Artikel Lingkungan

Strategi Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatera Segera Disahkan

Harimau sumatera masuk dalam daftar satwa terancam punah. Strategi Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Harimau Sumatera tahun 2019-2028 diharapkan segera disahkan dalam waktu dekat sehingga bisa langsung diimplementasikan untuk pelestarian satwa bernama Latin Panthera tigris sumatrae. (Foto: Antara/ Nyoman Budhiana)*

Jambi – Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia mulai menyusun Strategi Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Harimau Sumatera tahun 2019-2028. SRAK ini diharapkan bisa segera disahkan dalam waktu dekat.

“Kami berharap segera disahkan agar bisa diimplementasikan untuk pelestarian harimau sumatera,” kata Kepala Subdit Pengawetan Jenis pada Ditjen KSDAE KLHK Puja Utama di Jambi, Jumat (3/5/2019), dikutip dari republika.co.id. Dikatakannya, SRAK Harimau Sumatera 2019-2028 merupakan perbaikan dari SRAK yang telah diimplementasikan pada 2007-2017.

Puja mengatakan, kegiatan penyusunan SRAK dilakukan untuk memverifikasi rencana yang disusun. Dengan begitu, dokumen rencana aksi konservasi harimau sumatera nanti tidak hanya ada di pemerintah pusat.

“Jadi, yang perlu diperhatikan itu harus memastikan antara kepentingan harimau dan kepentingan manusia sehingga program di daerah bisa disinkronkan dengan kegiatan konservasi harimau sumatera,” tutur Puja.

Dalam penyusunan kali ini, kata Puja, diskusi publik pertama telah digelar di Jambi. Sejumlah perwakilan pemerintah daerah di wilayah Sumatera bagian selatan, kalangan NGO (Non-Governmental Organization), akademisi, dan swasta turut hadir dalam diskusi tersebut. Pembahasan akan digelar dua kali lagi dan rencananya berlangsung di Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Sementara Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati KLHK Indra mengatakan, sekira 61,34 persen jalur jelajah harimau sumatera berada di luar kawasan konservasi.

Kondisi satwa bernama Latin Panthera tigris sumatrae saat ini semakin terancam. Penyebabnya antara lain perburuan, kehilangan habitat akibat perubahan konservasi kawasan hutan menjadi perkebunan, permukiman dan kegiatan pembangunan lainnya. Ancaman juga diakibatkan tingginya deforestasi, perdagangan ilegal dan konflik.

Disebutkan, dari perhitungan estimasi populasi harimau sumatera dengan permodelan Population Viability Analysis (PVA) diperkirakan tersisa 600 ekor di 23 lanskap di Sumatera. Harimau sumatera termasuk dalam satwa terancam punah (critically endangered) dan masuk daftar merah spesies terancam punah yang dikeluarkan lembaga konservasi dunia (IUCN). (iar)*