ArtikelArtikel KemanusiaanArtikel LingkunganArtikel PendidikanArtikel Penjelajahan

PALINDROM 55

Oleh ALHASANI AMIN (W-1112 Toba)

Dalam segi tatanan bahasa, bilangan 55 termasuk dalam bilangan palindrom. Angka tersebut jika dibaca dari belakang tetap menjadi 55. Sama seperti kata MALAM, ADA, ASA, KAKAK, bilangan 1221, 111, dan lain-lain.

Palindrom melambangkan kekokohan, sebab dia tak akan berubah jika dibolak-balik. Namun, secara filosofis ada makna lain yang lebih dalam dari palindrom. Palindrom bisa dimaknai sebagai posisi kegamangan ketika harus menentukan langkah, apakah mengikuti bayang-bayang di belakangnya atau mengikuti tantangan di hadapannya?

Untunglah untuk palindrom 55 ini, walaupun dilematis, tetap masih menggambarkan kesamaan kekuatan, yaitu 55; baik 5 di belakang maupun 5 di depan punya nilai yang sama kuat.

Hal itu senada dengan ucapan seorang anggota Wanadri Andi Daging kepada saya bahwa “55” adalah sebuah angka simbol dari “persimpangan”. Dalam bahasa Perancis disebut “le carrefour”, terinspirasi dari sebuah buku karya Denys Lombard, Le Carrefour Javanais: Essai D’histoire Globale. Ini tentang situasi di persimpangan jalan, ketika seseorang harus memutuskan akan mengambil jalan yang mana untuk menentukan arah perjalanan hidupnya.

Pada Malam Renungan Dies 55 Tahun Wanadri di Sekretariat Wanadri tanggal 15 Mei 2019, Kang Harrie Hardiman (W-001 Pendiri), Kang Enan Romdani (W-010 Pelopor), dan Abah Iwan Adbulrachman (W-041 Singawalang) duduk bersama untuk berbagi cerita tentang semangat awal pendirian dan perintisan Wanadri serta kisah-kisah juang dan jenaka gaya pemuda 1964.

Ada satu sesi yang menarik pada malam renungan itu, ketika salah seorang Pendiri Wanadri menyampaikan “titipan” sakralnya yaitu: agar tetap menzjaga nilai-nilai yang sudah dibangun oleh para Pendiri dan Pelopor yang terkandung di dalam Mukadimah, Janji Wanadri, dan Hakikat Wanadri. Namun, ia juga mempersilakan anggota Wanadri untuk menyempurnakan ART sesuai kebutuhan karena perkembangan dan tantangan zaman.

Terkait pada makna filosofis Palindrom 55, pada kalimat terakhir uraian Kang Harrie Hardiman merupakan jawaban dari kegamangan yaitu, “Perjalanan masa lalu dijadikan kekuatan dengan memegang kuat nilai-nilai luhur yang sudah diwariskan.” Sebagai penyeimbang dari ucapan tersebut adalah diizinkannya penyempurnaan ART yang menjadi tanda bahwa para Pendiri sudah merestui Wanadri untuk melaju seiring perkembangan dan tantangan zaman.

Mengenai jiwa seorang Wanadri, Kang Harrie memberikan pernyataan dalam sesinya, bahwa “Tidak ada Wanadri Bogor, tidak ada Wanadri Jakarta, tidak ada Wanadri Bandung. Wanadri itu adalah apa yang ada dalam Mukadimah yang ditulis oleh ayah saya. Juga yang terkandung dalam Janji dan Hakekat Wanadri. Itulah jiwa seorang Wanadri.” Inti dari kalimat tersebut menurut saya tidak hanya mengenai jiwa, tapi di dalamnya merupakan identitas dan idealisme Wanadri.

Suatu kesan yang tak akan terlupakan dalam hidup saya secara pribadi dapat duduk berdampingan bersama tiga orang pioneer dari para pioneer di Wanadri.

Selamat Hari Jadi yang ke-55 tahun Wanadri.
Terima kasih. Jasamu abadi!
Wanadri!