Artikel Lingkungan

BKSDA Kaltim Melepasliarkan Empat Orang Utan di Hutan Kehje Sewen

Petak, salah satu dari empat orang utan yang dilepasliarkan di Hutan Kehje Sewen Kabupaten Kutai Timur, Kamis (27/6/2019). Saat ini habitat asli orang utan seluas 86.450 hektare tersebut dihuni 101 individu. (Dok. Yayasan Penyelamatan Orang utan Borneo)*

Kutai Timur – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bekerja sama dengan Yayasan Penyelamatan Orang utan Borneo (Yayasan BOS) kembali melepasliarkan orang utan ke habitat aslinya.

Kali ini, seperti diberitakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jumat (28/6/2019), empat orang utan dilepasliarkan di Hutan Kehje Sewen Kabupaten Kutai Timur. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Reintroduksi Orang Utan Kalimantan Timur di Samboja Lestari ke habitat alaminya.

Sebelum dilepasliarkan, keempat individu yang terdiri dari tiga jantan bernama Komo (21 tahun), Gino (14 tahun), dan Zakir (15 tahun), serta satu betina bernama Petak (22 tahun), telah lama berada di pusat rehabilitasi. Dari Samboja Lestari, mereka menempuh perjalanan mencapai 20 jam hingga tiba di Hutan Kehje Sewen di bagian utara.

Kepala BKSDA Kalimantan Timur Sunandar Trigunajasa mengatakan, kerja sama dengan berbagai pihak yang berkepentingan seperti Yayasan BOS telah berhasil menyelamatkan dan mempertahankan populasi orang utan liar di Kalimantan Timur.

“Sampai hari ini, kita telah melepasliarkan 100 orang utan ke Hutan Kehje Sewen yang terletak di Kutai Timur terhitung sejak 2012 lalu. Ini merupakan pencapaian yang luar biasa. Namun, ini merupakan tanggung jawab bersama,” tutur Sunandar, dikutip dari solotrust.com, Minggu (30/6/2019).

Upaya kolaboratif BKSDA Kalimantan Timur dan Yayasa BOS kali ini merupakan pelepasliaran yang ke-18 sejak tahun 2012. CEO Yayasan BOS Jamartin Sihite menegaskan komitmennya untuk menjaga dan memperbesar populasi orang utan liar di Kalimantan Timur.

“Kami terus menjalankan proses rehabilitasi pada orang utan yang kami selamatkan dengan tujuan mengembalikan mereka ke hutan alami setelah mereka menyelesaikan proses rehabilitasi,” kata Jamartin.

Dengan bertambahnya empat individu ini, populasi orang utan di Konsesi Restorasi Ekosistem Hutan Kehje Sewen seluas 86.450 hektare di Kecamatan Muara Wahau Kabupaten Kutai Timur menjadi 101 individu.

Dikatakan Jamartin, kapasitas maksimal hutan tersebut 150 orang utan. Oleh sebab itu, Yayasan BOS akan mengajukan kembali izin pengelolaan Konsesi Restorasi Ekosistem lainnya mengingat di Kehje Sewen mendekati kapasitas maksimal. Apalagi, saat ini di pusat rehabilitasi Samboja Lestari ada sekira 140 individu dan banyak di antaranya yang memenuhi syarat untuk dilepasliarkan. (iar)*