Artikel Lingkungan

LIPI Siapkan Teknologi Bersih Tangani Sampah Citarum

Foto udara limbah industri di Sungai Cihaur yang bermuara ke Sungai Citarum di Kecamatan Padalarang Kabupaten Bandung Barat, Rabu (11/4/2018). LIPI siap bekerja sama dengan Pemprov Jabar dalam penyediaan teknologi bersih guna meminimalkan pencemaran Sungai Citarum. (Foto: Antara/Raisan Al Farisi)*

Bandung – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan siap bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menyediakan teknologi bersih guna menangani persoalan sampah di Sungai Citarum.

Saat ini, kondisi sungai terpanjang di Jawa Barat tersebut masih memprihatinkan oleh karena tercemar berbagai limbah industri yang berbahaya dan beracun dan limbah domestik seperti plastik serta kotoran ternak dan manusia.

Kepala Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI Sri Priatni mengatakan, pihaknya punya sejumlah teknologi yang bisa diterapkan untuk meminimalisir sampah dan menjernihkan kembali air Sungai Citarum yang kerap berubah warna dan bau karena polusi.

“Kita punya reaktor untuk limbah tahu diubah menjadi biogas, terus airnya bisa dipakai buat tanaman karena setelah dikonversi menjadi biogas airnya menjadi aman,” kata Sri di kantor LIPI di Jalan Sangkuriang Kota Bandung, Rabu (12/6/2019).

Dikutip dari galamedianews.com, mengenai limbah industri Sri mengatakan, pihak LIPI telah melakukan penelitian untuk instalasi penanggulangan air limbah (IPAL) di sejumlah industri. “Kita sudah membuat IPAL, ada contohnya di Cimahi, bagaimana menurunkan limbahnya itu dengan sekumpulan mikroba pengurai sehingga layak dibuang ke sungai,” ujarnya.

Sri menyebut, jika anggaran penyediaan IPAL untuk industri tidak terlampau mahal. Bahkan, penyediaan IPAL yang merupakan pembaruan dari yang sudah ada hanya sebesar Rp 50 juta.

Sementara peneliti LIPI Dawam Abdullah memandang, selain penyediaan teknologi bersih, perilaku dan karakter masyarakat dalam hal menjaga lingkungan juga harus turut diubah. Untuk itu, perlu adanya ketegasan pemerintah.

Seturut penelitian yang telah dilakukannya, Dawam menyebut 50 persen sampah di Sungai Citarum merupakan plastik yang sulit terurai. Sampah tersebut akan berubah menjadi mikroplastik yang berbahaya bagi organisme apa pun termasuk manusia.

“Jadi sampah padat, 50 persennya itu sampah plastik. Kalau sampah lain seperti daun, dahan pohon selama perjalanannya akan terurai. Plastik tidak,” kata dia. (iar)*