Artikel Penjelajahan

Antrean Menuju Puncak Mengular, Pendaki Everest Tewas

Antrean pendaki saat menuju puncak Everest di ketinggian lebih dari delapan ribu meter. Tempat yang sangat terbuka pada punggungan gunung dengan jalur yang berliku dan sangat berisiko tertiup angin kencang. Daerah ini biasa disebut “zona kematian”. (Foto: globalnews.ca)*

Kathmandu – Dua pendaki meninggal dunia di Gunung Everest setelah sekelompok orang terjebak dalam antrean yang mengular menuju puncak gunung tertinggi di dunia tersebut. Mereka terlalu lama berada di “zona kematian” yakni tempat terbuka berupa punggungan gunung pada ketinggian di atas delapan ribu meter.

Pendaki asal India, Anjali Kulkarni, 55 tahun, meninggal saat perjalanan kembali dari puncak Everest, Rabu (23/5/2019). Menurut penuturan putranya, Shantanu Kulkarni, dia terjebak di antrean saat berada di kamp 4 yang merupakan pos terakhir menuju puncak.

Lalu ada pendaki asal Amerika Serikat, Donald Lynn Cassh, 55 tahun, yang juga meninggal pada hari yang sama. “Karena sindrom ketinggian setelah menuruni puncak dan tertahan karena antrean yang panjang,” kata salah seorang petugas biro perjalanan Nepal Pioneer Adventure Pvt. Ltd, dikutip dari CNN, Minggu (26/5/2019).

Bahkan, katanya mengimbuhkan, sherpa atau pemandu Gunung Everest menariknya untuk turun gunung. “Upaya terbaik telah dilakukan. Pasokan oksigen yang cukup dan dukungan medis tapi mereka tidak dapat menyelamatkan hidupnya,” katanya.

Pendaki Nirmal Purja membagikan foto pada akun Instagramnya mengenai kondisi jalur menuju puncak Everest yang dipadati pendaki pada Rabu (23/5/2019). Foto yang diunggah dan dibagikan menunjukkan tempat yang sangat terbuka pada punggungan gunung dengan jalur yang berliku dan sangat berisiko tertiup angin kencang. Daerah ini biasa disebut “zona kematian”.

Nirmal mengatakan, ada sekira 320 pendaki dalam antrean menuju puncak gunung dengan ketinggian 8.848 mdpl tersebut. Pada tingkat ini, setiap hirupan napas hanya mengandung sepertiga oksigen. Kondisi tubuh manusia juga cepat memburuk pada ketinggian itu. Artinya, kebanyakan orang hanya dapat menghabiskan beberapa menit di atas sana jika tanpa pasokan oksigen tambahan. Hal ini juga menjadi salah satu faktor kematian.

Terlepas dari meningkatnya popularitas Everest, kondisinya tetap sangat ekstrem. Disampaikan Purja, saat dirinya melakukan pendakian suhu di gunung mencapai minus 25 derajat celsius.

Dikutip dari kantor berita AFP, hingga Sabtu (25/5/2019), total 10 pendaki tewas di Gunung Everest. Terakhir adalah pendaki asal Inggris Robin Fisher yang berhasil mencapai puncak pada Sabtu (25/5/2019) pagi. Namun, dia tak sadarkan diri ketika menuruni lereng baru mencapai 150 meter.

Sebelumnya, otoritas Nepal mengeluarkan 381 izin masing-masing seharga 11.000 dollar AS atau sekira Rp 158 juta untuk pendakian musim semi kali ini. Setiap pendaki yang berizin dibantu setidaknya oleh seorang sherpa. (iar)*