Artikel Lingkungan

Sarang “Burung Garuda” Ditemukan di Gede Pangrango

Sarang baru anak elang jawa ditemukan di kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Kabupaten Cianjur. Pertama kali sarang tersebut terpantau pada 13 April 2019 oleh Tim Monitoring Elang Jawa TNGGP. (Foto: gedepangrango.org)*

Cianjur – Sarang baru elang jawa ditemukan di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Kabupaten Cianjur. Sarang burung endemik Jawa yang diidentikkan dengan lambang Negara Indonesia Burung Garuda ini kali pertama terpantau pekan lalu.

Ditemukannya sarang tersebut juga menandakan TNGGP masih menjadi habitat yang nyaman bagi elang jawa. Tim Monitoring Elang Jawa TNGGP yang terdiri atas Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan, Fungsional Penyuluh Kehutanan dan masyarakat mitra Polhut sempat mengabadikan induk elang bersama anaknya yang tengah bercengkerama di dalam sarang tersebut. Diperkirakan umur si junior baru 1 sampai 2 minggu.

“Lokasi sarangnya di dalam kawasan konservasi. Namun, posisi tepatnya tidak bisa kami sebutkan soalnya khawatir diburu oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Terlebih, elang jawa ini bernilai ekonomis yang sangat tinggi,” kata Humas Balai Besar TNGGP Ade Bagja Hidayat, Senin (22/4/2019), dikutip dari Kompas.

Dikatakannya, keberadaan anak burung pemangsa itu pertama kali terpantau tim monitoring pada 13 April 2019, lalu terpantau lagi pada 18 April 2019. Pihaknya mengaku, tidak terlalu sering memantau kondisinya dari jarak dekat lantaran khawatir mengganggu aktivitas burung langka tersebut.

Ade mengatakan, penemuan sarang baru penguasa langit Jawa ini adalah sesuatu yang menggembirakan. Sebabnya, “burung garuda” dikategorikan ke dalam salah satu daftar satwa prioritas TNGGP untuk ditingkatkan populasinya dari tahun 2015 hingga 2019. Burung kebanggaan Indonesia ini juga salah satu raptor berstatus terancam punah dalam IUCN Red List dan ditetapkan sebagai satwa dilindungi sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106 Tahun 2018.

Keberadaan elang jawa, kata Ade, adalah satu indikator kesehatan ekosistem sehingga menandakan kawasan konservasi TNGGP masih terpelihara dan terjaga. “Top predator ini sangat peka terhadap kerusakan lingkungan. Karena itu, apabila masih mampu melahirkan anaknya berarti TNGGP jadi rumah nyaman bagi elang jawa untuk berkembang biak,” kata Ade menjelaskan.

Dalam laman resmi gedepangrango.org, Kepala Balai Besar TNGGP Wahju Rudianto menuturkan, keberadaan elang jawa bersama jenis satwa dilindungi lainnya merupakan nilai penting mengapa kawasan TNGGP perlu dipertahankan sebagai hutan konservasi.”Diperlukan peran banyak pihak untuk melestarikannya,” katanya. (iar)*