Artikel Penjelajahan

Cuaca Ekstrem, Pengelola TNGGP Tutup Pendakian Gunung Gede Pangrango

Para pendaki sedang berkemah di kawasan TNGGP. Pengelola TNGGP akan menutup jalur pendakian Gunung Gede Pangrango pada Agustus 2019 karena cuaca ekstrem dan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada bulan tersebut. (Foto: dictio.id)*

Cianjur – Pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di Jawa Barat akan menutup jalur pendakian gunung tersebut selama sepuluh hari pada 12-21 Agustus 2019.

Langkah tersebut diambil menyusul kondisi cuaca ekstrem yang terjadi di kawasan Gunung Gede (2.958 mdpl) dan Pangarango (3.019 mdpl) baru-baru ini. Diprediksi, cuaca ekstrem musim kemarau tahun ini di Pulau Jawa khususnya Cianjur, Sukabumi, dan Bogor mencapai puncaknya pada bulan tersebut.

“Rencananya selama sebulan penuh yakni di bulan Agustus pendakian akan ditutup dulu,” kata Humas Balai Besar TNGGP Ade Bagja, Sabtu (29/6/2019), dikutip dari kompas.com. “Kering dan kondisi alam mudah terbakar. Malam hari sangat dingin,” katanya mengimbuhkan.

Kendati demikian, pihaknya tidak berani menyebutkan kondisi cuaca yang nyata terjadi saat ini di kawasan TNGGP. Ade mengatakan tidak bisa berasumsi karena hal tersebut berada di ranah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Sejauh ini, pihak TNGGP hanya bisa mengimbau para pendaki agar berhati-hati dan memperhatikan cuaca ekstrem khususnya di ketinggian 2.700 mdpl. Sebabnya, kata dia, pada ketinggian itu embun di Gunung Gede Pangrango berubah menjadi kristal.

“Jadi, embun pada ketinggian tersebut berubah menjadi kristal es. Di pintu masuk Taman Nasional Gunung Gede Pangrango kami sudah memberikan imbaun,” katanya.

Menurut dia, hingga saat ini belum ada laporan pendaki yang terkena hypotermia atau kedinginan dari beberapa titik pantau di TNGGP. Dia berharap, tidak ada pendaki yang sampai mengalami kondisi yang bisa menyebabkan kematian tersebut.

Fenomena embun es, selain melanda Gunung Gede Pangrango, juga terjadi di sejumlah gunung di Pulau Jawa seperti Gunung Lawu, Semeru, Bromo dan Dieng. (iar)*