Artikel

Ekosistem Mangrove

Indonesia merupakan Negara yang memiliki potensi mangrove terluas di dunia. Kurang lebih 18 juta hektar luas mangrove dunia, seperempatnya (4,5 juta hektar) dimiliki Indonesia. Kini perkembangan luas hutan mangrove di Indonesia dari tahun ke tahun terus menurun, terdegradasinya mangrove secara pesat telah memicu meningkatnya erosi pantai yang menyebabkan kerusakan habitat alami, punahnya berbagai jenis flora fauna dan biota tertentu, menurunnya keanekaragaman hayati yang meluas sampai daratan.

 

EKOSISTEM MANGROVE

2013-12-21_011022

1. PENGERTIAN

Mangrove sering disebut sebagai hutan bakau dan merupakan ekosistem peralihan antara darat dan laut ataupun dengan perairan sekitar muara sungai. Oleh karena itu ekosistem ini dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Mangrove diartikan sebagai kelompok tumbuhan yang terdiri dari berbagai jenis dari suku yang berbeda, tetapi mempunyai persamaan kemampuan penyesuaian diri yang sama terhadap habitat yang dipengaruhi oleh pasang surut. Di Indonesia mangrove sering diidentikan dengan salah satu jenis vegetasinya yaitu bakau, sehingga orang lebih mengenal ekosistem ini dengan ekosistem/hutan bakau. Walaupun dipengaruhi oleh pasang surut air laut, vegetasi mangrove bukan merupakan vegetasi yang membutuhkan kadar garam tinggi, namun vegetasi mangrove merupakan vegetasi yang tahan terhadap kadar garam tinggi.

2. PENGENALAN MANGROVE

Untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya mangrove maka tumbuhan mangrove :

2013-12-21_011034

Adaptasi terhadap kadar oksigen yang rendah
Untuk hidup dilingkungan yang sulit pada kadar oksigen yang rendah berbagai tumbuhan mangrove mengembangkan perakaran unik yang disebut pneumotofor (akar nafas), berfungsi untuk mengambil oksigen dari udara dan bertahan pada subtract yang berlumpur. Akar nafas ini terdapat pada spesies tumbuhan mangrove tertentu seperti Avicennia spp; dan Sonneratiaspp

Adaptasi terhadap kadar garam tinggi
Beberapa jenis tumbuhan mangrove seperti bakau (Rhizophora spp) api-api (Avicennia spp.) dan pidada (Sonneratia spp.) mengembangkan sistem perakaran yang hampir tak tertembus air garam. Sekitar 90-97% kandungan garam di air laut hampir tak mampu menembus saringan akar ini. Garam yang sempat terkandung di tubuh tumbuhan, diakumulasikan di daun tua dan akan terbuang bersama gugurnya daun.

Adaptasi terhadap tanah yang kurang stabil
Untuk mengatasi subtrat kurang stabil, beberapa spesies tumbuhan mangrove mengembangkan struktur akar membentuk jaringan horisontal yang lebar, disamping memperkokoh tubuhnya, akar tersebut berfungsi untuk mempermudah tumbuhan dalam menangkap unsur hara dan menahan sedimen.

2013-12-21_011045

Kecambah biji mangrove
Beberapa spesies mangrove mengembangkan cara berbiak secara vivivar, yaitu buahnya berkecambah pada saat masih berada di pohon. Kecambah ini akan segera mengeluarkan akar, bilamana jatuh ke tanah pada saat surut, atau setelah tersangkut pada materi yang cukup padat sehingga tidak mudah hanyut karena ombak. Pertumbuhan akar ini diduga dirangsang oleh adanya kontak dengan subtrat yang keras atau adanya zat tertentu dalam tanah yang merangsang pertumbuhan akar.

Sumber: http://hutanmangrovejakarta.com/