ArtikelArtikel Lingkungan

IAR Indonesia, Balai TNBBBR, dan BKSDA Kalbar Melepasliarkan 6 Orangutan

Dua dari enam orangutan bergelantungan di pohon setelah dilepaskan di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) Kabupaten Melawi Kalbar, Kamis, 14 Februari 2019. IAR Indonesia bersama Balai TNBBBR dan BKSDA Kalbar melepasliarkan enam orangutan di kawasan tersebut. ANTARA/Humas IAR Indonesia-Rudiansyah.

Jakarta – International Animal Rescue (IAR) Indonesia bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan Balai Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya (TNBBBR) melepasliarkan enam orangutan di kawasan TNBBBR.

“Keenam orangutan yang kami lepas liarkan itu semuanya merupakan orangutan hasil rehabilitasi, termasuk sepasang induk dan anak orangutan bernama Maily dan Osin,” kata Direktur Program IAR Indonesaia Karmele L. Sanchez, Minggu (17/2/2019).

Sebagaimana dikutip dari Tempo, Karmele mengatakan untuk pertama kalinya induk anak orangutan hasil rehabilitasi dilepaskan di kawasan tersebut. Empat individu lainnya bernama Lady, Obi, Muria, dan Zoya.

Dipilihnya TNBBBR sebagai tempat pelepasliaran orangutan karena hutannya masih alami dan bagus. Survei yang dilakukan Tim IAR Indonesia juga menunjukkan jumlah pohon pakan orang utan demikian berlimpah. Selain itu, statusnya sebagai kawasan taman nasional akan lebih mampu menjaga orang utan ini dan habitatnya sebagai kawasan konservasi.

Berdasarkan kajian yang pernah dilakukan, di lokasi pelepasliaran ini tidak ditemukan keberadaan orang utan. Primata yang dilindungi ini dinyatakan telah punah dalam 20-30 tahun terakhir di lokasi tersebut.

“Oleh karena itu, upaya untuk pelepasan orangutan sangat penting. Sampai saat ini, IAR Indonesia telah melepaskan 36 orangutan sejak 2016,” kata Karmele. Pihaknya akan menerjunkan tim monitoring untuk memantau perilaku dan proses adaptasi orang utan di lingkungan barunya selama 1-2 tahun.

Kepala Balai TNBBBR Hernowo mengatakan, kegiatan pelepasliaran enam orangutan hasil rehabilitasi itu merupakan kerja sama pihaknya dengan IAR Indonesia.

“Indikator keberhasilan adalah orangutan yang dilepasliarkan di TNBBBR dapat bertahan hidup dan beradaptasi dengan baik di habitatnya serta meningkatnya jumlah populasi dan terjaminnya keberlangsungan hidup orangutan di alam,” ujarnya. Rencananya akan ada tiga tahapan pelepasliaran orangutan selama 2019.

Sementara Kepala BKSDA Kalbar Sadtata Noor mengatakan, upaya konservasi satwa liar dari waktu ke waktu menghadapi tantangan yang semakin besar, tetapi kerja konservasi tidak boleh berhenti. (iar)*

 

https://tekno.tempo.co/read/1177536/6-orangutan-dilepasliarkan-dipantau-setiap-hari-selama-2-tahun/full&view=ok