergantung pada jadwal patroli.

Sumber: http://www.mongabay.co.id/

Di Balik Keindahan Pulau Mare…

0
Pulau Mare, tampak dari kejauhan…Pulau nan indah yang menyimpan banyak cerita miris. Foto: M Rahmat Ulhaz

Hatta Hamzah, warga Desa Maregam, Mare,  berusaha mengendalikan motor laut bodi kayu itu, ketika akan sandar di Pelabuhan Tomolou Tidore, Maluku Utara, pertengahan April lalu. Hatta membawa saya bersama dua rekan menuju Pulau Mare. Pulau yang terkenal dengan produksi gerabah ini ditetapkan sebagai kawasan pencadangan konservasi perairan laut di Malut.

Hatta, sangat berhati-hati karena terbilang amatir dalam menjalankan  motor kayu.  Saat dia, menyandarkan perahu ke jembatan sempat menyatakan kalau baru pertama kali jadi motoris tetapi yakin bisa mengelilingi Pulau Mare.

Pulau Mare sendiri berada di bagian barat, secara administrasi masuk Kota Tidore Selatan, Tidore Kepulauan, Malut. Ada empat pulau di Kota Tidore Kepulauan, yakni Tidore,  Maitara, Mare  dan Failonga. Dari empat pulau, tiga sudah berpenduduk, hanya Pulau Failonga, masih kosong.

Pulau Mare cukup terkenal dengan kerajinan gerabah. Sebenarnya  ia memiliki potensi luar biasa seperti keindahan laut dan panorama alam.

Kami mengelilingi pulau pakai perahu bermesin kapasitas 15 PK bodi kayu.  Kami singgah di dua kampung di pulau ini, yakni Kampung Mare Kofo dan Mare Gam.

Hatta juga menunjukkan kami beberapa tempat yang dianggap berkaitan erat dengan kawasan pencadangan laut untuk konservasi  lumba-lumba yang ditetapkan Pemkot Tidore Kepulauan sejak 2012.

Perjalanan menuju Pulau Mare sekitar  1,5 jam  sebelum sampai ke tebing batu yang cukup terkenal, biasa disebut batu perempuan. Warga memberi nama ini karena kala dipandang dari jauh batu menyerupai kelamin perempuan.

Sementara dari atas perahu bisa disaksikan kondisi bawah laut Pulau Mare. Indah…Sayangnya, ada sebagian terumbu karang sudah mati.

Informasi warga, karang mati karena banyak orang luar pulau menangkap ikan pakai bom dan berbagai sarana membahayakan di sini.

Perjalanan lanjut ke Desa Mare Kofo. Desa ini di bagian barat Pulau Mare. Desa di kelilingi hutan bakau. Pemerintah Kota Tidore Kepulauan menetapkan desa ini sebagai kawasan hutan lindung mangrove.

Desa ini memiliki cukup banyak masalah seperti sampah,  penerangan listrik, air bersih,  layanan kesehatan dan pendidikan.

Sampah yang memenuhi pantai di Pulau Mare. Sampah-sampah ini diduga ‘kiriman’ dari Ternate dan Tidore. Foto: M Rahmat Ulhaz

Sampah plastik kiriman yang menggunung di pantai pulau ini perlu perhatian serius. Desa Mare Kofo jadi tempat ‘terdampar’ sampah-sampah plastik diduga dari Ternate dan Tidore. Sampah terbanyak seperti botol  air mineral,  kantong plastik dan lain-lain.

“Sampah-sampah menumpuk di tepi pantai itu bukan dibuang  warga Mare. Itu sampah kiriman,” kata Udin Ismail, warga Mare Kofo.

Menurut Udin, juga Kepala Urusan Pemerintahan (kaur) di Desa Mare Kofo,  sampah menumpuk setiap saat di depan desa mereka kiriman  dari pulau lain. Kedua pulau yang diduga penyumbang terbesar sampah adalah Ternate dan Tidore.  “Kadang berbulan-bulan menumpuk di pantai.”

Warga hanya bisa berharap  air pasang dan arus cukup deras  hingga membawa sampah plastik keluar pulau. Air pasang baru bisa membawa sampah keluar. “Kami hanya mengandalkan arus dan air pasang  untuk menyingkirkan sampah ke luar pulau.”

Sampah masuk sampai ke hutan mangrove di depan desa ini. Banyak onggokan sampah plastik.

Edy Hatary, Kepala Bidang Lingkungan Hidup Badan Lingkungan Hidup Tidore Kepulauan mengatakan, sampah Mare merupakan persoalan kepulauan dan memerlukan penanganan komprehensif, antara lain kerjasama antar kabupaten dan kota, seperti Ternate dan Tidore,  dengan letak berdekatan.

“Penanganan masih parsial dan tidak fokus. Ditambah perilaku dan kesadaran masyarakat rendah soal sampah hingga laut dan pulau-pulau dipenuhi sampah,” katanya.

Tak hanya sampah, perusakan terumbu karang juga masif,  penangkapan ikan menggunakan jaring, racun dan bom juga jadi masalah serius.

“Kalau pengeboman ikan itu hampir setiap saat,” kata Kades Mare Kofo Rabihim Senen, seraya sebutkan, pengebom ikan dari warga luar Pulau Mare.

Dia bilang, kebanyakan penangkap ikan pakai bom dari Halmahera Barat.   Mereka mengebom saat warga akan shalat Jum’at. “Waktu Jum’at, tak ada yang berada di laut hingga mereka bebas beraksi.”

Selain itu, pulau yang tak jauh dari pusat pemerintahan Kota Tidore itu, terbilang minim perhatian, bahkan persoalan-persoalan mendasar seperti air bersih, sampai kesehatan dan pendidikan.

Di Desa Mare Kofo, berpenduduk 500 jiwa lebih, menghadapi beberapa  masalah pelayanan dasar terutama listrik, air bersih pendidikan dan kesehatan.

Batu perempuan, yang cukup terkenal di Pulau Mare. Foto: M Rahmat Ulhaz

Hingga kini, katanya, warga desa ini belum bisa menikmati listrik seharian, hanya pukul 18.00-00.00 dan mengandalkan genset PLN berkapasitas 20 kilowatt.

Lampu tak bisa menyala semalam suntuk karena persoalan bahan bakar harus ditanggung warga dengan iuran yang dikumpulkan setiap bulan. “Alhamdulillah, lampu listrik sudah ada, tapi menyala hanya enam jam saja.”

Untuk air bersih,  meski sudah ada sumur bor namun sebagian warga masih mengandalkan air hujan. Sedang akses jalan masih jauh dari harapan. Transportasi antarkampung sampai kini, katanya,  belum bisa dilalui dengan jalan darat.

Dari Desa Mare Gam ke Mare Kofo,  belum ada jalan. Warga hanya mengandalkan transportasi laut meskipun jarak antardua desa ini hanya tujuh kilometer.

“Jalan kita ini sudah berulangkali survei tetapi belum terlaksana. Tahun ini kembali dijanjikan lagi,” kata Hatta Hamzah,  tokoh pemuda desa.

Untuk air bersih sebagian warga masih dari air hujan. Meski ada gunakan air sumur, tetapi tak semua untuk kebutuhan sehari-hari. Sebenarnya, sudah ada sumur bor tetapi belum terpakai. Begitu juga di Desa Mare Kofo, air bersih sebagian warga masih mengandalkan  air hujan.

Masalah lain, pendidikan terutama di Mare Kofo. Meski sudah memiliki gedung SD dan SMP, namun minim guru. Guru hampir semua tinggal di Pulau Tidore.

Untuk itu, siswa tak mendapatkan porsi belajar seperti sekolah di daerah lain. Waktu mengajar mereka tersita di jalan.

Belum lagi kala musim gelombang , siswa tak bisa belajar karena tak ada guru. Laut tak bergelombang pun proses belajar mengajar tetap terlambat.  Jam belajar mulai pukul 07.00, tidak pernah terlaksana tepat waktu.  Guru masuk kelas di atas pukul 09.00, pulang pukul 12.00.

Guru pulang awal karena khawatir gelombang tinggi kala siang hari.

“Di pulau ini, dari 17 guru mengajar di Mare Kofo baik SD maupun SMP tak ada yang tinggal di Kampung Mare Kofo,” kata Rabihim.

Meskipun mereka sudah membangun rumah guru bahkan menyuarakan masalah ini ke petinggi  Pemkot Tidore,   tetapi tak ada perubahan, belum ada satupun pengajar tinggal disana. “Proses belajar mengajar tak berjalan maksimal.”

Rabihim bingung dengan sikap guru yang mengajar di desanya. Mereka tak mau tinggal di desa tempat mereka bertugas  dan memilih menetap di Tidore.

Beberapa kali, siswa bersama Kepala Sekolah SD Mare Kofo–warga setempat–mengajak  siswa menyambut para guru dari Tidore dengan menggelar apel masuk sekolah di pelabuhan.

“Tujuan siswa mengkritik guru agar malu dengan waktu masuk kelas karena tak tepat waktu,” kata Rabihim.

Cerita pelayanan kesehatan hampir serupa masalah pendidikan. Meskipun sangat dekat dengan Tidore, petugas tak siap waktu penuh di Pulau Mare. Fasilitas kesehatan berupa Puskesmas Pembantu (Pustu) sudah terbangun ak ditempati petugas.

Ada satu petugas di Pustu, tetapi tak tinggal di Desa Mare Kofo, tetap di Tidore. Petugas kesehatan ke Pulau Mare saat siang hari. Dia juga harus menyeberang dengan speedboat atau perahu kayu.

Kala warga ingin mendapatkan pelayanan kesehatan,  harus menunggu  petugas datang dari Tidore baru. “Ada seorang bidan ditugaskan ke  Mare Kofo tetapi enggan tinggal. Dia memilih tinggal di Tidore. Nanti siang datang tugas sekitar pukul 09.00. Sekitar pukul 13.00 pulang ke Tidore. Jika tiba- tiba kita sakit harus menunggu sampai besoknya. Itu kalau tak ada gelombang,” ucap Udin.

Saat saya menyambangi Desa Mare Kofo,   April lalu ada kejadian miris terkait pelayanan kesehatan.  Muhammad Risky,  bayi 12 bulan jatuh  dan wajah terbentur batu besar hingga cidera serius. Jidat robek sekitar delapan cm.

Risky tak bisa mendapat pertolongan pertama di Pustu Mare Kofo karena tak ada petugas. Rahmah, ibunda Risky hanya histeris. Dia tak bisa berbuat banyak. Langkah satu- satunya, kepala desa membantu pasangan Rahmah dan Ismail ini membawa anak mereka ke rumah sakit di Tidore dengan perahu  motor.  “Ini contoh kesulitan kami hadapi,” kata Rabihim.

Rumah warga di Pulau Mare. Warga di pulau ini belum bisa nikmati listrik 24 jam, hanya pukul 18.00-00.00. Foto: M Rahmat Ulhaz

Sumber: http://www.mongabay.co.id/

Penting untuk Kota dan Kabupaten Jayapura. Tapi Mengapa Pegunungan Cyclops Malah Terancam?

0
Danau Sentani terbentang dari arah pegunungan Cyclops. Cyclops berkontribusi sebagai daerah penyangga kehidupan untuk Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura. Foto: Ridzki R Sigit

Pegunungan Cyclops (disebut juga dengan Cycloop, siklop, Dobonsolo atau Dafonsoro) yang berada di Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura bagaikan bentang benteng pelindung bagi para warga di dataran Jayapura. Pegunungan ini berbagi lansekap dengan Danau Sentani yang terletak di selatannya.

Ironisnya, karena letaknya yang dekat dengan pusat perkembangan kota, pegunungan Cyclops saat ini rentan dan tertekan oleh berbagai macam bentuk perambahan hutannya. Nama Cyclops konon berasal dari Bahasa Belanda, yang berkonotasi puncak awan.

Sebagai kawasan Cagar Alam (CA), Cyclops diresmikan pada tahun 1978 melalui SK No.56/Kpts/Um/I/1978 dan dikukuhkan pada tahun 1987 lewat SK No.365/Kpts-II/1987) yang mencakup wilayah seluas 22.500 hektar. Di tahun 2012, CA bertambah luasannya menjadi 31.479,89 lewat SK Menhut nomor 782/MenHut-II/2012.

Adapun, satwa liar khas Papua yang ada di cagar alam ini termasuk kuskus tutul hitam, kanguru pohon, bandikut (semacam tikus berkantung), burung mandar gunung hingga ekidna.

Baca juga: Ekidna, si Mamalia Bertelur, Satwa Asli dari Papua

“Cyclops merupakan sumber ketersediaan air bersih bagi seluruh warga yang ada di Kota Jayapura maupun di sebagian besar wilayah Kabupaten Jayapura,” ujar Richard Kalilago, Community Outreach and Sustainable Development USAID LESTARI program Papua, kepada Mongabay Indonesia, awal Mei 2017 lalu.

Menurut Richard jauh kembali di akhir tahun 1980-an, saat dirinya masih bergabung dalam kelompok mahasiswa pecinta alam di Universitas Cendrawasih, tekanan terhadap pegunungan Cyclops sudah mulai terjadi. Perambahan hutan untuk mencari kayu suang, perburuan satwa endemik, galian C, pembukaan lahan hingga pembangunan fasilitas perkantoran pun telah terjadi.

Berdasarkan cermatan WWF-Papua, kawasan kritis yang terdapat di CA Cyclops diperkirakan mencapai sekitar seribu hektar, yang banyak terjadi di kawasan penyangga (buffer zone).

Khusus untuk kayu suang (Xanthosneon sp), disebutnya merupakan jenis kayu endemik Papua yang terindikasi hanya memiliki sebaran terbatas yang hanya berada di Pegunungan Cyclops. Kayu suang banyak ditebang, karena dipakai untuk arang dan pembakar ikan yang banyak dijumpai di Kota Jayapura.

Gubuk warga yang berada di kaki pegunungan Cyclops. Foto: Musa Abubar

Migrasi ke Cyclops

Masuknya pendatang di Cyclops tak lepas dari menariknya gemerlap Kota Jayapura sebagai ibukota provinsi Papua sekaligus pusat ekonomi. Jelas Richard, saat ini 75 persen dari para pemukim di Cyclops berasal dari masyarakat yang bermigrasi dari pegunungan.

Secara geografis, masyarakat pegunungan yang dimaksud Richard adalah berasal dari pegunungan tengah Papua, seperti Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Puncak Jaya, dan Kabupaten Yahukimo.

“Pembukaan lahan untuk dijadikan perkebunan dan pemukiman itu biasanya dilakukan masyarakat pegunungan. Mereka mulanya dibawa oleh misionaris pada tahun 1970-1980-an, kemudian berkembang dan sekarang menguasai hampir seluruh Cyclops,” ungkap Richard.

Saat ini jumlah masyarakat yang mendiami seluruh wilayah pegunungan Cyclops diperkirakan berkisar 400 ribu jiwa yang terdiri dari 15 kampung, baik yang berada di Kabupaten maupun Kota Jayapura.

Suku-suku asli pesisir sendiri, lebih banyak berada di Sentani dan tidak berinteraksi langsung dengan Cyclops. Mereka hidup dari menanam dan memanfaatkan sagu yang berada di tepian danau, juga dari hasil menangkap ikan.

Sebagai bagian dari kearifan lokal, suku-suku asli pun percaya akan terjadi malapetaka jika mereka merambah dan beraktifitas di Cyclops.

“Suku asli percaya bahwa Cyclops telah memberi udara yang sejuk, air, dan tanah kepada mereka. Sehingga jika tuan Cyclops dikorek justru akan membawa petaka.”

Seperti dijelaskan oleh Wirya Supriadi dari Jaringan Kerja Rakyat (Jerat) Papua, sebuah lembaga swadaya yang peduli terhadap penyelamatan sumberdaya alam dan hak ekonomi, sosial dan budaya Papua, nama asli Cyclops adalah Robhong Holo. Dalam bahasa Sentani bagian gunung disebut dengan nama “Holo”.

Nama ini berasal dari legenda seorang perempuan bernama Robhong yang pergi ke utara dan lalu bertemu dengan seorang lelaki bernama Haelufoi. Konon, setelahnya Robhong dan Haelufoi lalu menghilang karena telah berubah wujud menjadi dua puncak Dobonsolo, yaitu Haelufoi (suami) di sebelah timur, dan puncak Robhong (istri) di sebelah barat.

Menyelamatkan Cyclops Harus Lewat Penegakan Hukum atau Pendekatan Budaya?

Tekanan terbesar berupa perambahan dan deforestasi bagi wilayah lansekap pegunungan Cyclops banyak terjadi di wilayah Angkasa, Kota Jayapura, Waena, Bumi Perkemahan, hingga daerah Uncen yang masuk wilayah administrasi Kabupaten Jayapura. Namun, efektivitas penegakan hukum yang dilakukan tidak menuai upaya dan hasil yang memuaskan.

Saat dijumpai, Kepala Sub Bagian Data, Evaluasi, Pelaporan, dan Kehumasan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua, I Ketut Diatra Putra, mengakui jika ancaman terhadap kawasan konservasi Cyclops sangatlah besar.

Tuturnya, pihak BBKSDA pernah melakukan penyitaan kayu yang terambil di kawasan CA Cyclops Namun yang terjadi, justru warga yang disita barangnya malah balik datang membawa banyak orang dan melakukan demo ke kantor balai.

“Penegakan hukum di kawasan Cyclops sampai saat ini belum bisa maksimal karena terkait dengan kondisi sosial dan budaya. Perlu kehati-hatian untuk melakukan upaya hukum,” ujarnya.

Baginya, penyebab deforestasi di Cyclops sangat rumit dan melibatkan faktor budaya, politis, sosial, dan ekonomi, termasuk eksploitasi dari penambangan yang terjadi.

Kawasan penyangga CA Cyclops yang dijadikan lahan tambang. Foto: Angela Flassy

Kembali ke tahun 2013, sesuai yang tertulis dalam artikel Mongabay Indonesia, saat meninjau pemberian hibah bantuan, Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Stig Traavik, pun sempat heran saat menjumpai penambangan pasir yang berada di CA Cyclops.

Baca juga: Kala Dubes Norwegia Heran Ada Tambang pasir di Cagar Alam Cyclops

Bahkan, sebenarnya tidak saja masyarakat yang merambah ke dalam kawasan, pembangunan rumah maupun perkantoran besar-besaran pun terjadi di kawasan penyangga. Seperti kompleks perkantoran Bupati Kabupaten Jayapura dan perkantoran Walikota Jayapura berada dalam kawasan penyangga Cyclops.

Richard Kalilago, sejenak tampak berpikir saat ditanya bagaimana menyelamatkan Cyclops kedepan. Dia lalu menyebut, untuk menghentikan deforestasi di lansekap Cyclops hanya akan efektif jika semua pemangku kepentingan terlibat.

Pendekatan budaya harus dikedepankan, termasuk melibatkan para kepala adat di seputaran Cyclops yang disebut sebagai ondoafi (ondofolo).

Jelasnya, di pegunungan Cyclops terdapat lima Dewan Adat Suku (DAS) yaitu Sentani, Moi, Tepera, Ormu dan Elema. Para pendatang sebutnya, awalnya untuk membuka lahan pun meminta persetujuan dari para ondoafi setempat.

Menurutnya dalam waktu dekat, pihaknya akan menyosialisasikan rancangan Perda tentang pelestarian kawasan pegunungan Cyclops. Di dalam rancangan Perda itu akan dibahas dan diakomodir tentang zona-zona ekologi yang dikelola secara tradisional oleh masyarakat adat.

“Aspirasi masyarakat di dalam dan sekitar wilayah Cycloop, lembaga pemerintah dan pihak swasta yang memperoleh manfaat dari jasa lingkungan dan ekosistem perlu menjadi pertimbangan dalam sistem tata kelola kolaboratif,” tutupnya.

Sumber: http://www.mongabay.co.id/

Praktik Warga Merestorasi Lahan, Gambut Basah, Kebakaran Tercegah

0
Bayu Hanggara, peneliti CIFOR sedang mengukur perubahan elevasi permukaan lahan gambut, menggunakan perangkat Rod Surface Elevation Table (RSET) di Tanjung Leban, Riau. Foto: Lusia Arumingtyas

Muhammad Nur, seorang pegawai negeri sipil yang sehari-hari mengajar di sekolah dasar di Tanjung Lebam, Kabupaten Bengkalis, Riau. Kala waktu luang setelah mengajar, dia berkebun. Pria 49 tahun ini punya kebun sekitar 16,25 hektar di lahan gambut dengan kedalaman rerata lima sampai delapan meter.

Pada 2008, kebun sawit sekitar tiga hektar terbakar. Api dari perkebunan tetangga. Kebun Nur di kelilingi lahan tidur dan perkebunan sawit skala besar.

”Masyarakat daerah sini, tak biasa membakar, jadi tak tahu siapa yang membuat api itu,” katanya, Mei lalu.

Lahan bekas terbakar pun kebanjiran selama empat bulan. Tak bisa tanam sawit lagi. Awalnya, Nur menanam karet. Ikut-ikutan warga lain, sebagian lahan tanam sawit. ”Katanya sawit tiga tahun berhasil, sampai sekarang belum juga.”

Pada 2010, lahan satu hektar tanam jelutung dan jadi lokasi penelitian ilmuwan Jepang bersama dengan peneliti Universitas Riau. Sejak itu, lahan tak pernah terbakar. Gambut tetap basah.

Pada 2013, kebakaran cukup besar kembali terjadi di Tanjung Leban. ”Perkebunan karet kami terbakar.” Lahan sempat lapang karena bimbang mau tanam apa.

Lalu 2014, Pusat Studi Bencana Universitas Riau, berkunjung ke perkebunan Nur. Saat itu, bekas lahan terbakar masih semak-semak. PSB Unri menganjurkan menanam komoditas asli gambut.

Dulu, dia sempat tanam tanaman keras. Sekarang, kembali dia lakukan dengan menanam jelutung, menangan, meranti, pelawan, ramin dan pisang-pisangan, dan kayu kelat.

“Supaya generasi muda nanti tahu tanaman ini pernah hidup di sini. Saya tak pernah berpikir tanaman ini akan saya tebang. Ini memang untuk penelitian,” katanya.

Dari Kementerian Lingkungan Hidup dengan hibah dari luar negeri, ASEAN Peatland Forest Project (IFAD-GEF) pada 2014 dan UNDP 2015 membangun sekat kanal dalam tata air ekosistem gambut selebar 70 meter dan panjang 414 meter sebanyak dua jalur.

Kata Nur, lahan jadi lembab dan tak mudah terbakar. Efektivitas pembasahan tinggi muka air pun dikontrol oleh masyarakat melalui pintu air.  Kini, lahan Nur pun terbagi tiga macam, dari hutan campuran, perkebunan sawit dan karet.

Penelitian CIFOR 

Sejak Februari 2017, Center for International Forestry Research (CIFOR) bekerja sama dengan Universitas Riau dan masyarakat meneliti kondisi lahan gambut di daerah itu masing-masing satu hektar.

Tujuan mereka, untuk mengamati dinamika sirkulasi emisi lahan gambut, yang sebelumnya terbakar, kemudian restorasi melalui pembasahan dan penanaman kembali.

”Penelitian ini jangka panjang, berlangsung selama tiga sampai lima tahun, dengan memantau parameter di tiga plot pengamatan berbeda. Penghitungan karbon ini bisa bermanfaat secara global,” kata Daniel Murdiyarso, peneliti utama CIFOR di Desa Tanjung Leban, Riau.

Penelitian ini mengamati cadangan karbon, fluktuasi muka air, kedalaman gambut, perubahan elevasi permukaan, dan produktivitas biomassa dari tanaman atau produk primer neto (NPP).

Menurut Daniel, penelitian bisa jadi acuan bagaimana mengelola lahan gambut untuk komoditas yang memberikan nilai ekonomi bagi warga.

”Bukan manfaat karena ada proyek. Itu bisa pergi, manfaat jangka panjang kepada masyarakat.”

Saya bersama wartawan media lain melihat bagaimana cara mengukur perubahan elevasi permukaan lahan gambut menggunakan perangkat rod surface elevation table (RSET). Obyek pengukuran RSET dipagari melingkar agar tak terganggu pijakan.

RSET berupa alat dari batang pipa baja anti karat ditanam vertikal sekitar 11 meter dari permukaan tanah hingga mencapai lapisan keras di bawah lapisan gambut. Adapun perubahan diukur dari posisi jeruji terpasang pada ‘lengan RSET.’ Ia ukuran perubahan elevasi karena proses lapisan gambut, bukan proses geologi (metode komposisi atau batang yang hancur).

Meli Fitriani Saragi, peneliti CIFOR sedang mengukur biomassa tanaman, daun dan ranting yang terperangkap dalam serasah. Foto: Lusia Arumingtyas

Bayu Hanggara, peneliti CIFOR mempraktikkan. Pertama-tama, menempatkan sebuah ‘bangku’ untuk mengukur perubahan. Adapun bangku tak menganggu sekitar alat RSET yang tertanam. Kemudian memasang lengan RSET untuk mengukur elevasi terdiri sembilan jeruji RSET dan delapan arah mata angin.

”Pengukuran dimulai dari sudut yang sama dengan kondisi tak nyaman. Agar tak menganggu sekeliling permukaan yang akan diukur dan tak terinjak,” katanya.

Pengukuran dilakukan dua kali. Pertama, dari atas daun jatuh di permukaan tanah. Kedua, daun disingkap, kemudian mengukur tanah bagian bawah. Meski demikian, daun perlu ditaruh kembali seperti keadaan normal.

”Pada lahan gambut normal banyak daun, itu merusak lapisan permukaan yang mau kita ukur kalau daun malah dibuang.”

Setiap jeruji diukur masing-masing dan dicatat. Bayu mengukur setiap jeruji RSET pakai penggaris sama, dengan skala sama. Pada pengukuran tahap pertama, pencatatan perlu disertakan kondisi daun jatuh di permukaan tanah. Apakah ada daun, ranting, ataupun tak ada apapun.

”Orang yang mengukur kalau bisa sama. Setiap mata orang memiliki paralatan masing-masing dan justifikasi atas daun jatuh pun sama untuk mengurangi human error.”

Untuk memberikan gambaran terkait perubahan elevasi permukaan, perlu pengukuran RSET berkala setiap enam bulan. Sedangkan, melihat perubahan elevasi masa lampau dari akumulasi bahan organik dan proses lain, dapat dideteksi menggunakan metode radionuklida 210Pb dengan spektrometer.

Berdasarkan data CIFOR, penurunan elevasi akibat deforestasi yang dilanjutkan dengan drainase berkisar antara 2-5 cm per tahun, dimana setiap dua cm pertahun mengakibatkan emisi CO2 sebesar 27 Mg perhektar pertahun.

Setelah mengukur faktor luar, selanjutnya mengukur respirasi total (heterotropik), diukur dalam plot yang tersekat (treching) untuk memisahkan sistem perakaran. Sensor ini punya kelemahan, ia sensitif air. “Jadi kita beri pipa tambahan biar jika diukur sama.”

Menghitung karbon dalam tanah (ukuran ppm), katanya, perlu sekitar 120 detik begitu juga suhu dan kelembapan. Dalam hutan campuran ini, terpasang empat pipa sekatan untuk dihitung.

Penelitian ini juga bersamaan dengan pemantauan pembasahan gambut. Bayu bilang, dalam memantau variasi temporal kedalaman muka air, pakai perangkat HOBO water level data logger yang ditempatkan pada kedalaman muka air terendah kala kemarau.

Penghitungan keseluruhan secara berkala. Data diambil setiap 15-30 menit. Jika kurun waktu 30 menit, data bisa mencapai satu tahun, kalau per 15 menit, hanya enam bulan.  ”Ini untuk mengukur tekanan udara, kemudian dikonversi dalam kedalaman muka air.”

Dari penelitian ini, kata Daniel, dapat jadi patokan angka emisi global dan dasar perundingan tingkat internasional.

Bagian penting dari manajemen gambut adalah kubah. Menjaga kubah tak terganggu, tertutup vegetasi dan basah sangat penting dalam menekan pelepasan emisi.

CIFOR menilai, hingga kini masih belum jelas lama waktu dibutuhkan lahan gambut kembali pulih dengan kapasitas serapan karbon.

Pengaturan tata muka air gambut atau pembasahan bukan satu-satunya pilihan tetapi perlu diikuti penanaman ulang dengan vegetasi lokal.

”Keduanya harus bersamaan agar restorasi berjalan efektif,” ucap Daniel.

Sumber: http://www.mongabay.co.id/

Mangrove Sumut Tergerus, Burung Migran pun Menyusut

0
Rombongan burung migran yang menempuh ribuan kilometer setiap tahun. Foto: Jussi Mononen/WorldMigratoryBirdDay.org

Hasil pemantauan, burung-burung migran di Sumatera Utara terus mengalami penurunan setiap tahun diduga karena hutan mangrove sebagai tempat mereka mencari makan, terus tergerus.

Chairunas Adha Putra, biasa disapa Nchay, dari Komunitas Birdding Sumatera, mengatakan, Sumut terutama pesisir timur Deli Serdang, merupakan persinggahan burung migran cukup besar.

Fase ini, katanya, ditemukan ada 34 spesies burung air migran, enam spesies dilindungi di Indonesia yaitu kelompok gajahan, bahkan ada yang masuk status terancam punah.

Untuk burung migran yang singgah ke Sumut berfluktuasi. Dalam beberapa bulan, katanya, bisa ada 10.000-an, terutama Desember, Januari dan Februari. Bulan-bulan ini, musim puncak burung migran singgah ke Sumut.

“Bisa lebih 10.000-an pada bulan-bulan itu,” katanya Di sela Komunitas Birdding Sumatera memperingati Hari Burung Migran Dunia (World Migratory Bird Day) 2017, Mei lalu.

Pada bulan berikutnya, burung migran akan menurun, karena kembali ke wilayah mereka untuk berkembang biak, yakni pesisir Rusia maupun Tiongkok.

Jenis burung pantai biasa di pesisir pantai timur Deli Serdang, antara lain, cerek pasit mongolia, trinil kaki merah, gajah besar, dan biru laut ekor blorok.

Pesisir Deli Serdang, Asahan, sampai dengan pesisir Kabupaten Serdang Bedagai, merupakan wilayah yang sering jadi perlintasan burung migran dalam jumlah cukup besar. Mereka singgah untuk makan.

Sayangnya, jumlah mereka terus turun dari tahun ke tahun. Dia menduga, karena perubahan hutan mangrove, yang jadi sumber pangan burung pantai. Kala mangrove berkurang, akan berpengaruh pada penurunan burung migran.

Dia mengusulkan, pemerintah melakukan studi burung migran lebih serius dan monitoring guna mengetahui kondisi terbaru. Lalu, diikuti upaya konservasi wilayah pesisir, terutama mangrove dan hamparan rumput, sebagai habitat utama bagi burung pantai bermigrasi.

Indonesia, kata Nchay, belum punya konservasi burung migran. Baru status perlindungan, dalam PP Nomor 7/1999, ada beberapa burung pantai dilindungi.

“Dalam penetapan perlindungan burung migran, perlu memperhatikan data apakah terjadi penurunan, mengalami populasi tetap atau malah naik, hingga harus riset.”

Onrizal, Lektor Kepala di Ekologi Hutan, Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), mengatakan, Indonesia merupakan negara dengan hutan mangrove terluas di dunia, sekitar 3,7 juta hektar.

Sebelumnya,  ada satu juta hektar mangrove hilang termasuk di Sumut, sebagian besar karena konversi jadi tambak dan perkebunan sawit. Ancaman kerusakan mangrove terus terjadi.

Kerusakan mangrove, katanya,  tentu, berdampak pada burung migran karena pakan mereka berkurang, misal, ikan-ikan yang hidup di ekosistem mangrove.

Terik Asia, burung pantai migran. Foto diambil Mei 2017 di Pesisir Langkat. Foto: Ayat S Karokaro

Edukasi

Pada kegiatan ini, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Medan, fotografer, hingga peneliti dan pakar hadir dalam pemutaran video dan foto-foto hasil pemantauan komunitas Birdding Sumatera. Mereka merekam pergerakan burung migran dari seluruh dunia yang singgah di pesisir Sumatera Utara.

Fotografer senior, Andi Lubis hadir menunjukkan kebolehan dalam melakukan pengambilan dan produksi video burung air dan burung migran dari berbagai wilayah pesisir Sumut.

Kepada Mongabay dia mengatakan, salah satu alasan tertarik memproduksi visual dan audio burung air dan burung migran ini, karena memiliki tantangan tersendiri. Dia merasa perlu menyajikan video dan foto-foto ini sebagai sarana edukasi publik.

Dia bilang, banyak orang menyukai dan menonton perilaku burung. Selain hiburan juga sisi pendidikan, terutama mengenal spesies satwa ini.

Sejak 2014, dia sudah keliling ke sekolah-sekolah, memperkenalkan dan menarik minat siswa mengenai burung air dan burung migran. “Ini penting, untuk mengetahui ketertarikan anak-anak melihat burung, terlebih burung-burung itu berdekatan dengan dekat tempat tinggal mereka,” katanya.

Dalam setiap kunjungan ke sekolah, dia menampilkan sisi hiburan dengan menyelipkan edukasi. Tujuan dia, penyadartahuan kepada generasi penerus bangsa, betapa penting burung di alam liar hingga tak memburu atau membunuh mereka.

Sumber: http://www.mongabay.co.id/

Lagi, Hiu Paus dan Penyu Terjerat Pukat di Flores Timur

0

Seekor hiu paus (Rhincodon typus) terjaring pukat nelayan milik YH (32). Peristiwa tersebut terjadi pada pukul 04.00 WITA tanggal 27 Mei 2017 di perairan Solor Selatan, Flores Timur. Nelayan dari Solor tersebut selanjutnya berinisiatif melaporkan kejadian pada LSM yang ada disana yaitu Misool Baseftin. Laporan yang masuk tersebut kemudian diteruskan ke pihak Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Flores Timur dan WCU untuk ditindaklanjuti. Bersama dengan tim gabungan yang terdiri atas DKP Flores Timur, WCU, Polsek Solor, serta Misool Baseftin menuju ke lokasi tempat kejadian untuk memastikan kondisi disana sesuai informasi yang didapat. Di tempat kejadian tersebut, pihak DKP, WCU, Polsek Solor serta Misool Baseftin melakukan sosialisasi dan tindakan lebih lanjut untuk pelepasliaran.

Hiu paus (Rhincodon typus) yang terkena jaring nelayan pada 27 Mei 2017 di perairan Solor Selatan, Flores Timur. Foto : WCU/DKP Flores Timur

Pihak DKP Flores Timur yang diwakili oleh Kabid Perizinan Usaha dan Pengawasan Sumber daya Perikanan, Apolinardus Y.L. Demoor, menyatakan akan terus melakukan pendekatan kepada masyarakat dan memberikan sosialisasi perihal satwa laut yang dilindungi agar masyarakat/nelayan memahami terhadap satwa-satwa tersebut.

Nelayan yang melaporkan kejadian perihal hiu paus yang terkena jerat serta satwa lain seperti penyu akan dibantu pengadaan jaring yang rusak. DKP juga berkomunikasi dengan BPSPL untuk mendukung upaya yang telah dilakukan nelayan yang menyelamatkan satwa tersebut. “Tingkat kesadaran masyarakat telah mulai meningkat terkait dengan biota yang dilindungi,” ungkap Apolinardus Demoor kepada Mongabay Indonesia.

Selain itu pihak DKP Flores Timur juga menyebarkan ke media massa karena saat ini pihak DKP memiliki wilayah kerja yang luas yaitu 127 desa pesisir dari 250 desa/kelurahan dengan 17 kecamatan pesisir dari 19 kecamatan di Kabupaten Flores Timur.

DKP Flores Timur juga menyebarkan informasi melalui booklet dan poster. Sedangkan di daerah rawan melakukan sosialisasi lebih intensif. Program DKP ke depan juga akan berorientasi pada peningkatan ekonomi masyarakat yang ramah lingkungan misalnya pengembangan rumput laut maupun karamba jaring apung dan budidaya lainnya.

Program yang dilakukan oleh DKP juga tidak lepas dari dukungan LSM seperti Misool Baseftin, dan WCU, serta LSM lainnya terutama untuk pemberdayaan masyarakat dan patroli rutin.

Hiu paus (Rhincodon typus) yang terkena jaring nelayan pada 27 Mei 2017 di perairan Solor Selatan, Flores Timur dileparliarkan kembali. Foto : WCU/DKP Flores Timur

Tim kemudian melakukan pendataan dan selanjutnya bersama nelayan berusaha melepaskan kembali hiu paus tersebut dengan memotong pukat yang menjaring hiu paus tersebut. Hiu paus yang memiliki panjang sekitar 4 meter tersebut akhirnya dilepasliarkan ke habitatnya.

Selain hiu paus, tepatnya pada hari Selasa, 30 Mei 2017, dilaporkan bahwa nelayan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur menemukan 2 penyu (1 penyu hijau jantan Chelonia mydas dan 1 anakan penyu sisik betina Eretmochelys imbricata) telah terkena pukat malam.

Irma Hermawati, Legal Advisor Wildlife Crime Unit (WCU) menyampaikan bahwa ada nelayan yang mendapat penyu tersebut berinisial ASW (43). “Pukat ditarik sekitar pulul 05.00 WITA dan setelah kejadian tersebut kemudian dilaporkan ke salah satu warga (Bapak VH) dan selanjutnya diteruskan ke DKP Flores Timur,” ungkap Irma.

Penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) yang terkena jaring nelayan di Solor Barat, Flores Timur, NTT siap di lepasliarkan ke habitatnya. Foto : WCU/DKP Flores Timur

Untuk menindaklanjuti laporan yang ada, dibentuklah tim gabungan dari DKP Flores Timur, WCU, serta Misool Baseftin yang kemudian segera menuju lokasi di Kec. Solor Barat. Sesampainya di TKP, Tim langsung memberikan sosialisasi dan informasi kepada nelayan dan warga setempat terkait penyu bahwasanya satwa tersebut dilindungi oleh UU No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Diharapkan dengan sosialisasi terebut, nelayan/masyarakat yang berada disekitar pesisir memahami satwa-satwa yang dilindungi negara termasuk penyu yang memiliki nilai penting bagi ekosistem. Tim kemudian melakukan pendataan/pengukuran satwa yang terkena jarat pukat. Setelah dirasakan cukup pendataan terhadap penyu yang terkena jaring pukat malam kemudian kedua penyu dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

Koordinator peneliti lapangan dari Misool Baseftin, M. Iqbal, menyampaikan kepada Mongabay Indonesia bahwa Misool Baseftin memiliki program untuk perlindungan megafauna laut, termasuk hiu paus dan pari manta sejak tahun 2015.

“Misool Baseftin dalam melakukan kegiatan dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat, penelitian, dan edukasi. Penelitian yang dilakukan seperti catatan landing, populasi ekologi pari manta dan hiu paus, serta melakukan tagging guna melihat pergerakan satwa tersebut melalui satelit,” ungkap Iqbal.

Pendataan penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) yang terjerat jaring nelayan di Solor Barat, Flores Timur oleh pihak DKP Flores Timur dan Misool Baseftin. Foto : WCU/DKP Flores Timur

Data yang didapatkan tersebut kemudian dikoordinasikan dengan DKP Flores Timur. Misool Baseftin juga mendukung pengolahan data serta berbagi informasi hasil penelitian kepada pihak terkait di tingkat kabupaten, provinsi maupun tingkat nasional. Iqbal menambahkan bahwa saat ini, program pemberdayaan masyarakat nelayan melalui bantuan kapal, alat tangkap yang berkelanjutan, koperasi nelayan, dan lainnya.

Dengan melihat kedua kejadian di lokasi tersebut, diharapkan nelayan lebih berhati-hati dalam menangkap ikan dengan menggunakan jaring/pukat karena daerah tersebut diidentifikasikan sebagai lokasi migrasi satwa laut, termasuk hiu paus dan penyu.

Selain itu, temuan oleh nelayan yang selanjutnya dilaporkan kepada pihak berwenang merupakan langkah yang tepat agar kelestarian satwa tersebut dapat diperhatikan serta masyarakat, termasuk nelayan setempat dapat lebih memahami status dan manfaat satwa-satwa di sekitar perairan/laut tersebut bagi ekosistem pesisir dan laut.

Kerjasama antar pihak, baik Pemerintah dan LSM untuk pelestarian dan pengelolaan kawasan pesisir sangat diperlukan sehingga dapat mengurangi ancaman megafauna serta mendorong peningkatan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan.

Sumber: http://www.mongabay.co.id/

Citarum Masih Saja Tercemar Tiap Tahun

0
Kondisi Sungai Citarum di Desa Rajamandala Kulon, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (12/11/2016). Akibat derasnya arus sungai menengelamkan 1 jembatan proyek PLTA Saguling. Foto : Dony Iqbal

Hari lingkungan hidup internasional diperingati setiap tanggal 5 Juni. Kalangan mahasiswa sudah mulai menyikapi persoalan lingkungan yang terjadi dewasa ini. Adalah Sungai Citarum yang jadi sorotan perihal sengkarut permasalahannya yang tak kunjung tuntas.

Seperti diketahui, sungai sepanjang 297 kilometer ini terus dihinggapi berbagai persoalan klasik selama bertahun – tahun. Mengingat sungai memiliki peran stategis dalam menunjangseluruh aspek kehidupan. Seyogyanya mesti ada kejelasan mengenai masa depan Sungai Citarum yang sarat akan nilai sejarah tersebut.

Fenomena itu menjadi topik diskusi yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kabupaten Bandung. Mengangkat tema “Refleksi dan Proyeksi Peran Pemerintah Jawa Barat dalam Mewujudkan Pengelolaan Sungai Ciatarum dari Hulu ke Hilir”. Diskusi sekaligus buka puasa bersama itu dihadiri puluhan mahasiwa dari berbagai jurusan di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Diskusi tentang Pengelolaan Sungai Citarum yang digelar oleh HMI Cabang Bandung di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung, pada Jumat (2/6/2017). Foto : Dony Iqbal

Hadir pula Kepala Bidang Konservasi Lingkungan dan Perubahan Iklim Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat Dewi Nurhayati, Direktur Walhi Jawa Barat, Dadan Ramadan, Redaktur Mongabay Indonesia Nur R Fajar dan Perwakilan Kelompok Pencinta Alam Mahapeka Bandung Siti Dzakiyah.

Ketua Pelaksana, Iqbal Reza Satria mengatakan, diskusi Citarum merupakan bentuk refleksi dari keprihatinan akan kerusakan lingkungan dan bencana yang terus terjadi.

Menurut dia, jangan sampai bencana yang terus berulang itudijadikan sebagai proyek politik. Sementara, inti masalahnya yang mesti dibenahi tidak tersentuh sama sekali. Masyarakat juga jangan diposisikan sebagai korban.

Sebab berdampak pada tumbuhnya sikap pragmatis di masyarakat. Harusnya masyarakat dibina dan disadarkan bahwa masyakat juga merupakan bagian dari perubahan.

Sebagai kaum terpelajar, kata dia, sudah seharunya kita mengawal kebijakan pemerintah terutama soal pembangunan. Dia melanjutkan, pemerintah seolah – olah membuat indikator tersendiri bahwa kemajuan pembangunan diukur dari segi ekonomi semata. Justru malah mengabaikan pembangunan berkelanjutanyang didalamnya ada aspek keseimbangan lingkungan.

“Digelarnya diskusi ini yaitu ingin menyamakan cara pandang dan pemahaman terlebih dulu bagi mahasiswa dan kader HMI. Sehingga di hari lingkungan internasional 5 Juni 2017, kami melakukan aksi turun ke jalan dengan tujuan sama. Yakni mengkampanyekan betapa pentingnya keselarasan lingkungan,” kata di Aula Perpustakaan UIN Bandung, Jalan A.H Nasution, Kota Bandung, Jumat (2/6/2017).

Aktivis Greenpeace aksi damai menandai pipa pembuangan sejumlah pabrik di Majalaya, Bandung, Jawa Barat, dengan membentangkan banner pesan berbunyi “Saya pilih Citarum Bebas Racun”. Aksi ini adalah satu dorongan bagi pemerintah segera mengambil langkah menghentikan industri meracuni aliran sungai penting ini. Foto: Greenpeace

Direktur Walhi Jabar, Dadan Ramadan mengatakan, sudah sejak lama rencana pengentasan permasalahan Citarum sudah dilakukan oleh pemerintah. Triliunan dana APBD dan APBD, bahkan pinjam luar negeri pun turut andil membiayai program penanganan Citarum.

Mulai dari UCBFMP, GNRHL, Citarum Bergetar, ICWRMIP, Citarum Bestari hingga proyek-proyek berbasis CSR pun tidak membuahkan perbaikan dan pemulihan lingkungan DAS Citarum.

Dia menerangkan, program – program itu juga tidak bisa menjawab akar permasalahan. Masalah banjir saja belum terjawab hingga kini.

Selama kurun waktu 30 tahun, sekitar Rp4,5 triliun dari proyek-proyek Citarum ternyata belum dapat menyelesaikan berbagai masalah lingkungan dan sosial seperti pencemaran limbah industri, sampah rumah tangga, lahan kritis di daerah tangkapan air, alihfungsi wilayah-wilayah resapan dan tata guna lahan serta banjir di hulu dan hilir Citarum.

Masalah kawasan hulu di DAS Citarum seperti lahan kiritis, belum ada perubahan signifikan. Menurut data Walhi, kawasan hulu DAS Citarum jumlahnya masih tetap sama—malah ada kecendurungan terus bertambah.

Sungai Citarum di Jawa Barat yang tercemar karena buangan limbah dari industri. Foto : Greenpeace

Kepala Bidang Konservasi Lingkungan dan Perubahan Iklim DLH Jabar, Dewi Nurhayati mengakui, permalasalahan Citarum begitu kompleks tidak hanya sebatas kerugian ekonomi serta banjir. Banyak potensi kerusakan lainnya yangberupa persoalan lingkungan dan sosial yang diakibatkan oleh salah urus DAS dan SUB DAS Citarum baik di hulu, tengah dan hilir.

Berdasarkan data DLH Jabar, tahun 2012 jumlah lahan kritis di hulu Citarum mencapai 117.246 hekatre. Sedangkan pencemaran masih didominasi limbah domestik dan industri.

Dia mengatakan, program pemulihan Citarum sudah dilakukan sejak tahun 2010 dengan berkolaborasi bersama beberapa pihak terkait. Untuk soal pelanggaran, DLH telah membentuk Tim Satgas Lingkunggan Terpadu yang diintruksikan melakukan penindakan.

Selain itu, pengembangan desa eco village dibantaran Sungai Citarum terus dilakukan guna menyosialisasikan kepada masyarakat supaya mulai peduli terhadap lingkungan.“Kami melaksanakan program sesuai kewenangan. Dan berupaya melakukan pemulihan seoptimal mungkin. Karena pengelolaan Citarum masih pada pemerintah pusat. Sehingga ada keterbatasan,” kata Dewi disela – sela diskusi.

Sementara itu, Redaktur Mongabay Indonesia Nur R Fajar menilai, permasalah di Sungai Citarum begitu besar. Kasus perambahan hutan dan ruksaknya vegetasi DAS serta pencemaran limbah belum terselesaikan. Tentu semua pihak tidak tinggal diam melihat Citarum dewasa ini, banyak upaya yang dilakukan baik pemerintah dan non pemerintah.

Sebetulnya, kata dia, Undang – Undang Nomer 32 Tahun 2009 sudah dengan jelas mengatur tata kelola lingkungan. Hanya saja penegakan hukum terhadap lingkungan agak sulit ditegakkan.

“Mungkin lewat mahasiswa upaya konservasi lingkungan dapat terus digalakkan. Misalnya, bisa dengan melakukan advokasi melalui gerakan atau aksi. Mungkin juga bisa dengan kegiatan yang soluktif dimulai dari hal terkecil. Yang terpenting adanya peran untuk perbaikan Sungai Citarum,” kata Fajar yang akrab dipanggil Jay.

Jay menegaskan, Mongabay sendiri concern terhadap permasalahan lingkungan di nusantara termasuk di daerah Bandung Raya. Apabila kuncinya ada dipenyadartahuan kepada semua pihak, maka sudah sepantas hal itu terus dilakukan secara konsisten.

Kondisi Sungai Citarum di Desa Rajamandala Kulon, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (12/11/2016). Akibat derasnya arus sungai menengelamkan 1 jembatan proyek PLTA Saguling. Foto : Dony Iqbal

Dia mencontohkan, Sungai Ciliwung tidak berbeda jauh dengan kondisi Sungai Citarum. Kedua sungai tersebut merupakan sumber air bagi daerahdi sepanjang alirannya. Tetapi, yang membedakan adalah di Ciliwung tumbuh masayarkat yang dengan sadar mengadvokasi tidaknya dibantaran sungai, namun sudah sampai hilir.

“Hal itu menunjukan progres yang baik dan rutin digelar bersih Sungai Ciliwung. Sungai Citarum pun sudah harus muncul kesadaran yang sama, agar menjadi dorongan adanya perbaikan,” kata dia menambahkan.

Sumber: http://www.mongabay.co.id

Action With Mangrove, Aksi Peduli Pesisir oleh Generasi Muda

0

Mangrove memilliki beragam fungsi penting: menyangga pesisir dari badai tropis dan rob, memberi nutrisi pada gugus karang, dan jadi habitat bagi kehidupan laut.

Para peserta Action With Mangrove (AWM) 3 melakukan penanaman bibit mangrove di pesisir Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, Jakarta, Minggu (7/5/2017). (MAPALA UMN)

Sebanyak 250 orang turut serta dalam Action With Mangrove (AWM) 3, kegiatan penanaman 2.000 bibit mangrove di pesisir Pulau Panggang, Minggu, (7/5/2017). AWM merupakan kegiatan yang digagas oleh Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) Universitas Multimedia Nusantara (UMN).

Ada alasan khusus mengapa Pulau Panggang dipilih sebagai lokasi penanaman mangrove. Jumlah penduduk yang sudah tidak sebanding dengan luas wilayah berdampak pada penurunan drastis populasi mangrove. Padahal, mangrove memilliki berbagai fungsi penting, antara lain menyangga pesisir dari badai tropis dan rob, memberi nutrisi pada gugus karang, dan menjadi habitat kaya untuk ikan dan kehidupan liar lain.

Kegiatan penanaman bibit mangrove ini didahului oleh forum diskusi dengan tema “Anak Muda dan Kepedulian Terhadap Pesisir Pulau Indonesia pada Jumat, (5/5/2017). Tujuan diskusi ini, yaitu memberi pembekalan kepada para Aktivis Alam—sebutan untuk peserta AWM, sebelum melaksanakan penanaman mangrove.

Forum diskusi tersebut dihadiri oleh beberapa narasumber, antara lain Ariefsyah M. Nasution (Ocean Campaigner Greenpeace Indonesia), Chintya Tengens Kastanya (Host Jejak Petualang dan Asisten Deputi II Kantor Staf Presiden RI), serta Ade Rachmi Yuliantri atau Amy (Marine Resilient Specialist of The Nature Concervacy Indonesia). Jurnalis Kompas.com, Wahyu Adityo Prodjo, bertugas sebagai moderator dalam forum tersebut.

Selain kegiatan penanaman mangrove, Action With Mangrove 3 juga diisi dengan forum diskusi dengan tema “Anak Muda dan Kepedulian Terhadap Pesisir Pulau Indonesia pada Jumat, (5/5/2017). (MAPALA UMN)

Ariefsyah memaparkan bahwa setidaknya ada tiga ekosistem penting yang menjaga kelestarian pesisir, diantaranya terumbu karang, padang lamun dan mangrove. Menurutnya ketiga ekosistem tersebut sangat mempengaruhi kemampuan adaptasi pesisir dari perubahan iklim.

“Ada tiga ekosistem penting dari sekian banyak ekosistem penting lainnya bagi pesisir, namun the most important ecosystem di pesisir adalah Mangrove seperti yang sedang dikampanyekan, lalu padang lamun dan terumbu karang,” ujarnya.

Sepakat dengan pernyataan Arief, Amy menambahkan bahwa dari hasil penelitian, Lamun dan Mangrove masuk ke dalam ekosistem karbon biru (blue carbon). Karbon biru merujuk pada kemampuan ekosistem laut dan pesisir menjaga keseimbangan penyerapan karbon dan potensi pengurangan emisi gas rumah kaca. Selain itu, menurut Amy mangrove sangat berguna bagi warga pesisir secara ekonomis dan ekologis.

“Pentingnya mangrove bagi pesisir secara ekonomi bisa dimanfaatkan produk-produknya dan juga fungsi ekologisnya bisa menahan abrasi dan tempat hidup hewan-hewan kecil,” katanya.

Sementara itu, Chintya Tengens mengatakan bahwa selama ini, masih banyak anak muda yang melakukan aksi pelestarian demi eksistensi semata.

Para peserta Action With Mangrove (AWM) 3, kegiatan penanaman 2.000 bibit mangrove di pesisir Pulau Panggang, Minggu, (7/5/2017). AWM merupakan kegiatan yang digagas oleh Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) Universitas Multimedia Nusantara (UMN). (MAPALA UMN)

“Banyak komunitas pecinta alam atau peduli lingkungan, tapi banyak orang didalamnya yang terlibat secara apatis, saya bilang apatis karna (beberapa orang) datang sekali, gabung sekali, foto-foto sekali kemudian di posting di instagram (dengan hastag) Saya Cinta Lingkungan,” tuturnya.

Namun, tindakan sehari-hari mereka justru tak selaras dengan pelestarian alam, misalnya menggunakan kantong plastik semaunya. Ia menambahkan, masih ada banyak hal sepele semacam itu yang terlupakan. Menurut Chintya, kepedulian anak muda terkait isu lingkungan pun masih menjadi sebuah pekerjaan rumah bagi semua pihak.

Dalam acara penutupan, Ketua Pelaksana AWM 3, Varian Jonathan berpesan kepada seluruh Aktivis Alam untuk terus peduli terhadap lingkungan. Ia berharap, berakhirnya acara AWM 3 tak menjadi akhir kepedulian para Aktivis Alam terhadap lingkungan sekitar.

(Tim Humas MAPALA UMN)

Sumber: http://nationalgeographic.co.id/

Indonesia Adalah Jalur Penting Migrasi Burung, Anda Mengetahui?

0
Sikep-madu asia. Foto: Khaleb Yordan

Belahan Bumi utara mulai memasuki musim dingin, sumber makanan terus berkurang. Saat itu jutaan burung melakukan tradisi tahunannya, terbang ke belahan Bumi selatan. Pengembaraan ini yang kita kenal dengan sebutan migrasi burung atau migratory bird.

Alasan kuat kenapa burung-burung bermigrasi adalah bukan menghindari suhu dingin semata, tetapi juga mencari makan untuk melangsungkan hidupnya. Suhu dingin mengakibatkan cadangan makanan mereka berkurang.

“Burung merupakan satwa homeotermis, tidak terpengaruh suhu lingkungan karena dapat mengatur suhu tubuhnya,” tutur Zaini Rakhman, Ketua Raptor Indonesia (Rain) saat memaparkan perilaku raptor bermigrasi, pada peringatan Hari Migrasi Burung Sedunia atau World Migratory Bird Day di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dara-laut sayap-putih. Foto: Khaleb Yordan

Setiap tahun, ribuan burung raptor bermigrasi ke Bumi bagian selatan melalui dua jalur. Pertama, koridor daratan sebelah timur (Eastern inland corridor) yaitu jalur yang dilalui para raptor dari tenggara Siberia melalui timur Tiongkok menuju semenanjung Malaysia, lalu mendarat di Indonesia yakni Jawa, Bali, dan Lombok.

Kedua, Koridor Pantai Pasific (Coastal pacific corridor) yaitu jalur yang akan dilalui oleh burung-burung dari timur Rusia yang melewati Kepulauan Jepang dan Taiwan, lalu ke selatan Filipina dan menepi di wilayah Sunda Besar. “Dalam sekali migrasi, mereka dapat terbang hingga jarak 15.000 kilometer dengan waktu tempuh 50 – 70 hari,” ungkap Zaini.

Dalam perjalanan migrasinya, raptor biasa terbang siang hari. Ketika malam, mereka mencari tempat singgah untuk istirahat (roosting). Di tempat peristirahatan, mereka dapat menghabiskan waktu 3 sampai 14 hari untuk mencari makan dan kemudian kembali melanjutkan perjalanannya (stop over).

Uniknya, para raptor itu menggunakan jam internal yang mereka miliki untuk mendeteksi lokasi matahari dan magnet bumi. Dengan bantuan udara panas, mereka dapat terbang tinggi dan meluncur deras. Perilaku itu dapat mengehemat tenaga mereka selama perjalanan migrasi ke tempat tujuannya.

Cerek topi-merah. Lokasi di Kupang. Foto: Oki Hidayat

Tidak kurang 60 jenis raptor setiap tahunnya bermigrasi ke Asia Tenggara, 19 di antaranya ke Indonesia sebelum akhirnya kembali ke habitat berbiaknya. Sebut saja sikep-madu asia (Pernis ptilorhyncus), elang-alap cina (Accipiter soloensis), elang-alap nipon (Accipiter gularis), baza hitam (Aviceda leuphotes), elang kelabu (Butastur indicus), dan alap-alap kawah (Falco peregrinus).

Diperkirakan, puluhan ribuan burung bermigrasi ke daerah hangat di Asia, termasuk Indonesia. Ancaman selalu mengintai burung-burung migran tersebut, mulai dari perubahan iklim, bencana alam, kerusakan hutan, hingga perburuan. Beberapa kejadian seperti kerusakan hutan akibat alih fungsi lahan dan kebakaran menghambat migrasi mereka.

Indonesia sebagai salah satu wilayah penting yang menjadi jalur utama berbagai jenis burung migran, turut mengalami hal tersebut. Tingkat kerusakan hutan di Indonesia yang terus terjadi, menyebabkan raptor yang bermigrasi ke Nusantara berkurang.

“Cukup sulit memperdiksi kapan pastinya burung-burung itu tiba di Indonesia. Setiap tahun selalu ada pergeseran waktu, salah satu penyebabnya adalah bencana alam yang memengaruhi jalur migrasinya,” tutur Zaini.

Gajahan pengala. Lokasi di Bali. Foto: Deny Hatief

Tantangan

Dalam kesempatan yang sama, Ragil Satriyo dari Wetlands International Indonesia mengungkapkan, tantangan terkini konservasi burung bermigrasi adalah kurangnya edukasi dan penyadartahuan kepada masyarakat sehingga banyak beredar persepsi yang salah. Seperti,  daging burung enak dan tidak dimiliki siapapun sehingga bebas untuk ditangkap atau diburu. Bahkan, diduga membawa virus flu burung. “Burung yang bermigrasi dianggap membawa dan menyebabkan virus flu burung. Padahal teori dan praktiknya tidak seperti itu,” jelas Ragil.

Tantangan lainnya adalah minimnya data yang berkesinambungan. “Jumlah burung yang bermigrasi ke Indonesia sangat banyak, tapi tidak diimbangi dengan jumlah para ahli dan pengamatnya.”

Untuk itu, keterlibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian burung harus terus ditingkatkan dengan “citizen science”. Konsep ini merupakan keterlibatan masyarakat dan warga negara dalam kegiatan ilmiah. Warga diajak aktif berkontribusi pada ilmu pengetahuan, dengan upaya intelektualnya maupun lingkungan sektiar, dan sumber daya yang dimilikinya.

“Kita menggunakan konsep citizen science untuk mengajak masyarakat terlibat langsung. Kita ajak juga mengamati burung. Sudah banyak bentuk citizen science ini dalam bentuk web laporan online dan blog. Bahkan bisa diunduh di Android Playstore,” terang Ragil.

Salah satu bentuk citizen science. Tampilan Atlas Burung Indonesia, situs pelaporan pengamatan burung online. Sumber: Atlasburung.web.id

Hari Migrasi

Dalam kamus Dictionary of Birds disebutkan bahwa migrasi merupakan pergerakan populasi burung yang terjadi pada waktu tertentu setiap tahun, dari tempat berbiak menuju tempat mencari makan selama iklim di tempat berbiaknya itu tidak memungkinkan. Di tempat baru tersebut, burung-burung ini tidak akan berbiak, dan baru berbiak jika sudah kembali ke tempat asal pada musim berbiak berikutnya (Campbell, 1985).

Berkaca dari makna tersebut dapat dikatakan bahwa kegiatan migrasi yang dilakukan burung merupakan cara untuk beradaptasi berkaitan dengan ketersedian pakannya di alam akibat perubahan cuaca di tempat asalnya.

Perayaan Hari Migrasi Burung Sedunia atau World Migratory Bird Daya (WMBD) selalu diperingati setiap tahunnya pada minggu kedua Mei. Tahun ini, perayaan WMBD 2017 mengusung tema “Their future is our Future. A healthy planet for migratory birds and people”. Tema tersebut seolah menjelaskan adanya keterhubungan erat antara manusia dan alam, khususnya manusia dan satwa yang bermigrasi.

Tampilan aplikasi Burungnesia yang dapat didownload langsung di playstore android. Sumber: Google playstore

Satwa yang bermigrasi dalam hal ini adalah burung. Burung dan manusia tinggal di planet yang sama dan menggunakan sumber daya yang sama. Tema tersebut menunjukkan bahwa konservasi untuk burung melalui pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan juga penting bagi kelanjutan masa depan umat manusia.

Sebagai negara yang menjadi lintasan utama dan tujuan akhir berbagai jenis burung migrasi, Indonesia tentunya memiliki peran penting dalam melestarikan burung-burung migran tersebut. “Kita menyadari setiap tahunnya jumlah burung yang bermigrasi ke Indonesia semakin berkurang. Kepedulian kita bersama harus ditingkatkan, terutama pada upaya keselamatan berbagai jenis burung yang bermigrasi itu,” ungkap Fransisca Noni dari Burung Nusantara.

Peta jalur migrasi burung pemangsa. Sumber: Raptor Indonesia

Sumber: http://www.mongabay.co.id/

Wali Pohon - MDC Wanadri

0FansLike
815FollowersFollow
4,673SubscribersSubscribe

Podcasts

Latest sermons

Block title