Artikel Lingkungan

BBKSDA Riau akan Pindahkan Pusat Latihan Gajah dari Minas ke Hutan Talang

Sejumlah pawang menggunakan gajah sumatera jinak untuk menenangkan anak gajah liar yang baru dievakuasi di Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas Provinsi Riau, Jumat (14/9/2018). BBKSDA Riau berencana memindahkan lokasi PLG tersebut ke Hutan Talang di Kabupaten Bengkalis. Kondisi PLG Minas dinilai sudah tidak sehat dan tidak layak. (Dok. Foto: Antara/FB Anggoro/Pras).*

Pekanbaru – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau berencana memindahkan Pusat Latihan Gajah (PLG) sumatera jinak dari Minas di Kabupaten Siak ke Hutan Talang di Kabupaten Bengkalis.

Kepala BBKSDA Riau Suharyono mengatakan ada dua hal yang menjadi alasan mengapa PLG tersebut mesti dipindahkan. Pertama, karena kondisi fasilitas yang ada di Minas dinilai sudah tidak layak. Kedua, pemindahan tersebut bisa menyelamatkan Hutan Talang yang tersisa.

“Saya yakin, kepala balai sebelum saya pun sudah berpikir tapi mungkin tak ada yang berani ngomong. Kalau saya berani,” kata Suharyono, Selasa (7/5/2019), dikutip dari Antara.

Kata dia menegaskan, kondisi PLG Minas kurang sehat untuk gajah jinak. Hal ini bisa dilihat dari minimnya fasilitas kolam untuk gajah. Demikian juga dengan kondisi lingkungan yang sudah lama terpapar tanah bercampur minyak tambang sejak puluhan tahun lalu.

Akses menuju PLG Minas yang sangat jauh, kata Suharyono, juga menjadi penyebab sulitnya mobilisasi gajah jinak bila diperlukan untuk operasi menghalau gajah liar.

Menurut dia, kondisi yang kurang sehat itu dinilai secara tidak langsung mempengaruhi kondisi puluhan gajak jinak di sana. Mungkin juga hal ini menjadi salah satu penyebab tidak adanya gajah pejantan di PLG Minas yang menghasilkan keturunan dari betina yang ada.

“Yang bunting cuma satu, dan itu pun dari gajah jantan liar yang mendekati gajah jinak di sana,” kata Suharyono mengungkapkan.

Terkait alasan kedua, dia mengatakan, pemindahan PLG Minas untuk mencegah rencana Pemkab Bengkalis yang akan membangun jalan lingkar dengan membelah Hutan Talang. “Kalau jalan dibikin di sana, saya yakin hutan itu akan hilang. Lebarnya 20 meter itu pasti hilang karena muncul warung dan sebagainya. Ini kedua masalah kalau bisa kita tangani bersama. Jadikan Hutan Talang pusat konservasi gajah. Namanya pusat konservasi dan edukasi gajah sumatera Riau,” tuturnya.

Direncanakan, pusat gajah yang baru nanti punya luas sekira 400 hektare. Lahan ini berupa gabungan kawasan hutan dan hutan lindung yang jadi aset perusahaan minyak PT Chevron Pasific Indonesia. Saat ini, proses rencana tersebut sedang dibicarakan dengan pihak Chevron dan SKK Migas.

Apabila rencana ini berhasil, masih kata Suharyono, pusat konservasi dan edukasi gajah Riau akan menjadi salah satu warisan berharga dari Chevron untuk konservasi di Provinsi Riau. “Inilah legacy Chevron di bidang konservasi yaitu menjaga Hutan Talang dan satwa endemik Riau yang semakin hilang,” katanya. (iar)*