ArtikelArtikel Lingkungan

Maleo Masuk Dalam Daftar Merah IUCN

Oleh ROSYID A. AZHAR

Gorontalo dianugerahi keanekaragaman hayati tinggi, termasuk endemisitasnya. Salah satu maskotnya adalah burung maleo (Macrocephalon maleo). Burung ini unik. Dia hanya bisa bertelur di pasir pantai yang panas atau di hutan yang terdapat geotermal (panas bumi) yang jauh dari permukiman masyarakat.

Sebelum bertelur, sepasang maleo bergantian menggali pasir atau tanah pada kedalaman tertentu, bisa sampai 50 cm. Setelah mendapatkan kedalaman dan suhu tertentu, telur diletakkan dan ditimbun kembali.
Panas pasir dan geotermal inilah yang mengerami telur maleo. Kepada kemurahan alam, telur ini diserahkan.
Butuh dua bulan untuk menetas. Dari dalam timbunan tanah inilah anak maleo keluar ke permukaan.

Sepertinya menarik, tetapi maleo sepanjang hidupnya dalam keterancaman. Mulai dari saat bertelur, pemangsa sudah mengintipnya. Ular, biawak, elang, dan musang adalah para pemangsa yang rajin mengancam maleo, selain juga manusia, tentunya. 

International Union for Conservation Nature (IUCN) sebagai badan konservasi internasional telah memasukkan maleo dalam daftar merah berlabel “genting” (Endangered).*

 

 

Sumber: Facebook  Rosyid A Azhar 

Comment here