Artikel Penjelajahan

Pendaki Cilik Indonesia Khansa Syahlaa Berhasil Gapai Puncak Kilimanjaro

Khansa Syahlaa mengibarkan bendera merah-putih saat di Puncak Uhuru Gunung Kilimanjaro, Tanzania. (Foto: akun Instagram @khansa_summiters)*

Bandung – “Fokus untuk ke sana. Tekad kuat untuk menggapainya. Latihan keras untuk keberhasilannya. Usaha pantang menyerah serta doa-doa yang menguatkan,” tulis Khansa Syahlaa, Jumat (7/6/2019) dalam akun Instagram pribadinya @khansa_summiters, menjelang petualangannya menuju Puncak Uhuru Gunung Kilimanjaro, Tanzania.

Khansa Syahlaa, pendaki perempuan berusia 13 tahun, berhasil menggapai puncak gunung tertinggi di belahan bumi Afrika. Puncak gunung yang menjulang 5.895 mdpl itu dicapainya melalui rute Machame yang memakan waktu tujuh hari perjalanan.

Pendakian menuju salah satu dari tujuh puncak dunia itu butuh perjuangan yang superekstra. Khansa mesti melintasi medan berat dan tantangan yang hebat. Hujan yang lebat, kabut tebal, jalan berbatu dan berpasir hingga salju abadi di puncak Afrika dilewatinya.

Hujan yang mengguyur setiap hari di tengah udara yang dingin sempat membuat dirinya mengalami mual dan muntah. Kodisi tersebut ia alami saat pendakian hari kedua di Sierra Camp (3.750 mdpl) yaitu saat masih aklimatisasi alias penyesuaian tubuh di atas ketinggian.

Pendakian yang dicita-citakannya itu tak dilakukan Khansa seorang diri. Sang ayah, Aulia Ibnu, juga turut dalam pendakian. Dalam perjalanan mereka didampingi pemandu bernama Amiri. Melihat kondisi Khansa yang kurang menguntungkan, Aulia sempat berpikir untuk menunda bahkan menghentikan pendakian. Namun, tekad dan semangat Khansa yang sangat kuat akhirnya perjalanan dilanjutkan.

Dikatakan Aulia dalam keterangan persnya Rabu (19/6/2019), Kilimanjaro tidak memerlukan teknik pendakian yang khusus. Namun, perjalanan menanjak dilakukan memutar guna aklimatisasi karena tingginya gunung tersebut. Hanya satu lokasi yang membutuhkan teknik pendakian khusus yaitu di Baranco Wall (3.900 mdpl). Di sana, Khansa mesti melakukan scrambling atau jalan merayap sejauh 600 meter hingga ketinggian 4.600 mdpl.

Dengan tekad, semangat, perjuangan hebat hingga strategi pendakian selama sepekan di ketinggian, akhirnya Khansa menggapai Kilimanjaro. “Semua tidak ada yang instan. Ingin berhasil harus terus berusaha, berlatih keras dan bertekad kuat,” ujar Khansa, mengutip perkataan sang ayah.

Dalam masa persiapan, mereka berlatih fisik dan mental. Gunung Gede-Pangrango di Jawa Barat, Gunung Sindoro-Sumbing-Slamet di Jawa Tengah dan Gunung Arjuno-Welirang di Jawa Timur menjadi lokasi mereka meningkatkan daya juang dan mental.

“Setiap awal ada akhir. Setiap perjalanan akan ada ujungnya. Ujungnya adalah puncak impian aku, puncak perjuangan aku. Uhuru Peak 5.895 Mdpl, Puncak Kilimanajaro, gunung tertinggi di benua Afrika,” kata gadis asal Cibubur Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor, usai menjejakkan kakinya di puncak.

Dengan menggapai Kilimanjaro, maka siswi kelas 7 An Nahl Islamic School Cibubur ini telah berhasil mencapai dua puncak yang menjadi bagian seven summit dunia. Pada 2017, Khansa berhasil menggapai puncak Carstensz Pyramid (4.848 mdpl) di Papua Indonesia. Hingga sekarang, rekornya di Carstensz sebagai pendaki perempuan termuda dunia masih dipegangnya.

Masih ada lima puncak gunung tertinggi lainnya untuk digapai dalam konsep seven summit dunia versi pendaki ternama berkebangsaan Italia Reinhold Messner. Lima gunung tersebut adalah Everest (8.848 mdpl) di Nepal, Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina, Denali (6.194 mdpl) di Alaska, Elbrus (5.642 mdpl) di Rusia dan Vinson Massif (4.892 mdpl) di Antartika. (iar)*