Artikel Lingkungan

Pemprov NTB Siap Alokasikan 30 Persen Kawasan Konservasi

Alam bawah laut Pulau Moyo. Pulau ini menjadi bagian kawasan cagar biosfer dunia sekaligus termasuk ke dalam alokasi 30 persen kawasan konservasi di NTB. (Foto: detiktravel)*

Mataram – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) siap mengalokasikan 30 persen dari wilayahnya untuk difungsikan sebagai kawasan konservasi atau kawasan hijau.

Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur NTB Sitti Rohmi Djalilah demi mengimplementasikan konsep cagar biosfer. Rohmi mewakili Indonesia pada sidang ke-31 International Co-ordinating Council of the Man and the Biosphere (ICC-MAB) Programme Unesco di Paris Perancis, Rabu (19/6/2019). Disampaikan, salah satu agenda besar kegiatan hari itu deklarasi kawasan Teluk Saleh, Pulau Moyo, dan Gunung Tambora (Samota) di Pulau Sumbawa NTB sebagai biosfer dunia.

Selain Samota, satu cagar biosfer lainnya di Indonesia yang dideklarasikan adalah Togean di Kabupaten Tojo Una Una Sulawesi Tengah. Lalu cagar biosfer di Austria, Po Grande dan Julian Apls di Italia, Gangwon Ec0-Peace dan Yeoncheon di Korea Selatan, Lake Elton di Rusia, Alto Turia dan La Siberia & Vall del Cabriel di Spanyol, Lubombo di Eswatini, Nordhordaland di Norwegia dan Roztocze di Polandia.

Rohmi mengatakan, pengakuan cagar biosfer punya makna penting sebagai cara pengelolaan kawasan untuk kepentingan pembangunan ekonomi berkelanjutan dan konservasi. Pemprov dan masyarakat NTB sudah siap dan bersedia mengambil langkah nyata demi mengimplementasikan konsep cagar biosfer.

Rencananya, alokasi 30 persen kawasan tersebut meliputi Taman Nasional Gunung Tambora, Taman Wisata Alam Laut Pulau Moyo, Kawasan Perburuan Pulau Moyo, Taman Wisata Laut Pulau Satonda, Kawasan Perairan Liang dan Pulau Ngali serta area konservasi lainnya di bawah program pengelolaan terpadu.

“Pengesahan Saleh, Moyo, dan Tambora atau Samota sebagai cagar budaya dunia merupakan pengakuan dari komunitas internasional atas kerja keras dari masyarakat NTB dan pemerintah Indonesia,” kata Rohmi, Kamis (20/6/2019), dalam keterangan tertulisnya sebagaimana dikutip dari republika.co.id.

Dikatakan Rohmi, kawasan Samota mencakup dataran rendah hingga perbukitan dan gunung yang ketinggiannya bervariasi dari 0-2.000 mdpl. “Gunung Tambora punya ekosistem vulkanik dan erupsinya telah mengguncang dunia tahun 1815. Kawasan ini adalah rumah bagi berbagai macam flora dan fauna,” kata Rohmi mengimbuhkan.

Menurut dia, cagar biosfer punya manfaat sebagai kawasan konservasi yang akan mendukung kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistem. “Kami berharap, predikat sebagai cagar biosfer yang telah diraih bisa memberikan manfaat. Utamanya bagi masyarakat yang berada di kawasan cagar biosfer,” ucapnya. (iar)*