Artikel Lingkungan

Relawan Konservasi Sulawesi Utara Tanam 500 Bibit Pohon di Bukit Kaki Dian

Relawan konservasi berfoto bersama usai melakukan penanaman 500 bibit pohon di Bukit Kaki Dian Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara. Kegiatan tersebut salah satunya dilakukan sebagai upaya mengedukasi masyarakat akan pentingnya pepohonan sebagai sumber air. (Foto: kumparan.com/ dok. relawan konservasi)*

Minahasa – Sejumlah relawan konservasi di Sulawesi Utara melakukan upaya penyelamatan lingkungan dengan aksi penanaman 500 bibit pohon di Bukit Kaki Dian Kabupaten Minahasa Utara. Sebelumnya, mereka menanam ribuan bibit mangrove di perairan Bahowo Kecamatan Bunaken Kepulauan Kota Manado pada Mei lalu.

Penghijauan di Bukit Kaki Dian sudah dilakukan sejak bulan lalu ketika daerah tersebut masih dipenuhi semak belukar. Pada Sabtu (15/6/2019), sebagai puncak dari rangkaian kegiatan, segenap relawan dari berbagai LSM, Mahasiswa Pencinta Alam, Kelompok Pencinta Alam dan pihak-pihak yang peduli lingkungan bersinergi menanam 500 bibit pohon.

Didukung penuh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, kegiatan ini sekaligus mengedukasi masyarakat akan pentingnya pepohonan sebagai sumber air.

Ketua Manengkel Solidaritas Sella Runtulalo mengatakan, kegiatan di Kaki Dian dengan aksi penghijauan tersebut sebagai pengingat jika daerah tersebut harus terus hijau. “Karena daerah ini adalah sumber mata air. Dan pohon adalah sumber yang bisa dijadikan wadah untuk menjaga air itu,” katanya di sela acara, dikutip dari kumparan.com.

Adapun bibit pohon yang ditanam antara lain matoa, gamalima, dan gaharu. Bibit-bibit pohon tersebut disebar di lahan sekira satu hektare di kawasan tersebut.

Sementara pegiat lingkungan Sulawesi Utara Sonny Tasidjawa mengatakan, upaya relawan konservasi punya dua tujuan utama yakni langsung aksi ke lingkungan dan mengedukasi masyarakat akan pentingnya pelestarian lingkungan. Para relawan melakukan upaya-upaya tersebut atas dasar kecintaannya akan lingkungan.

“Bersyukur, saat ini para relawan lingkungan di Sulawesi Utara sudah mau bergerak tanpa ada embel-embel apapun. Semuanya dilakukan dengan rasa cinta di hati tentang lingkungan,” kata Sonny. (iar)*