Berikut ini tanggapan Badan Geologi tentang kejadian bencana gerakan tanah atau tanah longsor di Kecamatan Sigaluh, Kecamatan Pejawaran, dan Kecamatan Karang Kobar, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah, sebagaimana dimuat pada situs http://www.vsi.esdm.go.i
1. Lokasi dan Waktu Kejadian :
- Desa Tunggoro, Kecamatan Sigaluh dan Desa Sidengok, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah, terjadi padahari Kamis siang, 11 Desember 2014 pada pukul 11.00 WIB
- Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karang Kobar, Kabupaten Banjarnegara tanggal 12 Desember 2014 pada pukul 17.30 WIB.
2. Jenis Gerakan Tanah :
Gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan pada tebing di tepi jalan.
3. Dampak gerakan tanah :
- Desa Sidengok, Kecamatan Pejawaran: 1 (satu) meninggal dunia
- Desa Tunggoro, Kecamatan Sigaluh: Jalur utama penghubung antarkota di Propinsi Jawa Tengah terputus total.
- Kecamatan Karang Kobar, berdasarkan informasi dari BNPB:
a. Jalan penghubung Banjarnegara-Pekalongan di Karang Kobar ambles.
b. 150 rumah di Dusun Jemblung hancur
c. 11 orang meninggal dunia.
d. 11 luka berat
e. 4 orang luka ringan
f. 97 orang diperkirakan masih tertimbun
g. 200 jiwa mengungsi di Desa Karang Kobar
h. 223 jiwa mengungsi di Desa Wanayasa
4. Kondisi daerah bencana :
- Secara umum daerah bencana dan sekitarnya merupakan daerah dengan kemiringan landai sampai terjal.
- Berdasarkan peta gelogi lembar Banjarnegara dan Pekalongan, Jawa (W.H. Condon, 1996), daerah bencana disusun oleh batuan dari Anggota Breksi Formasi Ligung bagian atas yang terdiri dari aglomerat bersusunan andesit, lava andesit hornblenda dan tuf (QTlb). Tersusun juga oleh lahar dan endapan alluvium dari bahan rombakan gunungapi, aliran lava dan breksi (Qjya).
- Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadi Gerakan Tanah Provinsi Jawa Tengah bulan Desember 2014 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah tersebut termasuk zona potensi terjadi gerakan tanah Menengah sampai Tinggi artinya daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan tinggi, dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.
5. Faktor penyebab terjadinya tanah longsor diperkirakan karena :
- Morfologi daerah bencana dan sekitarnya yang secara umum berupa perbukitan dengan kemiringan landai hingga terjal.
- Litologi yang diperkirakan bersifat sarang dengan daya resap air yang tinggi, yaitu berupa lahar dan endapan alluvium dari bahan rombakan gunungapi, aliran lava dan breksi, dengan batuan dasar yang berupa aglomerat bersusunan andesit, lava andesit hornblenda dan tuf.
- Curah hujan yang tinggi dan lama pada saat dan sebelum kejadian gerakan tanah.
6. Tim tanggap darurat bencana gerakan tanah sudah berada di lokasi bencana, untuk melakukan:
- Melakukan koordinasi dengan BNPB dan pemerintah daerah melalui BPBD.
- Pemeriksaan guna mengetahui penyebab terjadinya gerakan tanah.
- Memberikan rekomendasi teknis penanganan bencana gerakan tanah.
- Memberikan sosialisasi mengenai kondisi gerakan tanah yang telah terjadi kepada masyarakat yang terkena bencana.
- Melakukan kajian kelayakan huni di daerah sekitar bencana dan jika daerah bencana tidak layak huni, tim akan mencari lokasi yang aman untuk relokasi.**

