Artikel LingkunganKonservasiLingkunganRevitalisasi Citarum

Sedimentasi dan “Sida-sida” Masalah Utama di Citarik Kareumbi

Sedimentasi dan “sida-sida” (racun pembasmi hama) menjadi masalah utama di hulu Sungai Citarik di Gunung Masigit – Kareumbi Cicalengka. Kedua masalah utama itu terjadi akibat kegiatan pertanian masyarakat di beberapa daerah dekat lahan konservasi Taman Buru Masigit Kareumbi (TBMK).

Demikian disampaikan Manajer Tim Pengelola TBMK, Kang Echo seusai acara Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) Model Pengelolaan Sungai Citarik di Basecamp KW TBMK, Kamis dan Jumat (15-16/3/2018). “Sedimentasi terjadi akibat pembukaan lahan-lahan untuk pertanian. Petani membuka lahan karena perlu sinar matahari tetapi tidak didukung dengan pola budidaya yang memperhatikan konservasi tanah,” tutur Echo menjelaskan.

20180316_093943.jpg

Pelataran rumput yang dulunya adalah kolam di blok Empang yang berbatasan dengan kawasan konservasi TB. Masigit Kareumbi. Kolam kering karena sedimentasi yang tinggi dari pertanian intensif di atasnya.

20180316_112553.jpg

Bendung Citarik, lumpur sedimentasi sudah nyaris rata dengan permukaan bendung. Bendung dibangun tahun 2009.

Kondisi tersebut sebenarnya merupakan gejala umum di hulu-hulu anak Sungai Citarum. Sungai Citarik adalah salah satu anak sungai yang bermuara di Sungai Citarum sehingga dapat dianggap sebagai cerminan masalah di anak-anak Sungai Citarum. “Ada beberapa solusi yang berkaitan dengan struktur, nonstruktur, dan kultur,” katanya.

Solusi yang berkaitan dengan struktur itu merupakan pembenahan fisik seperti pembuatan ecoriparian atau greenbelt serta wetland. “Harus ada bendung dan kolam, harus ada penanaman pohon pelindung, dan sebagainya yang fungsinya untuk mengurangi sedimentasi dan besaran limbah ke sungai,” katanya lagi.

Pembangunan struktur tersebut harus diikuti oleh dua hal yang selama ini diabaikan yaitu faktor-faktor nonstruktur dan kultur. Faktor-faktor nonstruktur itu adalah masalah regulasi, kelembagaan, SOP, pendanaan, dan sebagainya. Masalah nonstruktur ini bukan ketiadaan regulasi tetapi lebih banyak pada pelaksanaan dan penegakannya. Regulasi, SOP, pendanaan, dan lain-lain sebenarnya sudah ada, tetapi pada tataran pelaksanaan dan penegakannya masih sangat lemah. Akibatnya, faktor-faktor struktural yang sudah ada pun menjadi rusak.

Oleh karena itu, dari diskusi tersebut diperoleh simpulan, masalah kultur pun harus diperhatikan. Program “Citarum Harum” juga harus melakukan perbaikan budaya pertanian masyarakat agar para petani lebih peduli pada konservasi tanah. Misalnya, petani dialihkan untuk kembali menggunakan pupuk kompos.

Di Kareumbi, Tim Manajemen TBMK sedang mencoba melakukan perbaikan budaya pertanian yang lebih ramah lingkungan. Untuk melihat lebih jauh, peserta diskusi meninjau villa Bumi Kelor. Di homestay milik kang Dedi Mongol telah dibuat lahan pembuatan kompos. Disebutkan bahwa sudah 30 ton bahan baku yang terolah dengan komposisi antara lain kohe (kotoran hewan) sapi 18 ton, kohe  domba 14 ton, dan bahan lain. Disampaikan Pak Udin dari Direktorat Pencemaran Air bahwa unit Kompos Kelor bisa masuk ke dalam rencana aksi pengelolaan DAS, sebagai bagian dari upaya pengurangan kotoran hewan ternak yang dibuang ke sungai.

20180308_133458.jpg

Unit Kompos Kelor, unit ini didirikan bertujuan untuk antara lain, 1) mengurangi limbah yang dibuang ke sungai Citarik, 2) basis untuk penerapan pertanian organik sebagai upaya pengurangan residu pupuk kimia dan pestisida yang digunakan para petani lokal, 3) unit bisnis koperasi Wanadri

Sementara itu, untuk kepentingan pembangunan ekoriparian  diskusi fokus pada sedimentasi yang masuk ke sungai akibat bukaan lahan di Cigumentong. Peserta diskusi ditemani Polhut Kepala Resor Kareumbi Barat, Pak Nana Yutriana meninjau Kampung Cimulu. Titik ini dapat menjadi demplot percontohan program penataan ekoriparian, yaitu menata sempadan agar pertanian hortikultura yang dilakukan masyarakat (komoditi tomat, cabai, dan kol dengan menggunakan mulsa plastik) tidak menyebabkan laju sedimentasi bertambah tinggi.

20180315_140742

Pertanian intensif dengan menggunakan mulsa plastik sampai dibibir sungai Cimulu yang menyumbang sedimentasi cukup besar, dan sebagian tertampung di bendung bronjong Camping Ground A, basecamp TBMK

Dari Cimulu, peserta diskusi bergerak menuju Kp. Cigumentong. Di sana tim meninjau area Ranca Cigumentong dari titik rumah Kang Dardjat. Tim berdiskusi mengenai kemungkinan untuk penataan area ranca untuk menjadi percontohan area wetlands. Isu pencemaran di titik ini sama dengan Cimulu, yaitu sedimentasi, residu pupuk dan pestisida, serta sampah plastik kemasan.

20180315_153849.jpg

Diskusi di Saung Kang Dardjat (Kang Pekik, Kang Tulus, Kang Aries Yansen, Kang Dardjat, Kang Gegep, Kang Udin dan Polhut Kareumbi Barat, Pak Nana Yutriana

WhatsApp Image 2018-03-17 at 19.35.12.jpeg

Beberapa jenis kemasan pestisida yang ditemukan tim di Kp. Cimulu

Peninjauan berakhir di  lahan bekas perkebunan teh Sindoelang yang berjarak kira-kira 4km dari basecamp TBMK. Di sana peserta diskusi meninjau lahan seluas 270 hektare lebih tanpa tegakan dan dialiri oleh setidaknya empat anak sungai yang bermuara di sungai Citarik di sekitar Curug Sindulang. Area ini berpotensi menyumbang pencemaran dalam bentuk sedimentasi yang cukup tinggi dan tampaknya dapat diangkat menjadi isu besar di Citarik Hulu. Peserta diskusi sepakat untuk melihat isu tenurial di lahan ini lebih dalam.

Setelah melakukan peninjauan, diskusi berlanjut pada pukul 20.30, berlokasi di aula basecamp TBMK. Diskusi dibuka oleh Mas Item. Paparan pertama oleh Ersa AMW menyampaikan tentang rencana aksi dari tim AMW sampai Juli 2018 yang terdiri dari beberapa kegiatan, seperti kebutuhan training dan 1) Pendataan kualitas air di Sungai Citarik, 2) Penyediaan air bersih di wilayah Kecamatan Cimanggung, 3) Aplikasi sistem pengelolaan sampah rumah tangga menjadi sumber energi (Waste to Energy) di lingkungan Cimulu, Cigumentong, dan Leuwiliang, 4) Membangun sarana Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal di wilayah Kecamatan Cimanggung, dan 5) Merancang sistem mitigasi bencana banjir di aliran Sungai Citarik

WhatsApp Image 2018-03-17 at 19.35.22.jpeg

Rapat di Aula Basecamp TBMK. Dihadiri ±30 orang, Staf Ditjen Pencemaran LHK, Tim Citarum Wanadri AMW, Forum Selasaan Arumanis, Tim TBMK dan Tim dari Gabungan Pecinta Alam Bandung Timur

sebagian peserta rapat di depan kantin TBMK.jpg

Sebagian peserta, berfoto bersama sebelum bubar

Peserta:
Staf Ditjen PPKL LHK (Pak Tulus, pak Udin dan Tim)
Tim TBMK/ Forum Selasa’an Arumanis
Tim AMW Citarum – Wanadri
Gabungan Pecinta Alam Bandung Timur

Dan akang-teteh lain yang telah turut mendukung dan berpartisipasi.
Kredit foto: Misbahudin AMW 2097 Topan Rimba, ECHO