Artikel KemanusiaanArtikel Lingkungan

BPBD: Banjir Bandang Lebak Akibat Kerusakan Hutan

Banjir bandang menerjang empat kecamatan di Kabupaten Lebak Banten, Rabu (22/5/2019) malam. Setidaknya empat kecamatan terdampak dan menyebabkan 56 rumah rusak serta hanyut dan sejumlah jembatan terputus. (Foto: Dok. BPBD Kabupaten Lebak)*

Lebak – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Provinsi Banten Kaprawi mengatakan bahwa banjir bandang yang menerjang empat kecamatan di daerah tersebut akibat kerusakan hutan di kawasan hulu sungai. Banjir bandang terjadi akibat luapan air Sungai Cilaki dan Cibeurih pada Rabu (22/5/2019).

“Kita menduga penyebab banjir bandang itu karena kerusakan hutan, akibat hutan gundul di kawasan TNGHS sebagai daerah hulu sungai,” katanya, Sabtu (25/5/2019), dikutip dari Antara.

Dikatakan dia, selama ini kondisi hutan di daerah hulu sungai di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) mengalami kerusakan akibat adanya aktivitas penebangan pohon maupun pertambangan. TNGHS, kata Kaprawi, sejatinya merupakan daerah konservasi yang harus hijau dan lestari.

Saat ini, pihaknya telah menetapkan status tanggap bencana selama 14 hari terhitung tanggal 22 Mei 2019. Dilaporkan, banjir bandang di empat kecamatan yakni Kecamatan Sajira, Kecamatan Sobang, Kecamatan Muncang, dan Kecamatan Cimarga menyebabkan 56 rumah rusak serta hanyut dan sejumlah jembatan terputus serta tidak menimbulkan korban jiwa.

Kaprawi mengatakan, jumlah kerugian material hingga saat ini masih dalam identifikasi di lapangan dengan menghitung berapa banyak dampak kerusakan infrastruktur, fasilitas sosial dan fasilitas umum.

Sebanyak 309 jiwa mengungsi baik di rumah sanak keluarganya maupun di tempat pengungsian di Kantor Desa Margaluyu. Meskipun banjir telah surut tetapi kejadian tersebut meninggalkan lumpur, sampah hingga kayu gelondongan.

Pihak BPBD Lebak dan pihak terkait lainnya kini fokus dalam penyediaan logistik bagi para pengungsi. “Kami pascabencana itu memprioritaskan kebutuhan logistik guna mengurangi risiko kebencanaan agar tidak menyebabkan korban jiwa maupun kerawanan pangan,” ujar Kaprawi. (iar)*