Artikel Penjelajahan

Turis Asing Dominasi Pendakian Gunung Rinjani

Sejumlah turis asing melapor kepada petugas di pintu masuk jalur pendakian di Senaru Kabupaten Lombok Utara Nusa Tenggara Barat, Minggu (16/6/2019). Selama tiga hari sejak dibuka kembali, pendakian Gunung Rinjani didominasi turis asing. (Foto: Antara/HO/BTNGR/Awaludin)*

Mataram – Sejak dibuka kembali pada Jumat (14/6/2019), pendakian Gunung Rinjani di Lombok Nusa Tenggara Barat didominasi turis asing dari sejumlah negara di Eropa. Mereka kebanyakan mengambil jalur pendakian via Senaru.

“Sudah ratusan turis asing yang mendaki lewat Senaru sejak dibukanya jalur pendakian pada Jumat (14/6/2019),” kata Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) Sudiyono di Mataram, Selasa (18/6/2019).

Dikutip dari Antara, seturut data yang ada di BTNGR, tercatat 141 turis asing yang mendaki via jalur Senaru Kabupaten Lombok Utara pada Sabtu-Minggu (15-16/6/2019). Sementara, wisatawan domestik hanya satu orang.

Lain halnya dengan jalur pendakian Sembalun di Kabupaten Lombok Timur. Jalur pendakian ini didominasi wisatawan domestik yakni sebanyak 41 pendaki dan empat orang pendaki asing dalam tiga hari sejak jalur pendakian kembali dibuka. Begitu juga di jalur pendakian Timbanuh Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur dengan 23 pendaki domestik. Sementara jalur pendakian Aik Berik di Kabupaten Lombok Tengah tercatat hanya dua pendaki asing yang melakukan pendakian.

Menurut Sudiyono, jumlah turis asing yang mendaki di gunung dengan ketinggian 3.726 mdpl itu belum begitu ramai. Jika mengacu tahun-tahun sebelumnya, puncak musim pendakian Gunung Rinjani biasa terjadi pada Agustus-September. Periode ini bertepatan dengan musim liburan di negara-negara Eropa.

“Kemungkinan jumlah pendaki akan meningkat dalam beberapa bulan ke depan,” ujarnya. Meskipun diperkirakan bakal ramai, masih kata Sudiyono, pihaknya tetap menerapkan kuota jumlah pendaki di setiap jalur pendakian. Jalur Senaru dan Sembalun masing-masing 150 orang per hari dan jalur Aik Berik dan Timbanuh masing-masing 100 orang per hari.

Agar kuota setiap jalur pendakian terisi pada puncak musim pendakian Gunung Rinjani, pihak BTNGR mengimbau para pelaku usaha jasa wisata pendakian untuk turut mempromosikan jalur yang belum ramai. “Biar tidak menumpuk hanya di Senaru saja,” ujar Sudiyono. (iar)*