Artikel Lingkungan

Letusan Gunung Raikoke Terpotret dari Luar Angkasa

Abu vulkanik Gunung Raikoke yang erupsi pada Sabtu (22/6/2019) terpotret astronot dari stasiun luar angkasa internasional (ISS). Gumpalan abu vulkanik diperkirakan terlontar ke angkasa lebih dari 15 kilometer. (Dok. NASA Earth Obervatory)*

Letusan Gunung Raikoke di Semenanjung Kamchatka Rusia terpotret astronot Ekspedisi 59 dari stasiun luar angkasa internasional (ISS). Bukan hanya diabadikan, para astronot juga mengamati pemandangan langka ini dari ketinggian sekira 408 kilometer di atas puncak Raikoke, Sabtu (22/6/2019).

Dalam kacamata para astronot di ISS, erupsi Gunung Raikoke seperti badai besar, kemudian muncul awan jamur mekar di atas puncak. Gumpalan abu vulkanik diperkirakan terlontar ke angkasa lebih dari 15 kilometer.

Selain itu, suhu aliran lahar letusan gunung dengan ketinggian 551 mdpl diperkirakan mencapai 1.100 derajat Celcius. Bila partikel abu vulkanik ini mengenai mesin pesawat terbang komersial, sangat mungkin mesin bakal rusak dan membahayakan pesawat.

Kabar baiknya, Gunung Raikoke terletak di pulau tak berpenghuni sehingga tak mengancam keselamatan manusia ataupun mengganggu jalur penerbangan. Pulau tersebut merupakan bagian dari Kepulauan Kuril yakni kepulauan yang membentang dari Jepang ke Semenanjung Kamchatka Rusia. Sebelumnya, Raikoke telah meletus dua kali yakni pada tahun 1778 dan 1924.

Menurut para astronot seperti diberitakan Science Alert, Kamis (27/6/2019), yang pertama kali dilihat saat Raikoke erupsi adalah gerakan landasan berwarna seperti pasir. Matahari berwarna jingga menghilang kemudian muncul suara gemuruh. Angin puting beliung juga diperkirakan muncul dan gas-gas di atmosfer berubah warna menjadi keunguan.

“Sungguh gambar yang spektakuler,” ucap Simon Carn, seorang ahli vulkanologi di Michigan Tech dalam pernyataan National Aeronautics and Space Administration (NASA).

“Cincin awan putih di dasar kolom mungkin merupakan tanda udara ambien yang ditarik ke dalam kolom dan kondensasi uap air. Atau, itu bisa berupa ‘wedhus gembel’ yang naik dari interaksi antara magma dan air laut karena Raikoke adalah pulau kecil dan arus kemungkinan memasuki air,” kata Simon. (iar)*