Jumat (26/10/2018) pagi, matahari yang baru saja menjenguk bumi Priangan seperti datang untuk menjemput Kang Usol ke angkasa yang dicintainya. Pukul 5.15, Kang Usol – Saleh Sudrajat  (W-239TR) – akhirnya menyerah kepada sang waktu yang telah ditakdirkan Allah swt. Dewa Angkasa telah dipanggil Sang Pemilik Waktu. Namun,  dengan kasih sayang, Dia juga mengizinkan Kang Usol menghadap-Nya pada hari Jumat sesuai keinginannya. Semuah sudah tuntas Kang! Banyak kenangan yang tertancap di memori anggota Wanadri, tetapi Kang Usol bukan hanya milik Wanadri. Kang Usol adalah milik bangsa Indonesia. Kiprah danjasanya bukan hanya untuk Wanadri, melainkan untuk Indonesia Raya. Jasamu abadi!

Berikut, kami cuplik sebuah kenangan yang disampaikan Kang T. Bachtiar dalam akun facebooknya.

Selamat Jalan Ujang Soleh….

 

12 Januari 2013

Saya menerima empat foto kars Citatah yang difoto dari pesawat trike dengan pilot “Kang Usol” Saleh Sudrajat, anggota WANADRI. Kemungkinan pemotretan ini atas pesanan dari FORTUGA ITB, karena di sana ada sahabatnya sesama WANADRI, yaitu Iwan Hignasto Bungsu. Ini dokumen sangat penting tentang kars Citatah,Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Pengalaman terbang bersama Kang Usol, saya pernah digonceng naik trike keliling Bandung Selatan. Waduh, terbangnya rendah, jadi anginnya kenceng banget. Inilah terbang pertama saya. Di antara celah gunung di Situ Cileunca, anginnya tambah kenceng. Sayap trike ditiup kencang, sampai beberapa kali seperti kegenjot turun, seperti ada udara hampa. Saya mulai dingin. Sering melihat ke bawah. Oh, itu kebun teh. Kalau jatuh ke sana agak empuk lah…. Ketika angin bertiup kencang lagi, dan Kang Usol menggerak-gerakan kemudi di tangannya ke depan dan belakang, saya melihat ke bawah, oh, air, empuklah…. Saya tidak berkomentar apa pun saat di atas… Saya memendam sendiri apa yang saya rasakan….

Bandung Selatan dari ketinggian indah sekali. Ada air terjun, situ, tebing yang terjal, jalan berkelok, sawah berteras, pipa PLTA menukik, dan kehancuran hutan Bandung Selatan yang kini berganti menjadi kebun kentang dan bawang. Ketika memotret lapangan panas bumi Gunung Wayang, Kang Usol berkali-kali bertanya, bagaimana gambarnya bagus? Mau dari sudut mana? Tanpa menunggu jawaban, pesawat trikenya sudah berputar lagi, dan memberikan kesempatan kepada saya untuk memotret berkali-kali dari sudut yang berbeda. Perjalanan tetap terbang rendah, angin terasa menderu.
Naik pesawat trike itu seperti naik ojeg di langit. Angin langsung menabrak tubuh. Pipi dan bibir bergetar ditabrak angin kencang. Pesawat diarahkan ke barat, lalu berputar balik ke Soreang. Di lapangan depan PEMDA Kabupaten Bandung sedang ada upacara. Walah, terbangnya semakin direndahkan. Pantat saya terasa mau ketusuk menara masjid. Peserta upacara kaget melihat pesawat trike terbang rendah, lalu dadah dadah… Terlihat sudut bibirnya tersenyum. Saya semakin dingin.

Akhirnya pesawat siap-siap turun kembali di lapangan udara Sulaiman Margahayu. Saya turun, berjalan ke hanggar, terasa belum semua jiwa-raga saya berkumpul sepenuhnya. Pakde di hanggar sudah menyediakan teh panas. Dia ngajak salaman. “Lha, kok pucet dan dingin banget… Ayo minum dulu teh panas….”
Saat bertemu Wa Kacus setelah sekian lama terbang, ia berkomentar, “Uyuhan… kalau di Amerika, Pemerintah akan menganugerahkan bintang keberanian karena sudah mau diajak terbang sama Kang Usol… Hahaha…”

Menjelang pagi hari Jum’at, 26 Oktober 2018, saya mendapat kabar dari Ceu Nia, salah seorang anggota keluarga besar Sumedang, bahwa Kang Usol sudah pergi. Saya sedang di Cililin, jadi tidak bisa melayat. Doa untuk Kang Usol, Ujang Soleh, semoga Allah swt. memaafkan segala hilafnya, dilapangkan di alam kuburnya, diterima iman Islamnya, dan ditempatkan di surga yang paling indah. Amin.
Selama dalam pergaulan, tampilannya selalu bersih, rapi, gagah, selalu tersenyum, selalu hangat menyapa, dan badge WANADRI selalu menempel di lengan bajunya. Ya, peragawan, bintang iklanlah, keren… Tapi kalau ada hal yang menyinggung prinsipnya, ia akan membela kebenaran prinsipnya sekuat dia bisa, seperti pernah saya saksikan di dalam hanggar di Lanud Sulaiman.
Kang Usol, terima kasih saya sudah diajak terbang di udara Bandung. Pengalaman terbang yang tak akan pernah saya lupakan. (T. Bachtiar)