Artikel Lingkungan

Danau Limboto Gorontalo Kaya Keragaman Hayati Burung Langka

Burung Gagang Bayam, salah satu species yang singgah dan menetap di Danau Limboto (Debby Mano).

Bandung – Danau Limboto di Provinsi Gorontalo kaya akan keragaman hayati terutama bangsa burung. Selain dihuni burung-burung lokal dan langka, danau yang memiliki luas mencapai 2.500 hektare ini juga acapkali kedatangan burung-burung migran.

Pegiat fotografi alam bebas dari Gorontalo, Rosyid Azhar mengatakan bahwa di Danau Limboto juga banyak ditemukan burung-burung langka dan dilindungi seperti elang dan burung madu.

“Meski Limboto bukan termasuk kawasan lindung tetapi di sana banyak satwa yang dilindungi antara lain burung seperti jenis burung madu,” kata Rosyid saat dijumpai di salah satu hotel di Kota Bandung, Rabu (10/4/2019) siang.

Dikatakannya, di Danau Limboto telah ditemukan sedikitnya 94 jenis burung danau. Sebanyak 38 jenis di antaranya adalah burung migran yang datang terbang dari sejumlah daerah mancanegara seperti Siberia, Alaska, Jepang, hingga Australia.

Mereka biasa dijumpai antara bulan Agustus hingga Oktober akhir dan terbang bebas di atas permukaan Danau Limboto ketika di negara asalnya memasuki musim dingin. “Burung-burung migran itu datang biasanya untuk berkembang biak saat di Siberia dan Alaska musim dingin. Mereka datang melalui jalur terbang Austroasia,” ujar Rosyid.

Salah seorang pendiri Biodiversitas Gorontalo (Biota) ini juga mengatakan bahwa selain kaya akan keragaman hayati, Danau Limboto punya potensi pariwisata yang luar biasa. Akan tetapi, kata dia, hingga saat ini masih banyak pihak termasuk pemerintah yang memandang Danau Limboto hanya sebagai kawasan produksi perikanan tangkap dan budidaya.

“Keragaman hayati ini adalah potensi besar pariwisata. Ada transfer pengetahuan dan experience. Wisatawan bisa menikmati udara yang sejuk serta pemandangan alam yang indah dengan aneka burung air. Burung-burung residen seperti kuntul, cangak merah adalah penghuni tetap dan bisa disaksikan tiap hari sepanjang tahun,” ucapnya. Selain itu, kata dia mengimbuhkan, ada juga jenis elang bondol, elang paria, dan elang hitam.

Akan tetapi, di sisi lain Rosyid menyebut, ekosistem perairan dangkal tersebut terancam. Sampah, perburuan burung hingga perilaku buruk masyarakat menjadi beberapa faktor penyebabnya. Oleh karena itu, kerja sama kelembagaan yang dilakukan Biota diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap kelestarian ekosistem Danau Limboto.

“Salah satu yang kami lakukan ke depan adalah pendampingan terhadap masyarakat akan pentingnya ecotourism. Kemudian membantu mengidentifikasi potensi danau termasuk burung,” ujar Rosyid, menutup pembicaraan. (iar)*

Comment here