ArtikelArtikel Kemanusiaan

Bencana-Bahaya Geologi, Kamis (5-5-2020)

Gunung Karangetan di Sulawesi Utara. (Foto/WIkipedia)

1. Gunungapi

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara)

Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Karangetang (1.784 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 29 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 100 m. Warna kolom abu teramati.

Gunung api jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah tenggara dan barat daya. Suhu udara sekitar 26-33°C.

Melalui rekaman seismograf pada 04 Maret 2020 tercatat:

  • 4 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 5 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0,25 mm (dominan 0,25 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 2.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral dari Kawah Dua ke arah Barat Laut-Utara sejauh 4 km. Dan dari kawah utama sejauh 3 km ke arah barat.
  • Masyarakat di sekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu.
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 25 November 2018, pukul 13:32:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara)

Tingkat aktivitas sejak tanggal 20 Mei 2019 pukul 10.00 WIB diturunkan menjadi Level III (Siaga). G.Sinabung (2.460 m dpl) mengalami erupsi sejak tahun 2013. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 09 Juni 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7000 m. Warna kolom abu teramati Hitam.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 50-400 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah timur, tenggara, selatan, barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 15-26°C.

Melalui rekaman seismograf pada 04 Maret 2020 tercatat:

  • 4 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Low Frekuensi
  • 2 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak G.Sinabung, serta radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dihimbau memakai masker bila keluar rumah untuk mengurangi dampak kesehatan dari abu vulkanik. Mengamankan sarana air bersih serta membersihkan atap rumah dari abu vulkanik yang lebat agar tidak roboh.
  • Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 10 Juni 2019, pukul 15:21:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 2960 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.

Gunungapi Agung (Bali)

Gunungapi Agung di Bali kembali memasuki fase erupsi mulai 21 November 2017 hingga saat ini,setelah beristirahat lebih dari 53 tahun. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level III (Siaga). Letusan terakhir terjadi pada tanggal 13 Juni 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah timur. Suhu udara sekitar 21-30°C. Kelembaban 67-95%.

Melalui rekaman seismograf pada 04 Maret 2020 tercatat:

  • 4 kali Gempa Hembusan
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 2 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 03 Maret 2020, pukul 06:49:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 9142 m di atas permukaan laut atau sekitar 6000 m di atas puncak.

Gunungapi Semeru (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Semeru (3.676 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 04 Maret 2020 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50-100 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara, timur laut, selatan dan barat. Suhu udara sekitar 22-28°C.

Teramati Letusan 6 kali dengan tinggi asap 100-200 m, warna asap putih tebal kea rah Utara.

Teramati guguran lava pijar sebanyak 16 kali dengan jarak luncur 300-1000 m dari ujung lidah lava (kl. 750 m dari kawah) ke arah Besuk Kembar, Besuk Bang dan Besuk Kobokan.Pada malam hari pada saat gunung jelas teramati api diam dengan tinggi 10-50 m.

Melalui rekaman seismograf pada 04 Maret 2020 tercatat:

  • 61 kali Gempa Letusan/Erupsi
  • 1 kali Gempa Hembusan
  • 1 kali Gempa Getaran Banjir

Rekomendasi:

  • Masyarakat tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1 km dan wilayah sejauh 4 km di sektor lereng selatan-tenggara kawah aktif yang merupakan wilayah bukaan kawah aktif G. Semeru (Jongring Seloko) sebagai alur luncuran awan panas.
  • Mewaspadai gugurnya kubah lava di Kawah Jongring Seloko.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 04 Maret 2020, pukul 06:12:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3876 m di atas permukaan laut atau sekitar 200 m di atas puncak.

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 11 Februari 2020 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah timur laut dan timur. Suhu udara sekitar 24.5-26.5°C. Kelembaban 47-63%.

Melalui rekaman seismograf pada 04 Maret 2020 tercatat:

  • 4 kali Gempa Low Frekuensi
  • 2 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • Tremor Menerus, amplitudo 0,5-8 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi: Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 11 Februari 2020, pukul 10:06:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

Gunungapi Merapi (Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Merapi (2.968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 03 Maret 2020 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah timur. Suhu udara sekitar 14.5-27.9°C. Kelembaban 30-90%. Tekanan udara 627.6-709.65 mmHg.

Melalui rekaman seismograf pada 04 Maret 2020 tercatat:

  • 9 kali Gempa Guguran
  • 4 kali Gempa Hembusan
  • 4 kali Gempa Low Frekuensi
  • 4 kali Gempa Hybrid/Fase Banyak
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal

Rekomendasi:

  • Potensi ancaman bahaya saat ini berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava dan jatuhan material vulkanik dari letusan eksplosif.
  • Area dalam radius 3 km dari puncak G. Merapi agar tidak ada aktivitas manusia.
  • Masyarakat agar mengantisipasi bahaya abu vulkanik dari kejadian awanpanas maupun letusan eksplosif.
  • Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak G. Merapi.
  • Informasi aktivitas G. Merapi dapat diakses melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz, melalui telepon (0274) 514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id, dan media sosial BPPTKG (facebook: infobpptkg, twiter: @bpptkg).

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit pada tanggal 03 Maret 2020, pukul 17:27:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

Gunungapi Dukono (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Dukono (1.229 m dpl) mengalami erupsi menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 02 Maret 2020 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 200-500 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah selatan dan barat daya. Suhu udara sekitar 26-30°C. Kelembaban 82-83%.

Melalui rekaman seismograf pada 04 Maret 2020 tercatat:

  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0,5-10 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.
  • Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 13 Februari 2020, pukul 21:01:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1529 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak.

Gunungapi Ibu (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Ibu (1.340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati berwarna putih-kelabu dengan tinggi 200-800 m. Arah asap kea rah selatan dan barat. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah barat -selatan. Suhu udara sekitar 26-30°C. Kelembaban 82-83%.

Melalui rekaman seismograf pada 04 Maret 2020 tercatat:

  • 73 kali Gempa Letusan
  • 111 kali Gempa Hembusan
  • 51 kali Gempa Guguran
  • 6 kali Tremor Harmonik
  • 3 kali Gempa Low Frekuensi
  • 7 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 2 km dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan kawah di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat yang beraktivitas diluar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 20 Februari 2020, pukul 11:20:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Gamalama mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018. Letusannya hampir selalu bersifat magmatik. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 04 Oktober 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 250 m. Warna kolom abu teramati Putih hingga Kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas sedang tinggi sekitar 50-150 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin sedang ke arah barat laut. Suhu udara sekitar 26-31°C. Kelembaban 75-91%.

Melalui rekaman seismograf pada 04 Maret 2020 tercatat:

  • 2 kali Gempa Hembusan
  • 3 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Lokal
  • 10 kali Gempa Tektonik Jauh
  • 1 kali Gempa Getaran Banjir

Rekomendasi:

  • Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari kawah puncak G.Gamalama
  • Pada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G. Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 10 Oktober 2018, pukul 19:26:00 WIT. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m di atas puncak.

Gunungapi Kerinci (Jambi, Sumatera Barat)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). G. Kerinci (3.805 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 30 Maret 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 600 m. Warna kolom abu teramati Kelabu.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna cokelat dengan intensitas sedang tinggi sekitar 150-300 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin sedang ke arah barat. Suhu udara sekitar 22-25°C. Kelembaban 67-71%.

Melalui rekaman seismograf pada 04 Maret 2020 tercatat:

  • 81 kali Gempa Hembusan
  • 5 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali Gempa Tektonik Jauh
  • Tremor Menerus, amplitudo 0,5-1 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi:

  • Masyarakat disekitar gunungapi kerinci dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki kawah yang ada dipuncak gunungapi kerinci didalam radius 3 km dari kawah aktif (masyarakat dilarang beraktifitas didalam radius bahaya/KRB III).
  • Sebaiknya jalur penerbangan disekitar gunungapi kerinci dihindari karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 04 Maret 2020, pukul 07:55:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 4105 m di atas permukaan laut atau sekitar 300 m di atas puncak.

Gunungapi Bromo (Jawa Timur)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Bromo (2.329 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Juli 2019 dengan tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis tinggi sekitar 50-500 meter dari puncak. Cuaca berawan hingga hujan, angin lemah ke arah utara, timur laut dan timur. Suhu udara sekitar 11-19°C.

Melalui rekaman seismograf pada 04 Maret 2020 tercatat: Tremor Menerus, amplitudo 0,5-1 mm (dominan 1 mm)

Rekomendasi: Masyarakat di sekitar G. Bromo dan pengujung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif G. Bromo

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit pada tanggal 19 Juli 2019, pukul 18:52:00 WIB. Erupsi tidak teramati.

Gunungapi Slamet (Jawa Tengah)

Tingkat aktivitas Level II (Waspada) G. Slamet (3.432 m.dpl) pada 9 Agustus 2019 pukul 09.00 WIB. Rekaman keGempaan dan deformasi terdeteksi mengalami kenaikkan pada Juni 2019.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal tinggi sekitar 50 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah ke arah barat. Suhu udara sekitar 23.5-25.8°C.

Melalui rekaman seismograf pada 04 Maret 2020 tercatat:

  • 58 kali Gempa Hembusan
  • Tremor Menerus, amplitudo 0,5-4 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi: Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/beraktivitas dalam radius 2km dari kawah puncak G. Slamet.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit pada tanggal 28 Januari 2020, pukul 08:10:00 WIB. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 3528 m di atas permukaan laut atau sekitar 100 m di atas puncak.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara)

G. Soputan (1.809 m dpl) mengalami penurunan aktivitas vulkanik sehingga tingkat aktivitasnya diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung sejak 8 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 16 Desember 2018 menghasilkan tinggi kolom erupsi 7000 m. Warna kolom abu teramati Kelabu hingga Hitam.

Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah tenggara. Suhu udara sekitar 20-31°C.

Melalui rekaman seismograf pada 04 Maret 2020 tercatat:

  • 18 kali Gempa Guguran
  • 1 kali Gempa Harmonik
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali Gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali Gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi:

  • Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 1.5 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 2.5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman leleran lava dan awan panas guguran.
  • Mewaspadai terjadinya ancaman aliran lahar, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng G. Soputan, seperti S. Ranowangko, S. Lawian, S. Popang dan Londola Kelewahu.
  • Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi terhadap gangguan saluran pernapasan.

VONA: VONA terakhir terkirim kode warna RED, terbit pada tanggal 16 Desember 2018, pukul 05:54:00 WITA. Abu vulkanik teramati dengan ketinggian 8809 m di atas permukaan laut atau sekitar 7000 m di atas puncak.

2. Gempabumi

Gempa bumi di Perairan Barat Kep. Mentawai, Sumatera Barat

Informasi Gempa bumi:

Gempa bumi terjadi pada hari Rabu, 4 Maret 2020, pukul 20:36 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempa bumi terletak pada koordinat 99,44° BT dan 3,58° LS (lokasi berjarak 173 km baratdaya Tua Pejat, Kepulauan Mentawai) dengan magnitudo M5,2 pada kedalaman 12 km. GFZ, Jerman melalui GEOFON program menginformasikan bahwa gempa bumi berpusat di koordinat 99,77° BT dan 3,40° LS dengan kekuatan 4,8 Mw dan kedalaman 38 km. USGS, Amerika, menginformasikan bahwa pusat gempa bumi terletak pada koordinat 99,608° BT dan 3,451° LS, dengan magnitudo M4,9 pada kedalaman 10 km.

Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi:

Pusat gempa bumi berada di Samudera Indonesia di perairan barat Kepulauan Mentawai. Berdasarkan tatanan tektonik Pantai Barat Sumatera dipengaruhi oleh zona tunjaman lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia, sehingga memberikan kontribusi tektonik di laut maupun di daratan Pulau Sumatera. Kondisi geologi di sekitar pusat gempa bumi, pada umumnya tersusun oleh alluvium dan endapan pantai, batuan sedimen berumur Tersier serta batuan Pra-Tersier. Jenis batuan berumur muda seperti alluvium dan batuan Kuarter biasanya bersifat urai dan mengamplifikasi guncangan gempa bumi.

Penyebab gempa bumi:

Berdasarkan posisi pusat gempa bumi dan kedalamannya, gempa bumi berasosiasi dengan aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. Gempa bumi ini merupakan gempa bumi interface yang terjadi pada bidang gesek antara kedua lempeng tersebut.

Dampak gempa bumi:

Berdasarkan BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Sipora Utara dengan intensitas II MMI. Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami. Belum ada informasi terkait kerusakan yang diakibatkan gempa bumi ini.

Rekomendasi:

  • Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
  • Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan.

 

3. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadinya gerakan tanah di Indonesia pada bulan Maret 2020 dibandingkan Februari 2020 , potensinya tetap tinggi di wilayah indonesia . Kewaspadaan perlu dijaga   di wilaya   sepanjang pantai Sumatera Bagian Barat meliputi kawasan Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan dan Lampung, seluruh P Jawa bagian tengah ke selatan , Wilaya Kalimantan Tengah bagian Utara, Kalimantan Timur bagian Barat, seluruh P.Sulawesi , Bali, Nusa Tenggara Barat , Nusa Tenggara Timur, Maluku , Papua dan Papua barat. Utamanya saat musim di wilayah di pegunungan, perbukitan, jalur jalan, dan seputaran bantaran sungai.

Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kabupaten Bangli, Provinsi Bali
  2. Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur
  3. Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur
  4. Kota Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat
  5. Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo

Penyebab : Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi geologi yaitu litologi batuan dan kemiringan lereng yang sangat curam di daerah lokasi bencana. Selain itu Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama memicu terjadinya gerakan tanah.

Dampak : Penyebab gerakan tanah diduga akibat kondisi tanah pelapukan yang labil, tebing yang terjal dan juga dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.

Rekomendasi:

  • Pembersihan material longsoran agar tidak dilaksanakan pada saat dan setelah turun hujan karena dikhawatirkan adanya longsor susulan.
  • Melandaikan tebing, menata drainase dan memperkuata kestabilan tebing dengan pembuatan penahan tebing dengan fondasi yang mengikuti kaidah-kaidah geologi teknik.
  • Membangun talud penahan longsor dengan mengikuti kaidah geologi teknik
  • Masyarakat yang tinggal dekat dengan lokasi gerakan tanah agar selalu waspada terhadap munculnya gejala awal gerakan tanah seperti retakan pada tanah dan bangunan. Segera melapor kepada pemerintah setempat dan mengungsi sementara hingga ada arahan dari pemerintah setempat.
  • Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala-gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana akibat gerakan tanah.
  • Masyarakat setempat dihimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah/BPBD setempat.

https://vsi.esdm.go.id/index.php/kegiatan-pvmbg/berita-harian-kebencanaan-geologi/2977-laporan-kebencanaan-geologi-5-maret-2020

Comment here