Artikel Lingkungan

Pemprov Kaltim Gandeng Swasta untuk Konservasi Orang Utan

Orang utan Kalimantan. Pemprov Kaltim menggandeng pihak swasta dalam upaya peningkatan fungsi konservasi di seputar Kawasan Ekonomi Esensial Wehea-Kelay, Kalimantan Timur. (Foto: nationalgeographic.grid.id)*

Samarinda – Pemerintah Kalimantan Timur menggandeng pihak swasta yang beroperasi di sekitar hutan lindung konservasi untuk meningkatkan fungsi kawasan konservasi orang utan di wilayah Kawasan Ekonomi Esensial (KEE) Wehea-Kelay.

Kepala Seksi Pemeliharaan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kaltim Muhammad Fadli mengatakan, kawasan bentang alam Wehea-Kelay adalah salah satu habitat terakhir konservasi orang utan.

“Tidak banyak habitat yang cocok untuk satwa liar. Di Kaltim hanya berada di Kutai Kartanegara ke utara,” ujar Fadli, Selasa (14/5/2019), dikutip dari bisnis.com. Kata dia mengimbuhkan, di daerah tersebut sebenarnya sudah banyak areal pembukaan usaha.

Dikatakannya, salah satu aspek penunjang untuk mengajak pihak swasta bekerja sama dalam pengelolaan kawasan konservasi adalah rumusan yang tercantum dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup. Fadli berharap aturan tersebut bisa memberikan insentif bagi pihak swasta sehingga menjadi stimulus bagi keterlibatan perusahaan.

“Konservasi tetap jalan, ekonomi jalan, masyarakat sejahtera. Ini yang kami inginkan supaya bisa jalan sebagaimana mestinya,” tutur Fadli.

Saat ini, masih kata dia, sudah ada rancangan aksi yang bakal dilakukan Pemprov Kaltim dengan para pelaku usaha. Pemprov Kaltim juga bekerja sama dengan masyarakat adat dan The Nature Conservancy (TNC).

Fadli mengungkapkan, semua stakeholder sudah sepakat untuk mengelola kawasan koridor orang utan seluas 532.143 hektare bentang alam Wehea-Kelay di Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Berau. Populasi orang utan di bentang alam tersebut ada sekitar 800 individu dan tersebar di hutan dataran rendah, dataran tinggi, perbukitan hingga areal perkebunan sawit.

Sampat saat ini, kata Fadli, tercatat ada 20 perusahaan yang beroperasi di sekitar kawasan. “Tinggal tujuh perusahaan lagi. Semoga bisa bertambah sampai tahun 2020 ada 20 perusahaan,” ujarnya. (iar)*

Comment here