Artikel Penjelajahan

Pembukaan Jalur Pendakian Gunung Rinjani Masih Perlu Dievaluasi

Pemandangan Gunung Rinjani dari Bukit Pergasingan, Sembalun Nusa Tenggara Barat. Rencana pembukaan jalur pendakian Gunung Rinjani akan dievaluasi pascalebaran dan menunggu kepastian izin dari Dirjen KSDAE KLHK. (Foto Antara/ Eka Fitriani)*

Lombok – Sebagai salah satu dari tujuh puncak gunung tertinggi di Indonesia, Gunung Rinjani dirasa penting untuk dijelajahi bagi sebagian pendaki. Namun sayang, hingga sekarang gunung yang punya ketinggian 3.726 mdpl tersebut masih ditutup untuk aktivitas pendakian karena masih perlu dievaluasi secara menyeluruh.

Penutupan sementara dilakukan pascarangkaian gempa bumi yang melanda Lombok pada Juli hingga Agustus 2018. Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat Lalu Moh Faozal mengatakan, rencana pembukaan jalur pendakian gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia ini masih perlu dievaluasi.

“Seusai Lebaran ini kami akan rapat evaluasi bersama Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR),” ujar Faozal, dikutip dari Antara, Rabu (29/5/2019).

Dikatakannya, jika pada rapat nanti jalur pendakian Gunung Rinjani dibuka kembali, kemungkinan hanya dua jalur yakni Sembalun di Kabupaten Lombok Timur dan jalur Aik Berik di Kabupaten Lombok Tengah.

“Kalau jalur Senaru di Kabupaten Lombok Utara masih menunggu evaluasi dari survei,” ujarnya mengimbuhkan. Faozal berharap, jalur pendakian Gunung Rinjani sudah bisa dibuka kembali setelah Lebaran.

Pembukaan kembali jalur juga sudah direncanakan pihak BTNGR. Kepala BTNGR Sudiyono menyebut empat jalur pendakian tradisional Gunung Rinjani akan dibuka dalam waktu dekat. Kata dia, jalur pendakian Sembalun sudah disurvei oleh tim gabungan pada Maret 2019. Sedangkan jalur pendakian Senaru disurvei pada 30 April hingga 3 Mei 2019.

Sebanyak 19 tim gabungan melakukan pendakian Gunung Rinjani melalui jalur Senaru. Mereka terdiri dari personel BTNGR, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), TNI-Polri, perusahaan jasa pendakian, pemandu wisata gunung dan porter.

Sudiyono mengatakan, jalur pendakian Timbanuh dan Aik Berik akan disurveri lagi karena beberapa waktu lalu terjadi cuaca buruk yang berpotensi menyebabkan longsor dan pohon tumbang. Hasil survei, katanya, akan menjadi dasar membuat rambu-rambu di sepanjang jalur pendakian.

Sudiyono menegaskan, kepastian pembukaan jalur pendakian menunggu izin dari Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Seandainya dibuka, kemungkinan besar aktivitas pendakian hanya sampai Pelawangan dan belum direkomendasikan hingga Danau Segara Anak. Sebabnya, jalur menuju danau tersebut masih belum aman sehingga berbahaya bagi keselamatan jiwa pendaki.

“Jalur pendakian relatif sudah aman hingga Pelawangan tapi masih perlu ada perbaikan kerusakan akibat gempa bumi beberapa waktu lalu,” ujarnya. (iar)*