ArtikelArtikel Pendidikan

Peluncuran Buku “Hari-hari Petualangan Harrie”

Harrie Hardiman (W-001) diapit oleh penulis buku “Hari-hari Petualangan Harrie”, Zhibril A. dan budayawan Aat Soeratin.*

“Para pendiri adalah akar. Mereka tidak pernah terlihat tetapi mengokohkan.” Demikian dikatakan Gunardi Judawinata mengukuhkan pendapat pembicara lainnya,Satria Widjaja Somantri, Iwan Abdulrachman, Ganjar Kurnia, dan Teddy Cardin pada acara peluncuran buku Hari-hari Petualangan Harrie di Bale Rumawat Kampus Unpad Dipatiukur 35 Bandung, Sabtu (14/9/2019) sore.

Buku Hari-hari Petualangan Harrie  adalah sebuah biografi salah seorang pendiri Wanadri, Harrie Hardiman (W-001) yang ditulis oleh Zhibril A. dan diterbitkan oleh Media – Data Center Wanadri . Selain menghadirkan para pembahas, acara peluncuran buku yang dipandu oleh budayawan Aat Soeratin juga menampilkan sang penulis Zhibril dan tokoh utama, Harrie Hardiman yang sebenarnya sedang sakit.

Gunardi Judawinata, yang akrab dengan panggilan Andi Daging di Wanadri, mengatakan bahwa Harrie Hardiman menjadi salah satu sosok yang telah menanamkan nilai-nilai kewanadrian. “Kami berterima kasih kepada Zhibril yang telah menulis buku ini,” kata Gunardi.

Nilai-nilai kewanadrian yang mengakar itu juga disampaikan oleh Ganjar Kurnia dalam ulasannya. “Nilai-nilai itu tertanam pada mukadimah, janji dan hakikat Wanadri. Inilah azimut atau titik awal bagi anggota Wanadri  yang diwujudkan dalam pola pendidikan karakter melalui pendidikan dasar dan kegiatan-kegiatan lainnya. Wanadri akhirnya menjelma menjadi organisasi yang terstruktur dan sistematis untuk membangun karakter bangsa. Ini luar biasa! Pada tahun 1964, sudah ada organisasi yang punya visi pembangunan karakter bangsa,” tutur dia  menjelaskan.

Ganjar Kurnia, mantan Rektor Unpad yang kini menjabat Ketua Dewan Kebudayaan Jawa Barat, juga menegaskan bahwa buku Hari-hari Petualangan Harie bukanlah buku sejarah wanadri. “Namun, dari perjalanan hidup Kang Harrie, terkuak proses, gagasan sampai ke pembentukan organisasi tersebut,” ujar dia.

Iwan Abdulrachman, anggota Wanadri yang juga budayawan, pun menggambarkan bahwa Harrie Hardiman sebagai salah satu tokoh utama Wanadri yang telah menanamkan nilai-nilai kewanadrian. “Saya masih ingat ketika  pendidikan dasar di Burangrang. Saat itu, kami peserta pendidikan mengalami hipotermia karena hujan deras. Pada saat kedinginan itu, saya melihat Kang Harrie dan pelatih membawa bambu dan kayu  kering untuk api unggun . Itulah Wanadri! Pelatih di Wanadri sejak dulu bertanggung jawab kepada siswa, calon anggota Wanadri,” tutur Abah Iwan.

Abah Iwan juga menjelaskan bahwa di Wanadri juga ditanamkan nilai-nilai kehormatan. “Saya melihat, Roni Nurzaman – W-002 –  yang gagah dan berbadan kekar begitu hormat kepada Kang Harrie dan memanggilnya dengan sebutan Oom! Dari sini, kami mengenal rasa hormat, respek. Semua nilai itu kami kembangkan dan laksanakan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya lagi.

Seorang pendiri lainnya, Satria Widjaja Somantri menguatkan ulasan Abah Iwan. Dijelaskannya, untuk mendapatkan nilai-nilai kehidupan, Wanadri berguru kepada alam. “Carilah cahaya, biar alam yang akan menjadi guru kita,” ujar Satria yang juga menjelaskan bahwa sebelum nama Wanadri dipakai, sempat mencuat nama Ciremai dan Wanagiri. “Namun, kedua nama itu akhirnya ditolak karena dinilai terlalu lokal,” katanya menjelaskan. Ciremai adalah nama gunung di Kabupaten Kuningan Jawa Barat dan Wanagiri (Wonogiri) adalah nama kabupaten di Jawa Tengah.

Sementara itu, Teddy Cardin dalam ulasannya menjelaskan bahwa para pendiri Wanadri adalah pemilik gagasan. Selanjutnya, pada angkatan-angkatan berikutnya dari angkatan Pelopor dan seterusnya berada di tataran operasional sehingga Wanadri bertahan dan berkembang sampai saat ini. Hal senada juga disampaikan oleh Galih Donikara. “Wanadri adalah organisasi operasional yang harus terus berkegiatan. Salah satunya adalah ekspedisi,” ujar Galih yang juga menunjukkan beberapa catatan hasil diskusi dengan Harrie Hardiman.

Pada sesi terakhir, Zhibril – sang penulis – menjelaskan proses penulisan buku yang cukup panjang dan memakan aktu lebih kuran tiga tahun. “Pada awalnya pertemuan dengan Kang Harrie itu tiga bulan sekali, lalu sebulan sekali, lalu sampai seminggu sekali. Banyak hal yang harus digali termasuk juga membuka-buka dokumentasi Kang Harrie. Untunglah, Kang Harrie menyimpan baik dokumen dan fotonya,” tutur Zhibril.

Pada ujung acara,  Harrie Hardiman menghaturkan terima kasih kepada semua yang telah mengembangkan Wanadri. “Dulu itu banyak orang yang kehilangan karakter…, sehingga kami merasa perlu mendirikan sebuah organisasi. Wanadri telah ikut melahirkan orang-orang yang berkarakter dan menjadi pemimpin di negeri ini,” kata Harrie terbata-bata karena kondisi kesehatannya yang belum pulih benar.*