PULAU TERDEPAN INDONESIA

PULAU TERDEPAN INDONESIA
Oleh : MDC W – Irwanto Iskandar

peta 92 pulau terdepan

Kawasan Perbatasan sebuah Negara bisa dikatakan sebagai kawasan yang sangat strategis bagi sebuah Negara. Hal tersebut menyangkut masalah wilayah kedaulatan Negara yang sudah seharusnya wajib dijaga keamanan dan keberlangsungan keberadaannya.

Kawasan Perbatasan Indonesia meliputi perbatasan darat dan laut dengan beberapa Negara tetangga. Sementara perbatasan darat hanya ada di pulau Kalimantan (panjang 1.885,3 km atau 2.019 km) berbatasan dengan Malaysia; pulau Timor  berbatasan dengan Timor Leste terdapat dua sektor yaitu, Sektor Barat sepanjang ±120 km dan Sektor Timur (enclave Occussi) sepanjang ±180 km atau (268,8 kilometer); dan pulau Papua (sekitar 760 kilometer atau ±820km) berbatasan dengan Papua Nugini; maka perbatasan laut meliputi daerah yang sangat luas.

Masalah perbedaan angka, nampaknya sudah menjadi hal biasa di Indonesia ini. Sebagaimana ada yang menyatakan jumlah pulau Indonesia sebanyak 17.508, 17.504, atau yang terakhir ini sering diberitakan oleh Tim Toponimi, adalah 13.466 pulau. Mana yang benar, dan bisa menjadi acuan serta kepercayaan publik, adalah sudah menjadi kewajiban Pemerintah RI yang harus meluruskannya !

Perbatasan laut Indonesia berbatasan dengan 10 negara tetangga, yaitu (1) India, (2) Malaysia, (3) Singapura, (4) Thailand, (5) Vietnam, (6) Filipina, (7) Republik Palau, (8) Australia, (9) Timor Leste dan (10) Papua Nugini. Sehubungan dengan letaknya yang dilaut, maka Pulau-pulau Kecil Terluar Indonesia memiliki nilai strategis sebagai Titik Dasar dari Garis Pangkal Kepulauan Indonesia dalam penetapan wilayah Perairan Indonesia, Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, dan Landas Kontinen Indonesia.

*

Di dalam  PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78 TAHUN 2005 TENTANG PENGELOLAAN PULAU-PULAU KECIL TERLUAR, disebutkan bahwa Pulau Kecil Terluar adalah pulau dengan luas areal kurang atau sama dengan 2000 km2 (dua ribu kilomenter persegi) yang memiliki titik-titik dasar koordinat geografis yang menghubungkan garis pangkal laut kepulauan sesuai dengan hukum internasional dan nasional.

Penggunaan istilah Pulau-pulau Terluar mengacu pada penerjemahan “outermost island” dari United Nations Convention On the Law of the Sea (UNCLOS) tahun 1982, yang diindonesiakan menjadi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut. Menurut ALEX RETRAUBUN, mantan Direktur Pemberdayaan Pulau-pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan, istilah “pulau-pulau terluar” sebenarnya ada dalam sistem kelautan suatu Negara kepulauan, termasuk Indonesia. Istilah ini adalah istilah baku secara internasional bagi negara berstatus negara kepulauan (Archipelagic State), termasuk Indonesia yang telah mengakui konvensi hukum laut ini.

Ketika muncul usulan untuk mengganti istilah Pulau Terluar menjadi Pulau Terdepan sebagaimana yang diutarakan oleh Susanto Zuhdi (2006) pada pidato pengukuhan “Guru Besar Tetap Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia”, maka menurut Alex Retraubun bergantung pada konteksnya. Jika dalam konteks isu batas maritim, istilah pulau terluar lebih tepat ketimbang pulau terdepan. Karena, pulau terluar dipakai sebagai penentu kejelasan batas secara fisik dengan adanya titik dasar (base point).

Tambahnya, kalau bukan pulau terluar yang diberikan titik dasar, kita membuka peluang untuk pihak asing mengklaim wilayah kita meski hanya secuil. Ingat! Kasus Ambalat dengan Malaysia muncul karena kekaburan batas di wilayah itu sebagai akibat hilangnya Pulau Sipadan dan Ligitan yang semula bertitik dasar (sesuai dengan PP No 38/2002).

*

Sedangkan Benny H Hoed, Munsyi, Ketua Umum Himpunan Penerjemah Indonesia, sependapat dengan Susanto Zuhdi, yang lebih mengistilahkannya dengan Pulau Terdepan dari pada Pulau Terluar. Benny H Hoed mendapati dua ungkapan yang cocok dan tidak mengakibatkan kesalahan dalam cara berpikir kita. Kalau memang bagian dari NKRI, seharusnya pulau-pulau itu diberi nama sesuai dengan statusnya. Misalnya saja, pulau-pulau perbatasan atau pulau-pulau terdepan.

Imbuhnya lagi, cara berpikir adalah bagian dari kebudayaan. Jadi, bahasa atau kata dapat membentuk sosok pikiran kita. Ini berarti, penggunaan ungkapan pulau terluar dapat menimbulkan kesan kepada kita bahwa ada pulau di “dalam” dan ada pulau di “luar” NKRI atau setidaknya sosok pikiran “pusat” dan “pinggir”.

Oleh karena itu, beliau mengusulkan penggunaan ungkapan pulau-pulau perbatasan atau pulau-pulau terdepan. Ungkapan pulau-pulau perbatasan akan membangun sosok pikiran pulau-pulau itu berada di perbatasan dengan negara tetangga kita, sedangkan pulau-pulau terdepan membangun sosok pikiran pulau-pulau yang berada di garis terdepan atau di beranda depan dalam hubungan dengan negara tentangga kita. Ungkapan yang pertama berbau topografis, sedangkan yang kedua geopolitis.

Penggantian ungkapan itu tentunya dapat memberikan dasar yang lebih cocok dengan upaya kita memberdayakan secara sosial ekonomi dan sosial budaya penduduk pulau-pulau itu agar tak merasa berada di luar, tetapi di dalam NKRI. Setidaknya, tidak merasa dipinggirkan.

*

Sekarang, sebagai warga bangsa yang peduli terhadap keberadaan wilayah kedaulatan NKRI, setidaknya kembali ke diri kita masing-masing. Istilah mana yang mana mau dipakai. Walaupun, menurut pandangan penulis, sesuai dengan kondisi Negara kita yang saat ini sedang sibuk membangun harkat hidup berbangsa dan negara, lebih tepat menggunakan istilah Pulau Terdepan.

Silakan saja dipakai istilah Pulau Terluar jika sesuai dengan konteksnya, semisal sedang dalam rangka perundingan wilayah tapal batas dengan Negara tetangga. Tetapi untuk urusan domestik (dalam negeri) sebaiknya dipakai istilah Pulau Terdepan, karena ini menyangkut harkat hidup orang banyak. Khususnya bagi saudara-saudari kita sebangsa dan setanahair yang tinggal di pulau-pulau terdepan tersebut.

Faktanya, sampai saat ini, dari kalangan pemerintahan sendiri membuat program dengan menggunakan istilah/nama yang panjang berlarian. Semisal, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kemenkeu menggunakan istilah Terdepan dan Terluar (Perbatasan); Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud mempunyai Program Sarjana Mendidik Daerah Terdepan Terluar dan Tertinggal (SM3T). Selain itu, Kementerian Kesehatan menerjunkan tim Nusantara Sehat di daerah 3T (tertinggal, terluar dan terdepan),. Tetapi mungkin saja, istilah yang panjang berlarian ini, mengacu pada terbitnya INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG PERCEPATAN PELAKSANAAN PRIORITAS PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2010, yang secara nyata dan tegas menyebutkan istilah/nama daerah tertinggal, terdepan, terluar dan pascakonflik. (MDC-ii).

*

Sumber Penulisan:
https://id.wikipedia.org/wiki/Perbatasan_Indonesia%E2%80%93Malaysia

http://www.academia.edu/9762109/BATAS_WILAYAH_DARAT_DAN_LAUT_INDONESIA_DENGAN_NEGARA_LAIN

http://www.unisosdem.org/article_fullversion.php?aid=6787&coid=1&caid=56&gid=2

URL Source: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0609/21/opini/2968737.htm

https://www.mail-archive.com/forum-pembaca-kompas@yahoogroups.com/msg08802.html

Wanadri-Rumah Nusantara: Buku Tepian Tanahair. 92 Pulau Terdepan Indonesia. Indonesia Bagian Barat, Tengah, Timur, 2008-2013.

Tagged , , , , , , ,