Artikel Kemanusiaan

Peningkatan Tingkat Aktivitas G. Slamet Dari Waspada (level II) Ke Siaga (level III)

I. pendahuluan

Gunungapi Slamet (G. Slamet) adalah gunungapi strato berbentuk kerucut, dengan tinggi puncaknya 3432 m dpl. Lokasi G. Slamet secara administratif masuk ke dalam 5 wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Pemalang, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis terletak pada posisi 7o 14’ 30” Lintang Selatan dan 109o 12’ 30” Bujur Timur. Pada tanggal 10 Maret 2014 status kegiatan G. Slamet dinaikan dari Normal (level I) menjadi Waspada (level II), kemudian tanggal 30 April 2014 status kegiatan G. Slamet dinaikan dari Waspada (level II) menjadi Siaga (level III), dan tanggal 12 Mei 2014 diturunkan kembali dari Siaga (level III) menjadi Waspada (level II). Pemantauan secara secara kontinyu terus dilakukan dengan menggunakan metoda visual, seismik, deformasi, dan geokimia.

II. PENGAMATAN

2.1. VISUAL

Juni 2014, cuaca terang – mendung, angin tenang. G. Slamet tampak jelas – tertutup kabut. Pada saat jelas teramati hembusan asap kawah umumnya putih tipis – putih sedang dengan tinggi 400 – 600 m

Tanggal 01 – 14 Juli 2014, cuaca terang – mendung, angin tenang. G. Slamet tampak jelas – tertutup kabut. Pada saat jelas teramati hembusan asap kawah umumnya putih tipis – putih sedang dengan tinggi 400 – 600 m, teramati 31 kali letusan abu, warna putih kelabu tebal, tekanan sedang, tinggi sekitar 300 – 1500 meter di atas puncak, condong ke arah Utara dan Barat.

Tanggal 15 – 31 Juli 2014, cuaca terang – mendung, angin tenang. G. Slamet tampak jelas – tertutup kabut. Pada saat jelas teramati 148 kali letusan abu, warna kelabu tebal, tekanan sedang, tinggi berkisar 300 – 2000 meter di atas puncak, condong ke arah Utara dan Timur. 2 kali suara dentuman sedang, 1 (satu) kali sinar api.

Tanggal 1 – 12 Agustus 2014 (hingga pkl. 06:00 WIB), cuaca terang – mendung, angin tenang. G. Slamet tampak jelas – tertutup kabut. Pada saat jelas teramati 100 kali letusan abu, warna kelabu tebal, tekanan sedang, tinggi berkisar 300 – 800 meter di atas puncak, condong ke arah Utara, Timur dan Barat. 109 kali suara dentuman sedang-kuat, 9 kali suara gemuruh, 2 kali luncuran lava pijar sejauh 1500 m ke arah barat-barat daya dan 37 kali sinar api tinggi 50 – 300 m.

1.1. KEGEMPAAN

Juni 2014, terekam 29 kali Gempa Letusan, 3685 kali Gempa Hembusan, 9 kali Gempa Tremor Harmonik, 4 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 3 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 6 kali Gempa Tektonik Lokal, 4 kali Gempa Tektonik Jauh.
Tanggal 1 – 14 Juli 2014, terekam 157 kali Gempa Letusan,2965 kali Gempa Hembusan, 21 kali Tremor Harmonik, 8 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 4 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 1 (satu) kali Gempa Tektonik Lokal, dan 6 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 15 – 31 Juli 2014, terekam 496 kali Gempa Letusan,4695 kali Gempa Hembusan, 4 kali Tremor Harmonik, 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA, dan 1 (satu) kali Gempa Tektonik Jauh (TJ).
Tanggal 1 – 12 Agustus 2014 (hingga pkl. 06:00 WIB), terekam 478 kali Gempa Letusan, 5070 kali Gempa Hembusan, 2 kali Tremor Harmonik, 1 (satu) kali Vulkanik Dangkal (VB), 2 kali Vulkanik Dalam (VA), dan 2 kali Tektonik Lokal (TL).

Selama periode Periode bulan Juni – Agustus 2014 gempa yang terekam adalah Gempa Letusan, Gempa Hembusan, Gempa Vulkanik Dalam (VA), Gempa Vulkanik Dangkal (VB), Gempa Tektonik Lokal, Gempa Tektonik Jauh dan Tremor Harmonik, dengan didominasi Gempa Letusan dan Hembusan.

Jumlah Gempa Letusan, cenderung meningkat, selama Juni – Agustus 2014, pada bulan Juni 2014 terekam 29 kali Gempa Letusan atau rata-rata sekitar 1 kejadian/hari. Pada bulan Juli 2014 terekam 653 kali Gempa Letusan atau rata-rata sekitar 21 kejadian/hari, pada bulan Agustus 2014 dari tanggal 1 – 11 Agustus 2014 terekam 474 kali atau rata-rata sekitar 43 kejadian/hari. Jumlah Gempa Hembusan cenderung meningkat walaupun sedikit berfluktuasi, selama Juni – Agustus 2014, pada bulan Juni 2014 terekam 3685 kali atau rata-rata sekitar 123 kejadian/hari, pada bulan Juli 2014 terekam 7660 kali atau rata-rata sekitar 247 kejadian/hari, pada tanggal 1 – 11 Agustus 2014 terekam 5020 kali atau rata-rata sekitar 456 kejadian/hari (Lampiran 1).

Lampiran 2. RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) menunjukkan energi getaran gempa-gempa dari 1 Februari – 12 Agustus 2014 (hingga pukul 05:20 WIB ).

RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) pada Lampiran 2 menunjukkan energi getaran gempa-gempa pada periode 01 Februari – 12 Agustus 2014 (hingga pukul 05:20 WIB ). Nilai RSAM cenderung naik namun berfluktuasi sejak pertengahan Juli 2014 hingga saat ini, yaitu bersamaan dengan peningkatan gempa-gempa hembusan dan letusan. (Lampiran 2).

2.3 GEOKIMIA

Pemantauan geokimia dimaksudkan untuk mengukur suhu di mata air panas sekitar G. Slamet (lk 7,5 km ke arah Baratlaut dari puncak). Hasil pengukuran adalah sebagai berikut :

Juni 2014 suhu mata air Pandansari terukur 40,5 – 42,5 oC, suhu mata air Pengasihan terukur 49,7 – 50,5oC, dan suhu mata air Sicaya terukur 59,7 – 60,6oC.
Tanggal 1 – 14 Juli 2014 suhu mata air Pandansari terukur 42,5 oC, suhu mata air Pengasihan terukur 50,7oC, dan suhu mata air Sicaya terukur 50,7oC.
Tanggal 15 – 31 Juli 2014 suhu mata air Pandansari terukur 41,3 – 42,5oC, suhu mata air Pengasihan terukur 49,8 – 50,8oC, dan suhu mata air Sicaya terukur 61,1 – 62,3oC.
Tanggal 1 – 11 Agustus 2014 suhu mata air Pandansari terukur 42,8 – 43,3oC, suhu mata air Pengasihan terukur 49,0 – 49,9oC, dan suhu mata air Sicaya terukur 61,7 – 62,3oC
Hasil pengukuran suhu di lokasi Sicaya dan Pandansari dalam satu bulan terakhir cenderung naik walaupun berfluktuasi (Lampiran 3), sedangkan hasil pengukuran suhu mata air di Pengasihan cenderung stabil.

2.4 DEFORMASI

Pengukuran deformasi G. Slamet dilakukan dengan peralatan tiltmeter dan EDM (Electronic Distance Measurement). Stasiun tiltmeter berada di Bukit Cilik dan Blambangan, sedangkan titik pemantauan EDM berada di Bukit Cilik dan Bukit Buncis.

2.4.1 Tiltmeter

Lokasi pengamatan deformasi dengan tiltmeter dilakukan di dua lokasi, yaitu : stasiun Bukit Cilik (5,5 km ke arah utara dari puncak G. Slamet) dan Blambangan (4,5 km kearah timur puncak G. Slamet). Data tiltmeter stasiun Bukit Cilik sedang ganggguan dan dalam perbaikan.

Hasil pengamatan deformasi dengan tiltmeter kontinyu di stasiun Blambangan hingga tanggal 12 Agustus 2014 dari sejak pemasangan (11 Mei 2014), komponen sumbu X (tangensial) memperlihatkan pola deflasi yang menuju stabil (datar) sedangkan komponen sumbu Y (radial) memperlihatkan pola stabil yang menerus. (Lampiran 4).

2.4.2 EDM

Pengamatan deformasi dengan EDM (Electronic Distance Measurement) dilakukan dari Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) Slamet (lk 10 km ke arah utara puncak) terhadap dua reflektor, yaitu Buncis (6 km ke arah baratlaut dari puncak G. Slamet) dan Cilik (5,5 km ke arah utara puncak G. Slamet).

Hasil pengukuran EDM sejak 11 hari terakhir, yaitu Pos ke Cilik, menunjukkan kecenderungan pemendekan jarak miring (deformasi inflasi) relatif kecil walaupun berfluktuasi. Sedangkan hasil pengukuran EDM dari Pos ke Buncis menunjukkan jarak miring berfluktuasi. Deformasi inflasi tersebut mengindikasikan adanya tekanan di bawah kawah akibat pergerakan magma (Lampiran 5).

III. POTENSI BAHAYA
Erupsi berpotensi terjadi, ancaman di dalam radius 4 km dari pusat erupsi, menghasilkan material berukuran abu sampai lapili (berukuran 1-4 cm), lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat. Sedangkan material erupsi abu vulkanik dapat mencapai jarak10 km atau lebih (bergantung besar dan arah angin) dari pusat erupsi.
Erupsi yang menghasilkan aliran lava dan awanpanas berpotensi terjadi di dalam radius 4 km.
Potensi terjadinya lahar dapat berasal dari endapan abu/material erupsi dan curah hujan tinggi. Lahar berpotensi terjadi di lembah-lembah sungai yang berhulu di G. Slamet.

IV. KESIMPULAN

Aktivitas puncak secara visual dalam satu minggu terakhir terus meningkat dengan ditandai dengan kejadian lontaran lava pijar, suara dentuman dan suara gemuruh hingga terdengar sampai di Pos PGA Slamet.
Aktivitas kegempaan vulkanik G. Slamet menunjukkan peningkatan dan didominasi oleh Gempa Letusan dan Gempa Hembusan.
Energi kegempaan (RSAM) menunjukkan peningkatan.
Data geokimia berupa suhu mata air panas di lokasi Sicaya dan Pandansari cenderung sedikit meningkat walaupun berfluktuasi.
Data deformasi mengindikasikan adanya tekanan relatif kecil akibat pergerakan magma.
Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental serta potensi ancaman bahaya G. Slamet maka tingkat aktivitas G. Slamet ditingkatkan dari Waspada (level II) menjadi Siaga (level III) pada tanggal 12 Agustus 2014 pukul 10:00 WIB.
Sehubungan peningkatan status tersebut, maka Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi akan meningktakan pemantauan secara intensif guna melakukan evaluasi kegiatan G. Slamet dan dikoordinasikan dengan pemerintah daerah setempat.

Status kegiatan G. Slamet akan dinaikkan/diturunkan jika terjadi peningkatan/penurunan aktivitas vulkanik.

V. REKOMENDASI
Sehubungan dengan G. Slamet dalam status SIAGA, maka kami rekomendasikan:

Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah yang ada di puncak G. Slamet dalam radius 4 km dari kawah aktif.
Masyarakat di sekitar G. Slamet diharap tenang tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Slamet, dan harap selalu mengikuti arahan dari BPBD setempat.
Masyarakat yang berada dalam Kawasan Rawan Bencana II (KRB II) untuk selalu waspada dan memperhatikan perkembangan G. Slamet yang dikeluarkan oleh BPBD setempat.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (BPBD Provinsi), BPBD Kabupaten Pemalang, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Purbalingga tentang aktivitas G. Slamet.
Agar BPBD Kabupaten Pemalang, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Purbalingga senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Slamet di Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.
Badan Geologi akan selalu berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi, BPBD Kabupaten Pemalang, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Purbalingga dalam memberikan informasi tentang kegiatan G. Slamet.

Sumber : http://www.vsi.esdm.go.id/