OGUN, ORANG GUNUNG…. PENDAKI GUNUNG SEUMUR HIDUP

OGUN, ORANG GUNUNG…. PENDAKI GUNUNG SEUMUR HIDUP

Terlahir di Jakarta, 24 Maret 1958 dengan nama Muhammad Gunawan, dipanggil Ogun. Kuliah di ATPU Bandung. Tahun 1981 mengikuti Pendidikan Dasar Wanadri angkatan Kabut Rimba. Ogun menyelesaikan program anggota muda pada ekspedisi pendakian tebing G. Parang Purwakarta dengan Nomor Pokok W-0478 KR.
Ogun yang rendah hati, murah senyum, periang, senang mendukung, susah marah, terkesan easy going. Pernah tinggal bersama beberapa teman Wanadri di keluarga Kang Kopral Soma, teman seangkatan. Tak pernah terdengar sibuk dalam kegiatan akademiknya, lulus dari ATPU tahun 1985. Namun, ia mendedikasikan hidupnya sebagai pendaki gunung.
Ogun memang menggemari kegiatan pendakian gunung. Itu dibuktikan dengan hampir semua kegiatan sehari-harinya selalu berada pada dunia dan komunitas pendaki gunung.
Tahun 1988 Wanadri berhasil mencapai puncak Pumori Himalaya, Ogun berada di dalam tim pendakian itu.
Ia sebagai pendiri juga aktif pada kepengurusan FPTI dan berkeliling Nusantara dalam urusan panjat tebing.
Ketika Tim Indonesia pertama yang mencapai Everest pada tahun 1997 dari jalur Selatan atas nama Misirin dan Asmudjiono (keduanya anggota Kopassus), Ogun berjuang di jalur utara yang terhadang badai cuaca buruk di saat segmen akhir 200 meter menjelang puncak.
Ogun juga mempunyai adik kandung bernama Hidayawan, dengan panggilan Iday yang pada tahun 1989 lulus Pendidikan Dasar Wanadri. Namun, Iday gugur saat mengikuti ekspedisi di Sungai Vanderwall Papua tahun 1991. Saat itu, ayahanda Ogun adalah orang yang paling tabah. Bahkan beliau memberi semangat kepada Wanadri dan memberikan nasihat kerohanian saat dilakukan acara doa bersama.
Ogun yang menikah dengan Ai, dikaruniai seorang putri yang dipanggil Vaya. Pernikahan pertamanya tak berlanjut dan Ogun kemudian menikahi Vita dengan seorang putra yang menemaninya sampai akhir hayatnya.
Tahun 2015 dokter menyatakan bahwa Ogun menderita penyakit kanker. Ia menerimanya tetapi tidak menyerah. Ogun terus berjuang untuk memperoleh kesembuhan. Tak larut dalam kungkungan penyakitnya, Ogun yang harus menjalani terapi malah merencanakan mendaki Himalaya untuk mencapai puncak Everest. Ia berlatih keras
tak menunjukkan sikap menyerah. Ia terus mendaki gunung sebagai persiapan.
Namun, takdir yang bukan miliknya menentukan lain. Kondisi fisiknya terus menurun sampai akhirnya Ogun berpulang pada hari Minggu, 26 Agustus 2018 pukul 17.58 di rumahnya. Saat pergi Ogun dikelilingi orang-orang tercinta dan yang mencintainya; istri, putra, dan saudara-saudaranya sesama anggota Wanadri.
Ogun yang wafat masih dalam usahanya mencapai puncak dunia telah menumpahkan seluruh hidupnya sebagai pendaki gunung. Jiwa Ogun telah melewati seluruh puncak. Kini, Ogun telah berpulang mengikuti takdirnya.
INNALILLAAHI WAINNA ILAIHI ROOJI’UN.
Sang Bunda (83 tahun) yang melahirkan Ogun  turut dalam acara pemakaman yang diurus oleh saudara-saudara Wanadri. Semoga jalan juang yang Ogun tunjukkan menjadi inspirasi dan menjadi amalan baiknya.
Selamat jalan Ogun. Semoga di pengembaraan abadimu yang damai, mendapat tempat terbaik disisi Allah swt. Aamiin.
Ogut mengantarmu dalam doa. Al Faatihah.
Yudi Kacus W-278-AL.

Peserta Cabor Panjat Tebing Asian Games di Palembang mendoakan Kang Ogun. (Foto Harry Suliz)*