Artikel Lingkungan

IAR Lepasliarkan 15 Kukang Jawa di Gunung Sawal

Seekor kukang jawa (Nycticebus javanicus) keluar dari kandang sementara saat dilepasliarkan di habitat Suaka Margasatwa Gunung Sawal Kabupaten Ciamis Jawa Barat, Jumat (3/5/2019). (Foto : Antara/Adeng Bustomi)*

Ciamis – International Animal Rescue (IAR) bekerja sama dengan Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah III Ciamis melepasliarkan 15 kukang jawa di habitatnya di Gunung Sawal di Kabupaten Ciamis Jawa Barat, Jumat (3/5/2019).

Pelepasliaran satwa dilindungi tersebut juga dibantu sejumlah aktivis lingkungan dan warga Desa Nasol. Sebelumnya, kukang hasil penyerahan dari masyarakat ini menjalani perawatan dan pemulihan di Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia di Bogor.

Acara pelepasliaran dimulai di titik kumpul di Dusun Batumalang Desa Nasol Kecamatan Cikoneng. Kukang diangkut petugas menggunakan total 11 boks kandang berbahan aluminium. Setiap boks berisi satu hingga dua ekor kukang.

Rombongan petugas menembus hutan dengan jalan menanjak menuju lokasi habituasi di Suaka Margasatwa Gunung Sawal (SMGS) selama satu jam atau sekira tiga kilometer dari permukiman warga.

Dokter hewan IAR Indonesia Indri Saptorini mengatakan bahwa jumlah kukang yang dilepasliarkan sebanyak 31 ekor yakni 15 ekor di SMGS Ciamis dan sisanya di Hutan Konservasi Masigit-Kareumbi Kabupaten Bandung.

“Sebagian besar dari mereka merupakan kukang hasil serahan masyarakat ke sejumlah BKSDA di Wilayah Jawa Barat dan dititiprawatkan ke IAR Indonesia untuk menjalani rehabilitasi. Kini, sudah dalam kondisi baik dan siap kembali ke alam bebas,” ujar Indri, Jumat (3/5/2019) dikutip dari detik.com.

Menurut dia, kukang tersebut belum benar-benar dilepasliarkan tetapi menjalani proses habituasi terlebih dahulu.

Kata Indri menjelaskan, tahapan untuk mengembalikan perilaku alaminya dimulai dari karantina dan pemeriksaan medis. Kemudian dilakukan observasi perilaku, pengenalan pakan alami sampai dinyatakan sehat dan siap ditranslokasi untuk menjalani habituasi. Saat diterima, sebagian kukang ada yang sakit dan membutuhkan perawatan.

“Proses itu harus dijalani. Tujuannya untuk mengembalikan sifat liar alaminya karena kondisi kukang saat pertama tiba di Pusat Rehabilitasi umumnya cukup memprihatinkan. Stres, trauma, kekurangan gizi hingga perubahan perilaku,” tuturnya.

Selama menjalani habituasi, kata Indri, tim lapangan akan tetap mengamati dan mencatat perkembangan perilaku primata nokturnal itu setiap malamnya.

“Jika selama masa habituasi semua kukang aktif dan tidak ada perilaku abnormal, maka barulah mereka benar-benar bisa dilepasliarkan ke alam bebas,” katanya.

Saat ini, kukang tergolong primata yang dilindungi dan masuk daftar 25 primata terancam punah di dunia. Primata bernama Latin Nycticebus javanicus atau dengan nama lokal malu-malu, di Indonesia dilindungi oleh Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi. (iar)*

Comment here