ArtikelArtikel Lingkungan

“Muru Indung Cai” di Purwakarta

Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika (tengah) saat kegiatan ‘Muru Indung Cai’ (berburu sumber mata air) di Purwakarta. (ANTARA/HO/Diskominfo Purwakarta/M.Ali Khumaini)

 

(ANTARA) – Pemerintah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, siap membeli lahan milik warga yang menyimpan sumber mata air sebagai upaya pelestarian serta menjaga keberlangsungan sumber mata air di daerah tersebut.

“Dari pada sumber air dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Kami dari pemerintah daerah siap membeli lahan milik warga yang terdapat sumber air,” kata Bupati setempat Anne Ratna Mustika di sela kegiatan ‘Muru Indung Cai’ (berburu sumber mata air) di Purwakarta, Rabu.

Ia mengatakan, pembelian lahan milik warga yang menyimpan sumber air perlu dilakukan sebagai bagian upaya melindungi keberlangsungan keseimbangan alam serta membantu masyarakat, terutama saat musim kemarau.

Menurut dia, saat ini ada beberapa sumber mata air di Purwakarta yang dikuasai pihak tertentu untuk digunakan bisnis. Jadi Pemkab Purwakarta berinisiatif untuk membeli lahan milik warga yang memiliki sumber air.

Di Purwakarta sendiri terdapat sembilan mata air di sekitar Kecamatan Wanayasa. Sembilan titik sumber mata air itu menjadi sasaran pelestarian dalam acara berburu sumber mata air tersebut.

Sembilan mata air di wilayah Wanayasa itu di antaranya mata air Cipancur di Desa Cibuntu, mata air Ladu Desa Sumurugul, mata air Legok Macan dan Ciburial di Desa Wanayasa, mata air Cijauh Desa Taringgul Tengah, mata air Cipondoh Desa Sakambang, mata air Cigandasoli dan Cibulakan di Desa Babakan, serta mata air Cipicung di Desa Ciawi Tali.

Sementara itu, kegiatan ‘Muru Indung Cai’ (berburu sumber mata air) digelar di Purwakarta untuk mengingatkan masyarakat dan unsur Pemkab Purwakarta agar tetap melestarikan sumber air.

Sementara itu, Perusahaan Umum Jasa Tirta II Jatiluhur menyatakan bahwa air Waduk Jatiluhur di Kabupaten Purwakarta Jawa Barat lebih cepat menyusut karena cukup banyaknya air yang digelontorkan akibat perubahan pola tanam petani.

“Selama musim kemarau ini, debit air yang keluar dari Waduk Jatiluhur sangat banyak, karena di lapangan pola tanam petani berubah,” kata Direktur Operasi dan Pengembangan Perusahaan Jasa Tirta (PJT) II Jatiluhur, Antonius Aris Sudjatmiko di Purwakarta, Minggu.

Perubahan pola tanam padi di lapangan diawali penundaan masa tanam.

Hal tersebut mengakibatkan air yang digelontorkan dari Waduk Jatiluhur ke saluran irigasi tidak terpakai secara maksimal oleh petani. Jadi pada akhirnya mempengaruhi perubahan golongan air. Meski begitu, kesediaan air untuk memenuhi kebutuhan petani cukup aman.

Berdasarkan rencana tata tanam gubernur, ada lima golongan air yang persawahannya dialiri air yang berasal dari Waduk Jatiluhur. Tapi kenyataannya, bisa sampai sembilan atau lebih golongan air.

Seperti di Kabupaten Karawang, sesuai rencana tata tanam gubernur, tercatat lima golongan air. Tapi kenyatannya, ada sampai sembilan golongan air.

Kemudian ada lagi yang lima golongan air di Kabupaten Subang sesuai rencana tata tanam gubernur, tapi di lapangan sampai 12 golongan air.

Aris menyampaikan, akibat banyaknya golongan, maka air yang digelontorkan tidak cukup. Sedangkan permintaan air di lapangan semakin tinggi. Jika tak dipenuhi, bisa mengakibatkan rebutan air dan berpotensi menimbulkan konflik antar-petani.

Saat ini tinggi muka air (TMA) Waduk Jatiluhur berada pada level 100,2 mdpl atau di bawah rencana normal. Air yang digelontorkan ke saluran irigasi melalui dua pintu (hallow jet) mencapai 177 meter kubik per detik.

Debit air itu dibagi untuk tiga saluran irigasi. Di antaranya melalui Tarum Barat yang menggelontorkan air hingga mencapai 50 meter kubik per detik. Padahal, debit normalnya hanya 40 meter kubik per detik.

Kemudian Tarum Timur yang kini digelontorkan 57 meter kubik per detik. Seharusnya debitnya sebesar 47 meter kubik per detik. Selanjutnya Tarum Utara yang kini menggelontorkan 70 meter kubik per detik, padahal seharusnya 60 meter kubik.