BNPB Usulkan Penanaman Vegetasi di Kawasan Wisata Rawan Tsunami

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, saat konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Rabu (26/12/2018). (KOMPAS.com/Devina Halim)

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo mengusulkan pengembangan mitigasi bencana secara vegetatif di kawasan wisata rawan tsunami.

Mitigasi bencana secara vegetatif itu, kata Sutopo, dapat dilakukan dengan cara menanami pesisir pantai dengan beragam tanaman yang dapat menahan tsunami.

“Misalnya tanaman bakau, pohon waru, dan sebagainya. Kejadian tsunami seperti di Palu, Donggala, ternyata tanaman-tanaman itu mampu meredam (tsunami),” ujar Sutopo menjelaskan, dikutip dari Kompas, Jumat (1/3/2019).

Menurut dia, pembangunan tanggul-tanggul dan alat mitigasi bencana lainnya tak akan cukup diandalkan sebagai penahan tsunami. Terlebih, pembangunannya juga akan membutuhkan dana yang sangat besar.

“Jadi ini dapat mengurangi kekuatan tsunami baik tingginya maupun kecepatannya sehingga mengurangi dampaknya. Jadi jangan cuma struktural tanggul, biaya mahal sekali, dan enggak terlalu efektif. Jepang pas tsunami di Sintei mereka bangun barier, ternyata (tsunami) lebih tinggi dan justru sebabkan korban. Kalau vegetatif lebih mudah dan asri,” kata Sutopo menjelaskan.

Dia juga mengatakan, mitigasi bencana jangan hanya mengandalkan anggaran dari pemerintah yang sangat terbatas. Lebih dari itu, diharapkan para pengusaha pariwisata turut memperhatikan faktor kebencanaan yang bisa datang sewaktu-waktu di Indonesia.

Kata Sutopo, para pelaku wisata sebaiknya memperhatikan masalah rambu-rambu evakuasi dan sosialisasi. Itu bukan hanya untuk wisatawan tetapi juga untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas. Salah satu tujuannya, agar para wisatawan yang ada di lokasi wisata menjadi tahu rawan bencana lokasi wisata yang dikunjunginya seperti apa. Hal semacam itu diakuinya masih sangat minim.

Lebih lanjut Sutopo mengatakan, BPBD di daerah sudah mulai melakukan sertifikasi bagi tempat-tempat wisata. Mulai dari segi fasilitas yang ada rambu-rambu evakuasinya, tempat shelter-nya, petugas hingga pegawai hotel. Bila sudah paham mitigasinya bisa memandu para wisatawan yang ada di lokasi. “Bisa juga membangun sirene-sirene tsunami yang berbasis komunitas,” kata Sutopo mengimbuhkan.

Menurut dia, jika semua pihak bahu-membahu menjalankan upaya mitigasi bencana, maka jumlah korban akibat bencana dapat semakin ditekan. (iar)*

Leave a Reply