Sebagian Tubuh Gunung Anak Krakatau Longsor

ANTARA FOTO/BISINIS INDONESIA/NURUL HIDAYAT

Gunungapi Anak Krakatau terletak di Selat Sunda adalah gunungapi strato tipe A dan merupakan gunungapi muda yang muncul dalam kaldera, pasca erupsi paroksimal tahun 1883 dari kompleks vulkanik Krakatau. Aktivitas erupsi setelah pembentukan dimulai sejak tahun 1927, pada saat tubuh gunungapi masih di bawah permukaan laut. Tubuh Anak Krakatau muncul ke permukaan laut sejak tahun 1929. Sejak saat itu dan hingga kini G. Anak Krakatau berada dalam fasa konstruksi (membangun tubuhnya hingga besar). Saat ini G. Anak Krakatau mempunyai elevasi tertinggi 338 meter dari muka laut (pengukuran September 2018). Karakter letusannya adalah erupsi magmatik yang berupa erupsi ekplosif lemah (strombolian) dan erupsi efusif berupa aliran lava. Pada tahun 2016 letusan terjadi pada 20 Juni 2016, sedangkan pada tahun 2017 letusan terjadi pada tanggal 19 Februari 2017 berupa letusan strombolian. Sejak tanggal 29 Juni 2018, G. Anak Krakatau kembali meletus hingga tanggal 22 Desember  berupa letusan strombolian.

Tanggal 22 Desember, seperti biasa hari-hari sebelumnya, G. Anak Krakatau terjadi letusan. Secara visual, teramati letusan dengan tinggi asap berkisar 300 – 1500 meter di atas puncak kawah. Secara kegempaan, terekam gempa tremor menerus dengan amplitudo overscale (58 mm). Pukul  21.03 WIB terjadi letusan, selang beberapa lama ada info tsunami. Berdasarkan citra satelit yang diterima oleh PVMBG, sebagian besar dari tubuh G. Anak Krakatau telah hilang dilongsorkan, yang kemudian diketahui menyebabkan tsunami di beberapa wilayah di Provinsi Lampung dan Banten.

Pasca kejadian tsunami tersebut, aktivitas G. Anak Krakatau masih tetap tinggi. Secara visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tipis hingga tebal tinggi sekitar 500 meter dari puncak dengan angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat daya. Kegempaan masih didominasi oleh tremor menerus dengan amplitudo mencapai 32 mm (dominan 25 mm).Pada tanggal 26 Desember dilaporkan hujan abu vulkanik di beberapa wilayah, yakni di Cilegon, Anyer danSerang. Tim Tanggap Darurat dari PVMBG langsung melakukan cek lapangan, untuk mengkonfirmasikan kejadian tersebut serta untuk menyampling abu vulkanik yang jatuh yang selanjutnya akan dianalisis di Kantor PVMBG.

Potensi Bencana Erupsi G. Anak Krakatau, Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) menunjukkan hampir seluruh tubuh G. Anak Krakatau yang berdiameter ± 2 Km merupakan kawasan rawan bencana. Potensi bahaya dari aktivitas G. Anak Krakatau saat ini adalah lontaran material pijar, aliran lava dari pusat erupsi dan awan panas yang mengarah ke selatan. Sedangkan sebaran abu vulkanik tergantung dari arah dan kecepatan angin.Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental hingga tanggal 27 Desember 2018 pukul 05:00 WIB, tingkat aktivitas G. Anak Krakatau dinaikkan dari Level II  (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung pukul 06:00 WIB. Sehubungan dengan tingkat aktivitas Level III (Siaga) tersebut, direkomendasikan kepada masyarakat tidak diperbolehkan mendekati G. Anak Krakatau dalam radius 5 km dari kawah. Saat hujan abu turun, masyarakat diminta untuk mengenakan masker dan kacamata bila beraktivitas di luar rumah. Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat.Apabila ada perubahan aktivitas kegiatan, status akan disesuaikan.

http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/kegiatan-pvmbg/berita-harian-kebencanaan-geologi/

Berikut adalah laporan tentang Bencana Geologi yang terjadi pada Kamis (27/12/2018):

1. Gunungapi

Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara):
Tingkat aktivitas Level IV (AWAS). G. Sinabung (2460 m dpl) mengalami erupsi menerus sejak tahun 2013.Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah setinggi 200 meter, berwarna putih, dengan intensitas tipis hingga tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan barat.

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat :

  • 2 kali gempa Hembusan
  • 2 kali gempa Tektonik Lokal
  • 3 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

  • Masyarakat/pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km untuk sektor Utara -Barat, 4 km untuk sektor Selatan – Barat, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan – Tenggara, didalam jarak 6 km untuk sektor Tenggara – Timur serta didalam jarak 4 km untuk sektor Utara -Timur.
  • Masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar mewaspadai potensi banjir lahar terutama pada saat terjadi hujan lebat.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 22 Juni 2018 pukul 09:06 WIB, terkait letusan dengan ketinggian kolom abu sekitar 3460 m di atas permukaan laut atau sekitar 1000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat-selatan.

Gunungapi Agung (Bali):
Tingkat aktivitas Level III (Siaga). G. Agung (3142 m dpl) mengalami erupsi sejak 21 November 2017.Dari kemarin hingga pagi ini visual cuaca visual cuaca berawan hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah timurlaut dan barat. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Asap kawah utama teramati setinggi 400 m dari puncak, berwarna putih dengan intesitas tipis.

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat :

  • 5 kali gempa Vulkanik Dangkal
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • 8 kali gempa Tektonik Jauh

Kegempaan tanggal 27 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat: Nihil

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakiaan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak G. Agung.
  • Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru
  • Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.
  • Status Level III (Siaga) hanya berlaku di dalam radius 4 km seperti tersebut di atas, di luar area tersebut aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman, namun harus tetap menjaga kewaspadaan.

VONA :

VONA terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 27 Juli 2018 pukul 14:27 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu 5142 m di atas permukaan laut atau sekitar 2000 m di atas puncak, angin bertiup ke arah barat.

Gunungapi Soputan (Sulawesi Utara):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Soputan (1784 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah timur dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat :

  • 11 kali gempa Guguran
  • 5 kali gempa Hembusan

Tanggal 27 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat :

  • 13 kali gempa Guguran
  • 1 kali gempa Hembusan

Rekomendasi :

Masyarakat agar tidak beraktivitas di dalam radius 4 km dari puncak G. Soputan dan dalam wilayah sektor arah barat-baratdaya sejauh 6,5 km yang merupakan daerah bukaan kawah, guna menghindari ancaman guguran lava dan awan panas guguran

VONA :

VONA terkirim kode warna RED, terbit tanggal 16 Desember 2018 pukul 05:54 WITA, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu maksimum 8809 meter di atas permukaan laut atau sekitar 7000 meter di atas puncak.

Gunungapi Karangetang (Sulawesi Utara):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). G. Karangetang (2460 m dpl) kembali memasuki periode erupsi sejak 25 November 2018.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat :

  • 40 kali gempa Hembusan
  • 13 kali gempa Harmonik
  • 2 kali gempa Tektonik Jauh

Tanggal 27 Desember 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat :

  • 15 kali gempa Hembusan
  • 3 kali gempa Harmonik

Rekomendasi :

  • Masyarakat di sekitar G. Karangetang dan pengunjung/wisatawan agar tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam radius 2.5 km dari Kawah 2 (kawah utara) dan Kawah Utama (kawah Selatan) ke arah Utara-Timur-Selatan-Barat dan radius 3 km ke arah Baratlaut
  • Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai
  • Masyarakat disekitar G. Karangetang dianjurkan agar menyiapkan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 25 November 2018 pukul 13:32 WITA, terkait emisi abu vulkanik dengan ketinggian sekitar 2284 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak, angin bertiup ke arah Timur.

Gunungapi Anak Krakatau (Lampung):
Tingkat aktivitas Level III (SIAGA). Gunungapi Anak Krakatau (338 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan tingkat aktivitasnya dinaikkan dari Level II (WASPADA) ke Level III (SIAGA) pada 27 Desember 2018 pukul 06:00 WIB.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati dengan tinggi sekitar 700 meter dari puncak berwarna hitam dan intensitas tebal. Angin bertiup lemah hingga kencang ke arah utara dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat :

  • Tremor menerus dengan amplitudo 9-35 mm, dominan 25 mm

Rekomendasi :

Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 5 km dari kawah.

VONA:

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 26 Desember 2018 pukul 16:00 WIB, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu yang tidak dapat teramati karena faktor cuaca. Kolom abu bergerak ke arah utara dan timurlaut.

Gunungapi Merapi (Jawa Tengah – Yogyakarta):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati dengan tinggi sekitar 20 meter dari puncak dan intensitas sedang hingga tebal. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan tenggara.

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat :

  • 25 kali gempa Guguran
  • 2 kali gempa Low Frequency
  • 3 kali gempa Hybrid
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 3 kali gempa Hembusan

Rekomendasi :

  • Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana
  • Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk
  • Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
  • Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No.15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192
  • Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna GREEN, terbit tanggal 3 Juni 2018 pukul 20:39 WIB, terkait dengan adanya aktivitas hembusan asap berwarna putih dengan ketinggian kolom asap setinggi 3768 m di atas permukaan laut atau sekitar 800 m di atas puncak.

Gunungapi Dukono (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Dukono (1229 m dpl) mengalami erupsi menerus.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati.  Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat :

  • 1 kali gempa Letusan
  • 1 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 1 kali gempa Tektonik Lokal
  • Tremor Menerus terekam dengan amplitudo 0.5 – 5 mm (dominan 2 mm)

Rekomendasi :

Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 2 km.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 17 Desember 2018 pukul 11:27 WIT, terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1629 m di atas permukaan laut atau sekitar 400 m di atas puncak. Kolom abu bergerak ke arah Selatan.

Gunungapi Ibu (Halmahera):
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Gunungapi Ibu (1340 m dpl) mengalami erupsi secara menerus sejak tahun 2008.
Dari kemarin hingga pagi ini visual puncak gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup sedang hingga kencang ke arah timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat :

  • 86 kali gempa Letusan
  • 32 kali gempa Hembusan
  • 13 kali gempa Guguran
  • 3 kali gempa Harmonik

Rekomendasi :

Masyarakat di sekitar G. Ibu dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati di dalam radius 2 km, dan perluasan sektoral berjarak 3,5 km ke arah bukaan di bagian utara dari kawah aktif G. Ibu.

VONA :

VONA terakhir terkirim dengan kode warna ORANGE, terbit tanggal 11 Desember 2018 pukul 13:57 WIT terkait erupsi dengan ketinggian kolom abu sekitar 1825 m di atas permukaan laut atau sekitar 500 m di atas puncak.Kolom abu bergerak ke arah Selatan.

Gunungapi Gamalama (Maluku Utara):
Tingkat aktivitas Level II (Waspada). Gamalama (1715 m dpl) mengalami erupsi minor pada tanggal 4 Oktober 2018 pukul 11:52 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 250 meter diatas puncak atau 1965 m diatas permukaan laut.
Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah selatan dan timur.

Melalui rekaman seismograf tanggal 26 Desember 2018 tercatat :

  • 3 kali gempa Hembusan
  • 7 kali gempa Vulkanik Dalam
  • 7 kali gempa Tektonik Lokal
  • 7 kali gempa Tektonik Jauh

Rekomendasi :

Masyarakat di sekitar G.Gamalama dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas di dalam radius 1,5 km dari kawah puncak G.GamalamaPada musim hujan, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di G.Gamalama agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar.

VONA :

VONA terakhir terkirim kode warna YELLOW, terbit tanggal 10 Oktober 2018 pukul 19:26 WIT, terkait hembusan asap kawah menerus sekitar 1725 m di atas permukaan laut atau sekitar 10 m diatas puncak.

Untuk Gunungapi Status Normal : Agar masyarakat/wisatawan/pendaki tidak bermalam dan berkemah di kawah untuk menghindari potensi ancaman gas beracun.

2. Gerakan Tanah

Prakiraan wilayah potensi tejadi gerakan tanah di Indonesia pada bulan  Desember  2018  yang dibandingkan bulan  November 2018,   umumnya potensinya mengalami peningkatan dan semakin meluas  ke sebagian besar wilayah Indonesia  Sumatera , Jawa Bagian Barat dan Tengah, Sulawesi , Kalimantan, Maluku, NTB, NTT, dan Papua

Gerakan tanah terakhir terjadi :

  1. Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah
  2. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten
  3. Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat
  4. Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah

Penyebab :

Penyebab gerakan tanah diperkirakan diantaranya kemiringan lereng yang terjal, tanah lapukan yang tebal, gembur dan sarang serta mudah menyerap air, serta dipicu oleh curah hujan yang tinggi dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di sekitar daerah bencana.

Dampak :

Gerakan tanah / tanah longsor   menyebabkan talut rusak menimpa 1 (satu) rumah yang di bawahnya dan 1 (satu) orang luka-luka di Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah;  jalan terputus dan satu unit kendaraan bersama pengemudinya  (luka-luka) terjatuh ke bawah bagian Oprit di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten; akses jalan terputus di Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat ; 7 bangunan mengalami rusak, 5 bangunan terancam, dan menututp beberapa akses jalan desa di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah

Peta prakiraan potensi gerakan tanah dari Badan Geologi perlu diacu sebagai peringatan dini. Masyarakat dapat mengunduh melalui www.vsi.esdm.go.id.