Artikel KemanusiaanArtikel Lingkungan

Musim Kemarau Tiba, BNPB Bersiap Antisipasi Karhutla

Helikopter Super Puma AS332L1 milik Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas Forestry bersiap melakukan pengeboman air (water bombing) terhadap hutan dan lahan perkebunan sawit rakyat yang terbakar di Desa Gurun Panjang di Dumai Riau, Senin (25/2/2019). (Foto: Antara/Aswaddy Hamid/foc.)*

Jakarta – Seturut hasil pemantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan 21 persen wilayah di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Kondisi ini membuat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai bersiap mengantisipasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono mengatakan, saat ini musim kemarau sudah mulai berlangsung khususnya di Indonesia bagian selatan. Sementara di wilayah lainnya masih turun hujan dengan beragam intensitas mulai ringan hingga tinggi.

“Kemarau lebih banyak di Indonesia bagian selatan terutama di Jawa Tengah, Bali, dan seterusnya,” kata Daryono dalam siaran persnya di Gedung BNPB di Jakarta Timur, Jumat (31/5/2019), dikutip dari tirto.id.

Musim kemarau bisa berdampak pada keringnya lahan dan hutan serta berpotensi terjadinya kebakaran. Menyikapi kondisi ini, Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB Wisnu Widjaja menyampaikan lembaganya sudah melakukan sejumlah langkah antisipasi. Salah satunya, kata dia, mempersiapkan sejumlah helikopter pemadam guna mencegah penyebaran kebakaran hutan jika ditemukan titik api.

Saat ini, BNPB menyiagakan 4 helikopter. Di samping itu, ada 6 helikopter dari sejumlah perusahaan serta 2 unit lainnya dari TNI yang siap dioperasikan begitu muncul kebakaran hutan. Wisnu mengatakan, jika gagal mencegah maka akan sulit sekali untuk menanggulanginya. Karena itu pihaknya mengutamakan pencegahan sebelum api meluas.

Kata dia mengimbuhkan, dampak fenomena El Nino yakni kondisi kering dan berkurangnya curah hujan di Indonesia pada saat ini masih terbilang aman. “(Dampak) El Nino itu kecenderungannya naik tetapi (sekarang) kembali turun, moderat. Jadi, semoga ini terus bertahan,” ujar Wisnu. (iar)*