Oleh: Ikhsan Saumantri (W-1168 Elang Kabut) – Wakil Ketua Dewan Pengurus XXVIII Wanadri
Prolog
Berakar banir yang kuat, berdiri tegak dan tinggi, berumur Panjang, daya tahan tinggi, dan juga menyediakan habitat bagi flora dan fauna di sekitarnya, itulah Eusideroxylon zwageri atau yang biasa dikenal sebagai kayu ulin, kayu besi atau Ironwood, sebuah pohon yang berasal dari hutan hujan tropis Indonesia terutama di Pulau Kalimantan dan Sumatera. Kayu Ulin juga memiliki nilai budaya yang tinggi terutama bagi masyarakat Suku Dayak, yang memiliki nilai spiritual dan juga dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan seperti bahan pembangunan rumah adat lamin. Nilai ekonomi yang tinggi membuat kayu ulin terus dieksploitasi tanpa memperhatikan kelestarian dan juga fenomena alih fungsi lahan untuk kepentingan ekonomi seperti pertambangan dan perkebunan membuat status konservasi kayu ulin berada dalam kategori rentan menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature). Fenomena ini juga terjadi untuk berbagai pohon kayu endemik Indonesia lainnya yang beberapa diantaranya dapat dikategorikan sebagai spesies kunci seperti Eboni / Kayu Hitam Sulawesi (Diospyros celebica), Meranti (genus: Shorea), Merbau (Intsia bijuga), Ramin (Gonystylus bancanus), dan berbagai spesies lainnya. Penurunan status konservasi spesies-spesies tersebut tidak lepas dari maraknya deforestasi di Indonesia, yang juga merupakan salah satu faktor utama dari perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia. Tantangan ekologis ini berdampak menyeluruh untuk semua spesies yang hidup di dalam ekosistem hutan hujan tropis Indonesia, bahkan termasuk manusianya itu sendiri.

Pohon Kayu Ulin
I. Indonesia dan Falsafah Bangsa di dalam Akar Wanadri
Keanekaragaman merupakan salah satu ciri khas dari Indonesia, di dalam negara ini kita dapat menemukan berbagai macam bentuk keanekaragaman seperti keanekaragaman hayati, budaya, bahasa, agama serta pemikiran. Sejatinya hutan hujan tropis merupakan ekosistem dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi dan Indonesia merupakan salah satu pusat hutan hujan tropis di dunia. Di samping itu Indonesia juga berada dalam wilayah Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) yang merupakan pusat keanekaragaman hayati laut di dunia. Keanekaragaman ini juga beriringan dengan kenanekaragaman budaya dan bahasa yang ada di Indonesia atau dalam hal ini dapat disebut sebagai kemajemukan. Sehingga keanekaragaman yang ada di Indonesia dapat terlihat baik secara fisik, dalam hal ini alam Indonesia itu sendiri, dan juga terasa di jiwanya, dalam hal ini masyarakat yang hidup di dalamnya.
Dalam sejarahnya, Indonesia merupakan titik temu budaya (cultural crossroads) yang strategis, yang terletak di antara Asia dan Australia serta Samudra Hindia dan Pasifik, yang menghasilkan 700 lebih bahasa sebagai negara dengan keanekaragaman bahasa kedua terbanyak di dunia. Budaya Indonesia itu sendiri yang merupakan perpaduan budaya tradisional etnis Austronesia dan Melanesia, pengaruh perdagangan Asia Timur dan Selatan, pengaruh agama Hindu-Buddha sebelum kedatangan agama Islam, pengaruh kolonialisme Eropa dan juga transisi masyarakat agraris dan maritim ke masyarakat industrial modern, semua hal ini dengan sangat jelas tercemin pada semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai representasi kemajemukan Indonesia. Memaknai “Bhinneka Tunggal Ika” artinya memaknai pula Wawasan Kebangsaan, yang di dalamnya terdapat empat konsensus dasar atau disebut juga sebagai empat pilar kebangsaan. Disamping Bhinneka Tunggal Ika empat pilar itu adalah Pancasila, Undang-undang Dasar (UUD) 1945 dan juga Negara Kesatuan Indonesia (NKRI).
Tanah air sebagai sebuah konsep yang merujuk kepada tanah tumpah darah dan tempat lahirnya identitas bangsa dan juga budayanya. Konsep tanah air Indonesia sendiri memiliki sebuah keunikan, karena pada umumnya berbagai negara di dunia menggunakan istilah seperti homeland, fatherland, dan motherland, atau konsep sejenis sesuai dengan bahasanya yang di dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan setara dengan istilah “Ibu Pertiwi”. Keunikan tanah air terletak dalam “air” itu sendiri yang dapat diartikan bahwa air baik itu lautan maupun air yang berada di dalam daratan sama pentingnya dengan “tanah”, terutama dalam kelahiran Bangsa Indonesia itu sendiri. Pandangan mengenai tanah air ini sejalan dengan konsep Wawasan Nusantara, yang pertama kali dicetuskan oleh Profesor Mochtar Kusumaatmadja, Indonesia sebagai negara kepulauan memandang daratan, lautan, udara dan ruang diatasnya sebagai satu kesatuan, yang juga sejalan dengan UUD 1945 pasal 25A mengenai wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena itu istilah nusa bangsa dipakai dalam merujuk Tanah air dan Bangsa Indonesia, nusa yang secara harfiah berarti pulau dipakai sebagai representasi wilayah tempat berdirinya bangsa Indonesia.
Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara merupakan perpaduan pemikiran antara kelompok agamis dan nasionalis, yang memadukan berbagai nilai luhur budaya dan pengalaman bangsa Indonesia itu sendiri dan tidak serta merta mengadopsi ideologi asing. Sehingga Pancasila itu merupakan representasi dari keanekaragaman Indonesia itu sendiri, yang di dalamnya dengan sangat jelas berusaha memadukan keanekaragaman pemikiran dari para Bapak Bangsa Indonesia (The Founding Fathers) diantaranya adalah Soekarno, Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, dan lainnya. Masyarakat Indonesia yang mengamalkan Pancasila dengan sepenuh jiwa raganya dapat kita sebut sebagai Patriot Pancasilais, atau seseorang yang memiliki rasa cinta tanah air yang mendalam. Rasa cinta tanah air sebagai bentuk nasionalisme di dalam Bangsa Indonesia memiliki nilai yang lebih luas, karena nasionalisme bagi Bangsa Indonesia dapat dikategorikan sebagai nasionalisme kewarganegaraan (civic nationalism) dan bukan sebagai nasionalisme etnis (ethnic nationalisme). Karena dari itu, nasionalisme di Indonesia akan selalu berdasar pada kemajemukan bangsanya.
Wanadri sendiri selalu menjadikan dasar-dasar falsafah Indonesia sebagai landasannya, hal ini dapat terlihat di Anggaran Dasar Wanadri yang merupakan akar berdirinya Wanadri sebagai sebuah organisasi, baik itu di dalam Mukadimah maupun pasal-pasal yang tertera di dalamnya. Mukadimah Wanadri memaknai tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila sebagai dasar dari Wanadri itu sendiri, yang juga melihat tanah air sesuai dengan sudut pandang negara kepulauan. Tujuan Wanadri sendiri tidak akan terlepas dari tujuan Bangsa Indonesia, karena Wanadri memiliki komitmen untuk turut serta membentuk “Character and Nation Building” dari Bangsa Indonesia seperti yang tercantum di dalam Mukadimah, dan juga bertujuan untuk mendidik anggotanya menjadi Pancasilais sejati sesuai dengan Pasal 6 di dalam Anggaran Dasar. Di pasal tersebut, Wanadri juga menjungjung keanekaragaman atau kemajemukan sesuai dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.
Jika ditarik lebih ke belakang, “Character and Nation Building” Indonesia lahir dari berbagai gagasan para Bapak Bangsa Indonesia atau nilai-nilai luhur bangsa ini, diantaranya adalah konsep pendidikan karakter dari Ki Hadjar Dewanatara atau pembangunan jiwa bangsa dari Soekarno yang dapat diartikan pula sebagai pendidikan karakter. “Character and Nation Building” lebih sering ditulis sebagai “Nation and Character Building” dengan menyebutkan Nation (Bangsa)terlebih dahulu, seperti yang seringkali diucapkan oleh Soekarno, berbeda dengan apa yang ditulis di dalam Mukadimah Wanadri. Hal ini dapat diartikan bahwa Wanadri mengedepankan pembangunan karakter terlebih dahulu sebelum terlibat dalam pembangunan bangsa, walaupun pada hakikatnya Character Building dan Nation Building merupakan satu kesatuan di dalam konsep ini. “Character and Nation Building”, yang dengan sadar dimasukan ke dalam Mukadimah Anggaran Dasar Wanadri oleh para perumusnya, juga bertujuan untuk membentuk anggota Wanadri yang dapat memberikan dharma baktinya pada tanah air Indonesia sebagai bagian dalam pembangunan Bangsa Indonesia.
“Character and Nation Building” akan selalu tercermin dalam setiap kegiatan Wanadri sebagai sebuah organisasi, salah satu bentuknya adalah dengan pengamalan Janji dan Hakikat Wanadri, yang dengan sangat jelas memiliki muatan “Character and Nation Building”. Janji dan Hakikat Wanadri dengan sangat jelas menuntun anggota Wanadri untuk pengamalan nilai-nilai Pancasila baik itu ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan, dan juga nilai-nilai luhur bangsa yang lainnya. Dalam keseharian Wanadri sebagai sebuah perkumpulan, contoh yang menjadi penerapan “Character and Nation Building” adalah dengan adanya lagu “Pemuda Pengembara”, gubahan Abah Iwan Abdulrachman (W-0041 Singawalang), yang secara gamblang mengajak para pemuda pengembara, dalam hal ini dapat diartikan sebagai anggota Wanadri itu sendiri untuk mengembara demi tanah air dan menyumbangkan dharma baktinya.
Berbagai nilai luhur Bangsa Indonesia telah mengakar di dalam diri Wanadri sebagai organisasi pendidikan karakter yang menggunakan alam sebagai medium pembelajarannya, penjelajahan gunung hutan sebagai dasar pembelajaran untuk pendidikan karakter dengan mengingat keanekaragaman alam Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan. Empat pilar kegiatan Wanadri yang tertera di dalam Anggaran Rumah Tangga Wanadri, yaitu Pendidikan, Penjelajahan, Kemanusiaan dan Lingkungan, merupakan bentuk sumbangsih dharma bakti Wanadri bagi Indonesia. Wanadri yang lahir di Tanah Air Indonesia tidak akan pernah berhenti untuk mendidik anggotanya, yang pada akhirnya diharapkan untuk menyumbangkan dharma baktinya bagi Bangsa Indonesia selama Negara Kesatuan Republik Indonesia ini tetap berdiri.
II. Pohon Wanadri di dalam Hutan Gagasan Indonesia
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis sebagai representasi gagasan yang ada di Indonesia, di dalam hutan ini terdapat banyak tumbuhan dari berbagai macam spesies flora yang merupakan representasi berbagai macam gagasan, ide, ideologi dan konsep, kita sebut hal ini sebagai Hutan Gagasan Indonesia. Hutan ini memiliki keanekaragaman yang sangat tinggi, sesuai dengan keanekaragaman masyarakat Indonesia dan gagasan yang hidup didalamnya. Setiap organisasi, perkumpulan dan lembaga akan menjelma menjadi sebuah tumbuhan, karena dalam membentuk organisasi atau lembaga, kita memerlukan gagasan dan konsep sebagai dasar berpikir. Gagasan yang hidup di dalam tanah air Indonesia akan menjelma menjadi tumbuhan yang hidup di atas tanah hutan gagasan Indonesia dan mengkonsumsi airnya sebagai sumber kehidupan. Sehingga gagasan tersebut perlu memaknai Indonesia seutuhnya jika ingin terus bertahan dan hidup di dalam hutan gagasan Indonesia
.
Di sisi lain, fauna merupakan representasi dari berbagai bentuk masyarakat yang ada di Indonesia, baik itu merupakan suku bangsa, asal wilayah, kelas ekonomi, kelas sosial, dan lain sebagainya. Hutan ini tidak merepresentasikan individu manusia sebagai sebuah individu flora dan fauna yang hidup di dalamnya, tetapi dapat menjelma di berbagai individu flora dan fauna secara bersamaan. Hal ini dikarenakan setiap individu dapat memiliki berbagai identitas diri seperti misalnya suku bangsa, agama yang dianut, organisasi yang diikuti, pandangan politik, dan lain sebagainya. Setiap Individu dapat menjelma menjadi binatang yang merepresentasikan dirinya sebagai bagian dari masyarakat atau tumbuhan yang merepresentasikan gagasan yang dipegangnya.
Di dalam hutan ini, sebuah organisasi dan lembaga yang kuat dapat menjelma menjadi sebuah pohon kayu besar yang berakar kuat seperti meranti, ulin atau rasamala. Organisasi sendiri pada dasarnya merupakan sebuah kelompok masyarakat yang memiliki tujuan bersama dan bekerja sama secara terstruktur, organisasi yang kuat dapat direpresentasikan sebagai sebuah pohon kayu. Pohon di hutan ini dapat memiliki berbagai macam bentuk akar, batang dan daun, sesuai dengan bagaimana gagasan itu mengakar di masyarakat, pengaruh dan citra. Sebuah gagasan organisasi dapat menumbuhkan berbagai organisasi lainnya lewat berbagai inspirasi, di dalam hutan ini dapat diwujudkan dalam tumbuhnya pohon-pohon kecil sejenis yang berawal dari sebuah pohon yang besar. Di sisi lain, di hutan ini pun terdapat berbagai pohon yang dihinggapi oleh parasit, layaknya benalu yang menggerogoti inangnya. Berbagai macam bentuk simbiosis terjadi di hutan ini, mutualisme, komensalisme dan parasitisme, seperti halnya yang terjadi dalam realita bangsa Indonesia.
Pada kenyataannya masyarakat sebuah negara tidak akan pernah mencapai sebuah kesetaraan yang sempurna, terbentuknya kelas penguasa (ruling class) merupakan sebuah keniscayaan. Kekuasaan dapat terbentuk dari berbagai faktor baik itu ekonomi, sosial, pengetahuan, pengaruh, legitimasi dan lain sebagainya, dan seringkali relasi kuasa akan membentuk sebuah hubungan yang opresif dan eksploitatif. Kita sering melihat para kelas penguasa, baik itu apparat, pengusaha, pejabat dan lainnya, berperilaku layaknya seekor predator puncak yang siap memangsa. Hutan ini tidak menjamin hewan mangsa dapat bertahan jika hanya berdiri sendiri, gotong royong dapat menjadi kunci untuk bertahan hidup. Tetapi hal itu tidak dapat menjadi jaminan, terutama jika kelas penguasa yang tamak berhasil memanfaatkan relasi kuasanya untuk memisahkan kawanan hewan mangsa.
Hutan ini merupakan rimba belantara tanpa belas kasih, terkadang seekor predator pun dapat dimangsa, para pemakan bangkai terus mengorek sisa bangkai dan di sisi lain serangga kecil dapat terus bertahan hidup dengan menyatukan kekuatan. Kondisi hutan ini akan semakin tidak menentu terutama di masa sumber daya yang semakin menipis, tetapi selama masih banyaknya gagasan yang menjelma menjadi pohon yang menghasilkan oksigen pengetahuan untuk dihisap oleh para hewan yang hidup didalamnya, hutan ini tidak akan pernah mati.
Sekarang bayangkan Wanadri sebagai sebuah pohon kayu berakar tunggang layaknya pohon kayu ulin, dan kita sebut pohon ini sebagai pohon Wanadri. Pohon Wanadri sendiri tidak terlalu tinggi dan besar, dapat terbilang sebagai pohon yang berukuran sedang, dan masih banyak pohon lain yang lebih besar yang bahkan dahan-dahannya dapat menutupi sebagian dari hutan ini. Walaupun tidak terlalu besar, pohon Wanadri itu berbatang kuat layaknya kayu besi, akarnya adalah akar banir yang menonjol ke permukaan tanah dan juga merasuk dalam ke tanah. Akar banir sendiri merupakan akar yang berbentuk pipih untuk menopang batang pohon tinggi supaya kuat, kokoh dan tidak mudah tumbang saat diterjang oleh badai.
Pohon Wanadri sendiri tidak berada di pusat hutan dan tidak pula berada di tempat yang menonjol seperti di puncakan, tetapi pohon ini berada di lembah yang dekat dengan mata air yang murni. Pohon Wanadri juga menumbuhan banyak pohon kecil yang memiliki karakteristik yang sejenis, yaitu pohon-pohon yang tidak terlalu besar tetapi dapat bertahan menghadapi segala cuaca. Pohon Wanadri juga tidak ditumbuhi parasit, simbiosisnya seringkali saling menguntungkan untuk berbagai yang hidup di hutan ini, sebuah simbiosis mutualisme yang selalu terjaga.
Di dalam hutan gagasan Indonesia, tumbuhan sebagai representasi gagasan dan organisasi memerlukan akar yang kuat jika ingin bertahan di hutan ini. Sebuah logika sederhana, pada umumnya tumbuhan tidak berakar itu berumur pendek dikarenakan kekurangan kemampuan untuk mengangkut nutrisi, sedangkan pohon Wanadri adalah pohon berakar. Pohon Wanadri memiliki akar kuat yang berlandaskan pada falsafah Bangsa Indonesia itu sendiri sebagai landasan filosofis Wanadri, yang dalam hal ini dapat juga disebut sebagai akar filosofis. Akar ini dimaknai oleh angkatan Pendiri, Pelopor dan beberapa angkatan awal Wanadri sebagai akar dari gagasan pembentukan Wanadri sebagai sebuah organisasi yang pada akhirnya diturunkan menjadi landasan atau akar konstitutional Wanadri yaitu Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Wanadri. Landasan-landasan ini pun akan kembali diturunkan menjadi Rencana Strategis (Renstra) Wanadri, yang dapat diterjemahkan menjadi landasan operasional Wanadri sebagai sebuah organisasi dalam sebuah periode dan akan diperbaharui secara berkala.
Akar filosofis Wanadri itu pada perkembangannya terbentuk menjadi nilai-nilai ke-Wanadrian terutama yang tertuang di dalam Janji dan Hakikat Wanadri, yang pada akhirnnya kembali berkembang menjadi nilai-nilai yang lebih rinci, baik itu merupakan nilai-nilai yang tertulis maupun nilai-nilai lisan dan keseharian. Akar konstitutional Wanadri itu juga akan berkembang menjadi aturan-aturan turunan AD-ART seperti Aturan Tata Tertib Wanadri. Di dalam Hutan Gagasan Indonesia, sebuah akar yang kuat adalah akar yang mampu menyerap air dan nutrisi dari tanah air Indonesia itu sendiri dan di sisi lain akar tersebut akan memperkuat struktur tanah sehingga tanah akan menjadi lebih stabil dan tidak terdegradasi, di dalam pohon Wanadri nutrisi itu diolah menjadi nilai-nilai ke-Wanadrian.
Diatas akar pohon Wanadri yang kuat, berdiri sebuah batang pohon yang berisikan sel dan pembuluh yang berfungsi sebagai jalur transportasi air, nutrisi dan mineral dari akar dan juga hasil fotosintesis dari daun kepada komponen-komponen pohon lainnya. Batang pohon Wanadri itu adalah komponen-komponen organisasi Wanadri, di dalam batang pohon ini terdapat sel dan pembuluh yang berfungsi sebagai jalur transportasi tersebut. Pembuluh utama di dalam batang pohon Wanadri adalah Dewan Pengurus Wanadri yang bertugas sebagai penggerak utama organisasi Wanadri. Seiring dengan berjalannya waktu, batang pohon ini semakin membesar, Dewan Pengurus sebagai pembuluh utama di batang ini sudah tidak lagi sendiri, terdapat juga pembuluh lainnya, yaitu Dewan Normatif dan Lembaga-lembaga Otonom.
Dewan Normatif dibentuk untuk mendampingi dan mengawasi Dewan Pengurus, kedua lembaga ini selain menopang jalannya organisasi juga berfungsi untuk memastikan nutrisi dari akar filosofis Wanadri dapat terus dimaknai dan diterapkan dalam kesehariannya. Kedua lembaga ini dikategorikan di dalam zona volunteer Wanadri, dengan masih menjaga semangat kesukarelaan. Di sisi lain, terdapat pula lembaga-lembaga otonom yang berada di dalam zona professional Wanadri, yaitu Yayasan Wanadri dan Koperasi Wanadri yang hadir sebagai pembuluh batang untuk membantu meringankan tugas dari pembuluh utama. Keempat lembaga yang telah disebutkan merupakan empat pembuluh besar dalam batang pohon Wanadri, sebagai komponen ekosistem organisasi Wanadri yang beroperasi menggunakan Renstra sebagai acuan kerjanya. Di dalam batang ini juga terdapat banyak sel dan pembuluh kecil yang merupakan bagian-bagian dari empat pembuluh besar, yang pada akhirnya menciptakan sebuah dinamika yang cukup kompleks dalam menopang pohon Wanadri ini.

Diagram Ekosistem Wanadri
Daun adalah organ kecil yang tumbuh menempel pada dahan dan ranting, di dalam pohon Wanadri daun-daun ini adalah anggota Wanadri itu sendiri dan dahan tempat menempelnya daun-daun tersebut adalah angkatan asal anggota tersebut. Daun-daun ini menyerap energi dari sinar-matahari dan menyerap karbon dioksida yang akan diolah melalui proses fotosintesis, yang pada akhirnya menghasilkan oksigen segar. Proses tersebut merupakan representasi dari inspirasi yang didapatkan oleh anggota Wanadri untuk diolah dalam proses berpikir yang pada akhirnya akan menjadi gagasan bagi Wanadri. Pada kenyataannya, proses fotosintesis daun muda itu lebih efektif dan efisien dalam mengolah karbon dioksida dibandingkan daun yang lebih berumur, hal ini dapat diibaratkan bahwa anggota-anggota termuda di Wanadri masih memiliki energi yang lebih besar untuk menghasilkan gagasan-gagasan besar untuk Wanadri.
Daun-daun ini tidak tumbuh dengan sendirinya, mereka lahir dari sebuah proses panjang yang dilakukan di dalam diri Wanadri, melalui Pendidikan Dasar Wanadri (PDW) dan program masa anggota muda Wanadri, daun-daun muda mendapatkan nutrisi dari akar Wanadri yang disalurkan melalui pembuluh di batang pohon Wanadri. Di samping itu, Wanadri juga memiliki daun-daun yang tidak tumbuh secara alami dari dahan pohon Wanadri, adapula daun yang tumbuh melalui dahan yang ditempelkan melalui proses okulasi, proses ini dilakukan untuk menempelkan tunas unggul dari luar pohon Wanadri, daun itu adalah anggota luar biasa Wanadri. Daun yang sudah gugur pun tidak akan menjadi sebuah kesia-sian bagi Pohon Wanadri, karena melalui proses dekomposisi daun-daun ini akan menjadi nutrisi bagi tanah tempat berdirinya pohon Wanadri, cerita dan kisah dari para pendahulu Wanadri tetap akan berada di benak pohon Wanadri dan terus disampaikan oleh daun-daun lainnya.
Empat pilar kegiatan Wanadri dapat diibaratkan menjadi bagaimana pohon Wanadri mengambil bentuk fisiknya. Melalui pilar pendidikan, pohon Wanadri dapat terus menumbuhkan daun-daun segar yang berkualitas, pilar ini membuat dahan dan ranting pohon ini semakin banyak dan besar. Pilar penjelajahan membuat akar-akar Wanadri terus melebar, karena melalui pilar ini Wanadri semakin dikenal di Indonesia, sehingga banyak pohon lain yang tumbuh karena mendapat inspirasi yang syiar-syiar yang dilakukan oleh pilar penjelajahan dan bahkan mengadopsi beberapa nilai-nilai ke-Wanadrian di organisasi mereka sendiri. Pilar kemanusiaan membuat pohon Wanadri menjadi semakin dekat dengan berbagai individu spesies yang hidup di dalam hutan gagasan Indonesia, banyaknya organisasi dan lembaga lain yang percaya kepada Wanadri karena kiprahnya di pilar kemanusiaan dan akhirnya terbangunlah sebuah simbiosis mutualisme. Yang terakhir adalah pilar lingkungan, pilar ini berpikir jauh kedepan, menggunakan landasan ilmiah untuk mengelola tapak lingkungan, pilar ini terus berkembang dengan membuat banyak cabang usaha yang semakin memperbesar batang pohon Wanadri.
Empat pilar tersebut menjadi tempat bagi Wanadri untuk mengimplementasikan gagasan-gagasannya sebagai bentuk dharma bakti bagi bangsa dan tanah air Indonesia sehingga pohon Wanadri dapat terus hidup di dalam hutan gagasan Indonesia. Melalui empat pilar ini pohon Wanadri dapat menghasilkan buah yang manis dan bunga yang harum sebagai hasil dari jerih payahnya, ini adalah perlambangan citra Wanadri di mata masyarakat.
III. Menghadapi Badai Perubahan
Tidak ada yang statis di dalam alam semesta, bumi akan terus berputar, manusia akan terus berevolusi, dan begitu pula dengan pemikiran manusia yang terus berkembang dengan segala gagasan yang dibawanya. Perubahan pasti akan terjadi dan hanya waktu yang dapat menjawabnya, yang berdiri tegak adalah yang mampu menghadapi dan menjawab perubahan ini. Perubahan dapat terjadi melalui proses yang gradual atau melalui proses yang terjadi dengan secepat kilat tanpa sebuah ancang-ancang. Setiap pohon yang hidup di dalam hutan gagasan Indonesia sudah terbiasa dengan tiupan kecil dari angin perubahan, ada yang menghadapinya dan ada yang mengabaikannya. Hanya saja tiupan-tiupan angin tersebut dapat membesar menjadi sebuah angin besar atau bahkan sebuah badai perubahan yang dapat menghancurkan hutan gagasan Indonesia.
Di dalam hutan ini, badai perubahan bukan hanya berbentuk sebagai sebuah angin besar yang dapat merobohkan sebuah pohon, tetapi juga dapat berbentuk dalam sebuah degradasi kualitas tanah dan air di dalam hutan ini, dapat berbentuk sebuah awan besar yang menutupi sinar matahari selama bertahun-tahun, dan dapat pula berbentuk sebuah evolusi yang merubah bentuk daun-daun yang tumbuh di pohon ini. Badai perubahan ini dapat datang dari luar hutan ini, datang dari hutan gagasan negara lain, atau datang dari dalam hutan gagasan Indonesia itu sendiri.
Sebuah badai perubahan yang berasal dari pusaran angin layaknya siklon tropis itu merupakan perubahan yang berdampak luas dan menjangkiti hutan gagasan global termasuk hutan gagasan Indonesia. Banyaknya gagasan-gagasan asing yang masuk ke dalam benak Bangsa Indonesia belum tentu merupakan gagasan yang sesusai bagi bangsa ini jika hanya diterima dengan mentah-mentah. Badai perubahan berupa degradasi kualitas tanah dan air itu berasal dari dalam hutan gagasan Indonesia itu sendiri, di saat falsafah bangsa sudah mulai ditinggalkan dan di saat bangsa tidak terbangun melalui pendidikan karakter maka nutrisi berupa nilai luhur bangsa tidak akan terserap secara baik ke dalam pohon-pohon di dalam hutan ini. Untuk menghadapi dua jenis badai perubahan ini diperlukan akar kuat yang adaptif untuk menghadapi badai dan menahan erosi dari degradasi tanah, dikarenakan dua jenis badai ini merupakan ujian bagi penerapan falsafah bangsa itu sendiri.
Strategi adaptasi akar Wanadri baik itu landasan filosofis maupun konstitutional untuk menghadapi dua jenis badai ini tidak perlu serta merta membuat Wanadri menjadi organisasi yang kaku. Dalam sejarah perperangan, desain benteng pertahanan pun mengalami evolusi, dari bentuk garis lurus menggunakan kayu hingga berevolusi menjadi bastion fort dengan bentuk geometris yang kompleks. Jika kita menganggap Wanadri sebagai salah satu benteng pertahanan nilai-nilai bangsa, maka adaptasi untuk merubah bentuk benteng ini diperlukan, adaptasi berupa implementasi riil dari nilai-nilai ke-Wanadrian tanpa mengubah esensinya. Anggaran rumah tangga Wanadri sebagai landasan konstitutional pun bersifat adaptif, pasal-pasal di dalamnya dapat diubah sesuai dengan kebutuhan Wanadri tanpa melupakan nilai-nilai dasar Wanadri.
Selain itu Wanadri perlu terus melakukan syiar nilai-nilai ke-Wanadrian, Wanadri perlu memikirkan bagaimana citra yang ingin dibentuk, posisi, metoda dan strategi untuk melakukan syiar-syiar tersebut. Seringkali topik mengenai nilai-nilai bangsa di mata masyarakat umum dianggap sebagai sebuah hal yang membosankan atau bahkan dianggap sebagai sebuah hal yang kuno, disinilah diperlukan metoda yang tepat dalam melakukan syiar dengan implementasi yang sesuai dengan konteks zaman modern. Wanadri sendiri baik secara langsung maupun tidak langsung selalu melakukan syiarnya melalui empat pilar kegiatannya, tentunya dengan implementasi yang adaptif.
Badai yang berupa sebuah awan besar yang menutupi sinar matahari adalah representasi dari kondisi sosial, ekonomi dan politik yang tidak menentu. Di saat awan menutupi sinar matahari di hutan ini, proses fotosintesis gagasan-gagasan segar dapat terganggu, banyak daun-daun yang berada di pohon Wanadri akan berfokus pada kehidupan pribadinya. Tidak bisa dipungkiri juga bahwa Wanadri sebagai wadah aktualisasi bagi anggotanya akan sangat dipengaruhi oleh kondisi negara. Di saat terjadinya kelesuan ekonomi, baik masyarakat, instansi negara dan badan usaha akan terfokus pada proses pemulihan ekonomi.
Untuk menghadapi badai ini diperlukan batang pohon yang mampu membuat strategi dan jalan keluar di tengah-tengah kesulitan ini. Optimalisasi lembaga otonom sebagai pembuluh batang profesional Wanadri merupakan salah satu bentuk adaptasi dan bahkan tidak menutup kemungkinan untuk membentuk lembaga otonom baru jika dirasa perlu, tentunya itu semua dengan kerjasama dan arahan dari Dewan Pengurus, Dewan Normatif dan Renstra. Pada kenyataanya, kompleksitas dalam menjalankan lembaga otonom seringkali tidak berjalan beriringan dengan personal benefit yang sesuai, sehingga para motor penggeraknya belum mampu menggerakan lembaga-lambaga ini dengan nafas yang panjang. Terkadang semangat profesionalitas dan kesukarelaan bercampur aduk di dalam lembaga-lembaga otonom, padahal lembaga tersebut telah disepakati sebagai sebuah lembaga dengan asas profesionalitas. Adaptasi dan perbaikan secara terus menerus perlu dilakukan untuk menguatkan lembaga-lembaga untuk menguatkan batang pohon yang menopang Wanadri sebagai sebuah organisasi.
Selain itu adaptasi menghadapi badai ini juga dapat dilakukan dengan merangkul dan bekerjasama dengan daun-daun Wanadri yang sudah mekar dengan sendirinya di hutan gagasan Indonesia. Dengan melihat dari dalam anggota Wanadri itu sendiri yang tersebar di berbagai pelosok dan juga sukses bergiat di berbagai badan usaha, organisasi dan lembaga, mereka adalah anggota yang telah menjadi daun-daun yang mekar. Selama ini upaya turut serta membantu organisasi Wanadri oleh anggota-anggota Wanadri yang berada di luar struktur selalu dilakukan. Wanadri sebagai sebuah organisasi dan juga perkumpulan, tidak luput dari asas kekeluargaan dan gotong royong untuk terus menjalankan roda organisasi. Usaha-usaha ini seringkali dilakukan secara informal, organisasi Wanadri sendiri selalu mengapresiasi segala bentuk usaha ini sebagai bentuk dharma bakti anggota tersebut bagi Wanadri, nusa dan bangsa.
Usaha-usaha formal untuk menempuh jalan ini pun perlu dilakukan, strategi dan pemetaan potensi dari anggota dan jaringan Wanadri, yang pada akhirnya menjadi jalur penyaluran keran-keran benefit bagi Wanadri. Gagasan besar mengenai membentuk sebuah kelembagaan yang berfokus dalam usaha ini sudah tercetus beberapa kali, salah satunya adalah gagasan mengenai pembentukan Wanadri Strategic Office (WSO), gagasan ini diharapkan dapat memberikan landasan legal dan formal terhadap bentuk usaha yang saat ini lebih sering dilakukan secara informal. Selain itu konsepsi gagasan WSO juga menyentuh beberapa hal lain seperti branding, pemetaan jaringan, dan potensi pendanaan. Hanya saja gagasan ini masih belum terlaksana dan perlu dikaji lebih dalam, dan juga disiapkan motor penggeraknya yang mampu bernafas panjang sehingga dan bukan menjadi lembaga yang pada akhirnya tenggelam. Hal ini mengingat bahwa Wanadri seringkali membentuk lembaga yang memiliki gagasan yang besar tetapi harus terhenti karena satu dan lain hal.
Badai terakhir adalah evolusi yang merubah bentuk daun-daun yang tumbuh di pohon ini, evolusi ini terjadi karena perubahan iklim global dan juga perubahan dari dalam hutan gagasan Indonesia itu sendiri. Daun-daun muda yang tumbuh di pohon Wanadri sekarang sudah berbeda dengan daun yang tumbuh sebelumnya, perbedaan ini adalah sebuah keniscayaan jika kita melihat konteks perubahan dan perkembangan zaman. Daun-daun muda yang tumbuh saat ini merupakan digital native yang terlahir era banjir informasi (information overload). Generasi muda saat ini mengolah informasi dengan cara yang berbeda dengan generasi sebelumnya, mereka mengetahui banyak hal semenjak dini hanya saja kedalaman pemahaman mereka dalam satu topik itu seringkali terbatas dengan minimnya pendalaman. Generasi ini memiliki sudut pandang yang lebih global, kolaboratif, kritis, pragmatis, praktikal, transparan dan cenderung tidak hierarkis.
Nilai-nilai dasar yang dimiliki oleh daun-daun muda ini tentunya memiliki keunikan dibandingkan generasi sebelumnya, sehingga pemaknaan mengenai nilai-nilai bangsa pun akan berbeda. Dengan pandangan mereka yang lebih global terkadang semangat nasionalisme dianggap sebagai sebuah kesemuan belaka. Kondisi sosio-ekonomi yang tidak menentu dan janji-janji manis politik yang hanya jadi sekedar janji, membuat generasi ini menjadi lebih pragmatis. Kondisi saat ini pun membuat pemuda terdidik dengan ijazah universitas kesulitan mendapatkan pekerjaan, selain karena kondisi ekonomi hal ini juga dikarenakan dengan adanya sebuah fenomena bernama inflasi gelar akademik. Tujuan mulia diperbanyaknya universitas untuk mendidik bangsa seringkali tidak diiringi dengan lapangan pekerjaan, sehingga menimbulkan persaingan di dunia kerja saat ini jauh lebih ketat dan terjadilah fenomena tersebut. Masih banyak faktor-faktor perubahan lainnya yang menyebabkan perubahan karakteristik generasi, seperti diantaranya adalah meningkatnya tingkat urbanisasi, pergeseran budaya, pola asuh generasi, gaya hidup, dan lainnya.
Secara langsung badai perubahan ini juga telah berdampak kepada Wanadri sebagai sebuah organisasi, hal ini terlihat terdapatnya pergeseran demografi anggota dalam beberapa angkatan terakhir. Ada kecenderungan bahwa Wanadri semakin menarik bagi pemuda dari luar core area Wanadri (wilayah Bandung Raya, Jawa Barat, dan Jabodetabek). Selain itu pergeseran background pendidikan juga cukup terlihat, terutama dengan menurunnya mahasiswa yang mendaftar ke dalam PDW terutama dari kampus-kampus yang dianggap sebagai “basis tradisional” Wanadri. Untuk pergeseran mengenai background sosio-ekonomi itu dapat diasumsikan pula terjadi sebuah pergeseran, hanya saja untuk hal ini masih hanya dapat diraba tanpa ada data yang pasti, berbeda dengan data mengenai asal daerah dan pendidikan yang datanya telah dikompilasi dan dianalisa oleh Tim Rekrutmen Wanadri.
Usaha adaptasi dalam menghadapi badai ini sebenarnya telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, dengan dibentuknya Tim Rekrutmen Wanadri semenjak tahun 2022 yang dilanjutkan di tahun 2025-2026. Konsepsi dasar pembentukan Tim Rekrutmen Wanadri adalah untuk membentuk profil anggota yang sesuai kebutuhan dengan mengacu kepada arahan Dewan Pengurus dan Renstra. Melalui beberapa tahapan dimulai dari Penjaringan, PDW dan Pembinaan masa anggota muda (Mamud), proses rekrutmen Wanadri diharapkan dapat mencetak anggota baru yang berkualitas. Proses yang dilakukan oleh Tim Rekrutmen Wanadri telah dan akan terus beradaptasi dengan kondisi aktual zaman, termasuk diantaranya adalah adaptasi terhadap karakter generasi muda. Hasil dari proses ini belum dapat dilihat dalam 1-2 tahun setelah mereka menjadi Anggota Biasa Wanadri yang memiliki Nomor Registrasi Pokok (NRP), tetapi baru terlihat jelas dalam beberapa dekade kedepan. Daun-daun muda yang dicetak di dalam proses ini diharapkan mampu menopang pohon Wanadri dengan mengambil tongkat estafet organisasi dan juga menjadi pribadi yang mampu menyumbangkan dharma baktinya bagi bangsa Indonesia.
Badai-badai ini perlu dihadapi dengan nafas yang panjang, dibutuhkan para pelari jarak jauh yang mampu mengawal gagasan-gagasan besar untuk memastikan bahwa Wanadri mampu berdiri tegak dan terus mengakar kedepannya. Renstra Wanadri sendiri dibuat secara berkala untuk menjawab tantangan zaman, walaupun terkadang gagasan besar ini seringkali terbentur dengan realita pelaksanaannya. Terkadang arahan renstra itu sendiri seringkali dianggap terlalu utopis, tetapi apa artinya sebuah gagasan besar tanpa komitmen pelaksanaannya. Usaha implementasi dari renstra tetap perlu dilakukan yang ditopang oleh evaluasi yang dilakukan secara terus menerus. Badai perubahan merupakan ujian nyata bagi Wanadri dan nilai-nilainya, yang selama 61 tahun Wanadri ini selalu berdiri tegak sebagai sebuah organisasi yang turut serta dalam upaya membentuk “Character and Nation Building”.
Epilog
Pohon kayu ulin sebagai representasi bentuk dari pohon Wanadri di dalam hutan gagasan Indonesia itu memiliki bentuk yang sangat gagah, pohon ini menjulang tinggi dan berakar indah. Hanya saja di dalam realitanya, pohon kayu ulin itu merupakan pohon yang tumbuh dengan sangat lambat sehingga secara perlahan populasinya terus terkikis, dengan banyaknya tekanan dari manusia. Pohon ini hanya merepresentasikan Wanadri dari segi bentuk dan beberapa karakteristiknya, tetapi tidak serta merta merepresentasikan pohon Wanadri secara 100% di dalam hutan imajiner yang bernama hutan gagasan Indonesia. Jika tidak ingin bernasib sama dengan banyaknya pohon kayu endemik Indonesia, Wanadri perlu tumbuh lebih cepat dan beradaptasi dengan segala perkembangan yang ada. Kita tidak perlu berbohong kepada diri sendiri dalam melihat kondisi Bangsa Indonesia, bangsa ini sedang tidak baik-baik saja. Indonesia sedang menghadapi tantangan dari berbagai sudut, aspek manusia, alam dan kenegaraannya sedang diuji dalam menghadapi badai perubahan, ini juga merupakan tantangan bagi Wanadri untuk tetap berdiri tegak dan mengakar.
Notes:
Tulisan ini hanya sebuah bentuk pemaknaan bagi diri saya sendiri selama dua tahun mengabdi di dalam Dewan Pengurus Wanadri. Saya sendiri belum menyelam terlalu dalam ke dalam lautan Wanadri itu sendiri dan masih tidak jauh dari permukaan, masih banyak saudaraku anggota Wanadri yang mungkin sudah mencapai dasar terdalam.
Teruntuk adik-adikku angkata Hujan Lembah – Dasa Askara, kalian sudah bukan daun termuda di Wanadri, warna kalian sudah bukan hijau muda terang lagi tetapi sudah perlahan-lahan menjadi gelap. Sudah saatnya kalian menjadi daun yang semakin dewasa dan membimbing adik termuda kita, angkatan Badai Kabut – Bintang Rawa. Selamat datang di Wanadri untuk angkatan BK-BIWA!
