Artikel Lingkungan

Cirebon Masuk Zona Merah Perdagangan Tumbuhan dan Satwa Liar

KUKANG Jawa.*/internationalanimalrescue.or.id

Cirebon – Wilayah Cirebon masuk kategori zona merah untuk perdagangan tumbuhan dan satwa liar (TSL) yang dilindungi Undang-Undang.

Resort Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Cirebon mengindikasikan, tingginya perdagangan TLS di Cirebon karena wilayah ini menjadi titik pertemuan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat. Dari data di lembaga tersebut, tercatat sepanjang Januari-Maret 2019 KSDA sudah berhasil mengamankan 96 satwa liar yang dilindungi.

“Tahun lalu, setahun kita mengamankan 103 TSL. Tahun ini, baru tiga bulan sudah mencapai 96 TSL. Kami mengindikasikan ada peningkatan signifikan perdagangan ilegal terutama satwa liar,” kata Kepala Resort KSDA Cirebon Slamet Priyambada, Minggu (7/4/2019) dikutip dari pikiran-rakyat.com.

Dikatakannya, ada indikasi kuat kalau Wilayah Cirebon yang meliputi Kota dan Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan, menjadi daerah yang dipilih oleh pedagang TSL. Selain ada peningkatan minat pada masyarakat dalam memelihara satwa langka, juga karena kurangnya pengawasan. Hal tersebut terlihat dari hasil jumlah satwa langka yang berhasil diamankan.

Sebanyak tiga belas di antaranya diamankan dari masyarakat yang memeliharanya dan sebagian besar dari penggagalan saat hendak diperjualbelikan. Pada awal tahun 2019, KSDA Cirebon bersama Kepolisian Resort Majalengka mengamankan 78 kukang jawa di lereng Gunung Ciremai yang hendak diperjualbelikan.

“Wilayah Cirebon dinilai relatif terbuka untuk transaksi perdagangan TSL. Ini memudahkan orang untuk melakukan transaksi jual beli satwa yang dilindungi. Karena itu, kami menjadikan Cirebon masuk zona merah perdagangan satwa dilindungi Undang-Undang,” kata Slamet.

Bersama pihak terkait, pihaknya akan makin mengintensifkan pengawasan termasuk penindakan bila terdapat perdagangan satwa langka tersebut. Sejauh ini, kata Slamet, KSDA sudah melakukan upaya persuasif, preventif sampai represif. (iar)*