Artikel Lingkungan

Olahan Lemon, Kebutuhan Perut dan Konservasi

Buah lemon kian digemari masyarakat. Selain menguntungkan bagi petani dari sisi bisnis, tanaman ini mampu menahan tanah lebih baik ketimbang tanaman sayuran dari risiko terjadinya tanah longsor. (Foto: rancupidfarm.com)*

Bandung – Olahan buah lemon kian digemari masyarakat terutama penyuka tanaman herbal dan berkhasiat. Namun, di sektor hulu masih didapati permasalahan klasik yakni antara kebutuhan perut petani dan eksistensi lahan konservasi yang kadang-kadang tidak sejalan.

Dalam dua tahun terakhir, Bayu, salah seorang pegiat usaha olahan minuman sari lemon dan kopi tak henti berkampanye demi dua hal tadi. Dalam benaknya selalu tertanam, bagaimana petani maju dan sejahtera dengan lahan tetap terjaga.

“Awalnya alih fungsi lahan dari sayuran ke tanaman keras, salah satunya lemon. Tanaman ini mampu menahan tanah lebih baik ketimbang tanaman sayuran dari risiko terjadinya tanah longsor. Tanam lemon tujuh bulan sudah bisa panen, terus panen setiap dua minggu tanpa mengenal musim,” tutur Bayu di Sukaasih Kota Bandung, Kamis (2/5/2019) malam.

Kata dia, sektor di hulu sangat penting untuk diperhatikan. Belum lagi persoalan para tengkulak yang acap memainkan harga seenaknya. Jadinya, harga pasar tak berpihak kepada petani. Bayu mengaku, membeli lemon lokal dari petani dengan harga di atas harga yang dibeli tengkulak.

Dengan modal seadanya, dia bertekad memajukan petani lemon dan berinisiatif membuat olahan lemon sehingga bisa langsung dijual kepada konsumen atau end user. Keilmuan di bidang perkebunan yang dimiliknya, ia tak segan untuk berbagi ilmu kepada para petani khususnya yang menjadi mitra. Pembinaan dan edukasi antara lain mengenai cara menanam dan memetik lemon yang baik pascapanen.

“Petani jangan sampai mengecewakan dan lemon lokal yang dihasilkan berkualitas baik. Jangan sampai pula mereka beralih kembali ke fungsi lahan tanaman sayur. Justru kalau kembali ke tanaman sayuran residu yang ditimbulkan dari pestisida dapat berakibat fatal,” tutur pria berusia 30 tahun tersebut.

Dalam kacamatanya, usaha sari lemon lokal yang ditekuninya punya potensi pasar yang menjanjikan dan menguntungkan bagi petani. Namun, ia tetap membina para petani agar fokus di lahan produksi, bukan lindung dan konservasi. “Lahan yang digunakan bukan lahan konservasi, ada yang statusnya lahan perhutani, ada juga milik pribadi. Kita optimalkan lahan yang ada, jangan sampai petani merambah ke hutan lindung atau hutan konservasi dan merusak alam. Kita juga harus menjaga sumber air di atas gunung,” kata Bayu.

Sejauh ini, menurut penuturannya, lahan yang ditanami lemon oleh petani yang bermitra dengannya hanya sekitar 1.200 hektare meliputi lahan perhutani dan lahan pribadi. Penyebarannya berada di empat wilayah yakni di Margalaksana Sumedang Selatan di belakang Gunung Kareumbi, Desa Loa Ibun Majalaya, Cibodas Lembang, dan seputar Papandayan Garut. Satu wilayah bisa ditanami sekira 5.000 pohon dengan jarak tanam 1-2 meter per pohon.

Pohon lemon bakal tumbuh baik di ketinggian minimal 1.000 mdpl, kata Bayu. Kelembapan tanah dan suhu dingin adalah alasannya sehingga kualitas buah yang dihasilkan lebih bagus. Terlebih, tanah yang dipakai media tanam adalah bekas letusan gunung vulkanik.

Dari lemon yang dihasilkan oleh para petani atau kelompok tani yang bermitra, sebuah brand olahan sari lemon muncul. Namanya Lemon Farm. Selain diolah secara mandiri alias industri rumahan, juga melibatkan unit pengolahan hasil (UPH) di rumah petani di Cibodas Lembang. Saat ini, baru tersedia satu kemasan botol ukuran 500 ml dengan harga jual Rp 50 ribu per botol.

Bayu mengaku, proses pengolahan tidak ada yang sia-sia. “Diolah di UPH, cangkang atau kulit dibuat menjadi kompos organik dan langsung kembali ke kebun. Tidak ada yang mubazir, jadi menguntungkan,” katanya.

Dia berharap, pasar lemon lokal dan olahan sari lemon semakin terbentuk sehingga dapat menyejahterakan petani karena mereka yang berperan secara langsung. “Meubah mindset petani memang susah. Namun, ini sangkut paut dengan urusan perut. Jadi, mereka harus sejahtera tetapi alam juga harus tetap terjaga demi kepentingan bersama,” ujar Bayu. (iar)*

Comment here