FK3I Minta Macan Tutul Dilepasliarkan

Konflik hewan liar dengan manusia, khususnya macan tutul (Panthera pardus melas) terjadi beberapa tahun terakhir. Tahun 2009, macan tutul tertangkap di sekitar Gn. Syawal Ciamis Jawa Barat dan pada tahun 2013 terjadi hal yang sama di sekitar Gn. Cikuray. Keduanya tertangkap masyarakat sekitar. Mutakhir, pada 11 Agustus 2015, seeekor  macan kumbang ditangkap warga yang meminta uang tebusan kepada pihak terkait/BBKSDA Jawa Barat sebesar Rp100 juta dengan alasan konvensasi dan ganti rugi. Hampir seminggu macan tersebut menjadi tontonan warga hingga akhirnya pada 18 agustus 2015 macan tersebut menjadi penghuni kandang salah satu taman satwa/kebun binatang di daerah Garut. Tahun 2016 ini, tepatnya malam hari tanggal 5 September 2016 telah ditangkap lagi seekor macan tutul di Cikupa Ciamis dan dua hari disandera warga.

Dari informasi lapangan di Ciamis , warga menangkap macan tutul pada 5 September malam, Esoknya, petugas BBKSDA datang dan melakukan negosiasi agar macan tersebut diserahkan kepada BBKSDA sebagai pihak yang berwenang. Namun, warga tidak mau dan meminta sejumlah tebusan, “Dari data kami, warga ini telah 3 – 4 kali melakukan penangkapan macan tutul yang turun ke permukiman warga, Dari cara penangkapan dan bahan yang disiapkan, dia seperti seorang profesional sehingga perlu diselidiki,” kata Ketua Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I), Dedi Kurniawan dalam rilisnya, Jumat (28/9/2018).

Dari aspek sosial budaya, macan tutul Jawa memegang peran besar dalam budaya masyarakat Jawa khususnya Jawa Barat. Macan tutul sering diidentikkan  dengan harimau atau maung (bahasa Sunda) karena masyarakat tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk membedakan kedua spesies ini. Harimau di mata masyarakat Jawa masih sering dianggap sebagai jelmaan dari Prabu Siliwangi.  Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) telah  dipilih sebagai fauna indentitas Jawa Barat berdasarkan keputusan Gubernur Jawa Barat Nom0r 27 Tahun 2005.

Belum genap satu bulan, tepatnya pada 28 September 2018, warga yang sama telah membuat perangkan dan berhasil menangkap lagi macan tutul. “Kami dari Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia dengan tegas meminta macan tutul tersebut segera dilepasliarkan. Macan tutul tersebut masih sehat dan layak langsung dilepasliarkan dibandingkan dibawa ke lembaga konservasi seperti Taman Safari atau kebun binatang,” ujar Dedi menegaskan.

Selain itu, Dedi juga meminta Gubernur Jawa Barat untuk turun tangan menegakkan Keputusan Gubernur Nomor 27 Tahun 2005 tentang Hewan Identitas Jawa Barat. “Kita juga harus menginventarisasi macan tutul dari G. Syawal yang berada di lembaga-lembaga konservasi tadi,” katanya lagi.*

Macan tutul (Panthera pardus welas) dari Gunung Syawal yang ditangkap wargaCikupa Ciamis pada Jumat (28/9/2018) .