I. Pendahuluan
G. Tangkubanparahu merupakan gunungapi aktif strato yang memiliki 9 kawah. Dua kawah utama di puncak adalah K. Ratu dan K. Upas berdiameter masing-masing sekitar 1000 m dengan kedalaman kawah sekitar 400 m. Secara administratif terletak di dua Kabupaten, yaitu Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat.
Erupsi G. Tangkubanparahu yang tercatat dalam sejarah adalah berupa letusan-letusan freatik yang bersumber terutama dari K. Ratu. Kawah Ratu merupakan tempat aktivitas utama G. Tangkubanparahu yang selama periode erupsi 1829-1994 setidaknya telah mengalami 3 kali letusan magmatik (kolom asap maksimal mencapai 2 km) dan 4 kali letusan freatik.
Pada tanggal 23 Agustus 2012, pukul 23:00 WIB tingkat aktivitas G. Tangkubanparahu dinaikkan dariLevel I (Normal) menjadi Level II (Waspada) dan pada tanggal 21 September 2012 tingkat aktivitas G.Tangkubanparahu diturunkan dari Level II (Waspada) menjadi Level I (Normal). Terjadi peningkatan aktivitas lagi berupa letusan freatik beberapa saat sehingga tanggal 21 Februari 2013 tingkat aktivitas dinaikkan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada) dan diturunkan lagi dari Level II (Waspada) menjadi Level I (Normal) pada 18 Maret 2013. Pada 5 Oktober 2013 tingkat aktivitas G. Tangkubanparahu dinaikkan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada) dan pada 27 Oktober 2013 tingkat aktivitas turun menjadi Level I (Normal).
Pada tanggal 31 Desember 2014 pukul 15:00 WIB tingkat aktivitas G. Tangkubanparahu dinaikkan dariLevel I (Normal) menjadi Level II (Waspada).
II. Visual
- 1 – 31 Desember 2014, cuaca cerah-mendung, angin perlahan-kencang dari utara, hujan gerimis-deras, suhu udara 17-24 oC. Visual K. Ratu teramati asap putih sedang, tinggi asap 25-50 meter, suara blaser sedang, tekanan gas sedang dan bau belerang tercium sedang.
- 1 – 8 Januari 2015 (hingga pukul 06:00 WIB), cuaca cerah-mendung, angin perlahan-kencang dari utara dan selatan, hujan gerimis-sedang, suhu udara 17-24 oC. Visual Kawah Ratu teramati asap putih tipis-sedang, tinggi asap 15-35 meter, suara blaser lemah-sedang, tekanan gas sedang dan bau belerang tercium sedang.
Keadaan visual K. Ratu dari waktu ke waktu (pertengahan Desember 2014 – awal Januari 2015) dapat dilihat pada Lampiran 1 dan 2 (hasil foto K. Ratu dengan kamera infra merah). .
III. Kegempaan
Hasil pemantauan kegempaan hingga tanggal 8 Januari 2015 pukul 06.00 WIB, sebagai berikut:
- 1 – 31 Desember 2014, terekam 1 (satu) kali Gempa Tornillo, 25 kali Gempa Hembusan, 569 Gempa Low Frequency (LF), 361 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 11 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA), 6 kali Gempa Tektonik Lokal (TL), dan 41 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ).
- 1 – 8 Januari 2015 (hingga pukul 06:00 WIB), terekam 1 (satu) kali Gempa Tornillo, 9 kali Gempa Hembusan, 224 kali Gempa Low Frequency (LF), 44 kali Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 2 kali Gempa Vulkanik Dalam (VA) dan 3 kali Gempa Tektonik Jauh (TJ).
Hasil pemantauan kegempaan sampai 8 Januari 2015 masih memperlihatkan adanya Gempa Low Frequency (LF). Sejak 2 Januari 2015 hingga saat ini Gempa Low Frequency (LF).sudah mulai menurun signifikan (baik jumlah, amplituda, maupun durasinya). (Lampiran 3 dan 4)
Hasil Realtime Seismic Amplitude Measurement (RSAM) menunjukkan nilai amplituda terbesar masih terjadi pada tanggal 25 Desember 2014. Sumber Gempa Vulkanik pada periode 17 Desember 2014 – 3 Januari 2015 berada pada kedalaman 0,5 – 2,5 km di bawah kawah Ratu dengan sebaran gempa di sekitar di bagian baratdaya kawah Ratu. (Lampiran 5 dan 6)
IV. Deformasi
Pengukuran deformasi dilakukan dengan tiga metoda, yaitu Electronic Distance Measurement (EDM), Leveling dan Tiltmeter.
Pengukuran deformasi dengan EDM dilakukan di bibir Kawah Ratu sebelah timur (tempat parkir) ke reflektor UPAS (arah baratlaut, lk. 0.8 Km) dan reflektor LERENG (arah baratdaya, lk. 0.65 Km)
Hasil pengukuran EDM pada periode awal – pertengahan November 2014 dan pada 28 Desember 2014 – 4 Januari 2015 memperlihatkan pemanjangan jarak miring pada kedua baseline (inflasi) sekitar 5,67 mm pada PARK-UPAS dan 12,2 mm pada PARK-LRNG. Dan setelah 4 Januari 2015 menunjukkan sedikit pemendekan jarak miring pada kedua baseline (deflasi) walaupun berfluktuasi, yaitu sebesar 3 mm untuk PARK-UPAS dan 2.6 mm pada PARK-LERENG. (Lampiran 7)
Pengukuran leveling dilakukan di 2 jalur lintasan, yaitu Jalur Kawah Ratu dan Jalur Kawah Domas.
Hasil pengukuran leveling di jalur kawah Ratu dan jalur kawah Domas menunjukan adanya perubahan nilai beda tinggi titik ukur (BM) yang tidak signifikan. (Lampiran 8)
Pengukuran deformasi dengan tiltmeter dilakukan dengan memasang sensor tiltmeter biaxial secara permanen di sebelah timur Kawah Ratu pada posisi 06o 45’ 30,05” LS dan 107o 37’ 10,06” BT dengan ketinggian 1805 mdpl. Sumbu Tangensial (Y-) mengarah ke kawah Ratu dengan azimut N 264oE.
Hasil pengukuran tiltmeter periode 3 – 6 Januari 2015 secara umum baik komponen Radial maupun komponen Tangensial masih relatif stabil. (Lampiran 9)
V. Geokimia
Pengukuran gas vulkanik di udara disekitar Kawah Ratu dilakukan di 4 titik pengambilan sampel, yaitu titik sampling 1, 2, 3 (yang merupakan tempat pengukuran EDM), dan 4 (saddle antara K. Ratu dan K.Upas).
Hasil pengukuran H2S dan SO2 di udara sekitar kawah Ratu sebagai berikut:
|
Titik Pengukuran |
Tanggal |
H2S min |
H2S rata-rata |
H2S Maks |
| Titik sampling 1
Koordinat: 06o 45’ 29,1” LS dan 107o 37’ 04,1” BT ketinggian 1811 meter |
2/1/2015 |
0 |
0 |
0 |
|
3/1/2015 |
0 |
0.3 |
0.9 |
|
|
4/1/2015 |
0 |
0 |
0 |
|
|
5/1/2015 |
0 |
0 |
0 |
|
|
6/1/2015 |
0 |
0 |
0 |
|
|
7/1/2015 |
0 |
0.2 |
0.9 |
|
|
8/1/2015 |
0 |
0.1 |
0.6 |
|
| Titik sampling 2 Koordinat:
06o 45’ 22,2” LS dan 107o 36’ 57,1” BT ketinggian 1845 meter |
2/1/2015 |
0.6 |
0.9 |
1.1 |
|
3/1/2015 |
0 |
0.5 |
0.8 |
|
|
4/1/2015 |
0 |
0.9 |
1.7 |
|
|
5/1/2015 |
0 |
0.2 |
0.9 |
|
|
6/1/2015 |
0 |
0.1 |
0.8 |
|
|
7/1/2015 |
0 |
0.2 |
1.0 |
|
|
8/1/2015 |
0 |
0.2 |
1.0 |
|
| Titik sampling 3 Koordinat:
06o 45’ 38,2” LS dan 107o 37’ 06,0” BT ketinggian 1860 meter |
2/1/2015 |
0 |
0 |
0 |
|
3/1/2015 |
0 |
0.3 |
1.8 |
|
|
4/1/2015 |
0 |
0.9 |
1.7 |
|
|
5/1/2015 |
0 |
0.1 |
0.6 |
|
|
6/1/2015 |
0 |
0.6 |
1.3 |
|
|
7/1/2015 |
0 |
1.5 |
2.8 |
|
|
8/1/2015 |
0 |
0.0 |
0.0 |
|
| Titik sampling 4
Koordinat: 06o 45’ 25,1” LS dan 107o 36’ 43,4” BT ketinggian 1850 meter |
5/1/2015 |
0 |
0.4 |
1 |
|
6/1/2015 |
0 |
1.3 |
4 |
|
|
7/1/2015 |
0 |
0.9 |
4.5 |
|
|
8/1/2015 |
0 |
0.0 |
0 |
|
Titik Pengukuran |
Tanggal |
SO2 min |
SO2 rata-rata |
SO2 Maks |
|
Titik sampling 1 |
2/1/2015 |
0.2 |
0.2 |
0.3 |
|
3/1/2015 |
0.2 |
0.6 |
1.2 |
|
|
4/1/2015 |
0 |
0.0 |
0 |
|
|
5/1/2015 |
0.2 |
0.4 |
0.6 |
|
|
6/1/2015 |
0.2 |
0.7 |
1.2 |
|
|
7/1/2015 |
0 |
0.7 |
1.5 |
|
|
8/1/2015 |
0 |
0.1 |
0.6 |
|
|
Titik sampling 2 |
2/1/2015 |
1.1 |
1.1 |
1.1 |
|
3/1/2015 |
0 |
0.7 |
1.4 |
|
|
4/1/2015 |
0 |
0.6 |
1.7 |
|
|
5/1/2015 |
0 |
0.1 |
0.6 |
|
|
6/1/2015 |
0.3 |
0.9 |
1.7 |
|
|
7/1/2015 |
0.2 |
0.8 |
2.2 |
|
|
8/1/2015 |
0.0 |
0.4 |
1.4 |
|
|
Titik sampling 3 |
2/1/2015 |
0 |
0 |
0 |
|
3/1/2015 |
0.3 |
0.9 |
1.7 |
|
|
4/1/2015 |
0.6 |
1.4 |
2.7 |
|
|
5/1/2015 |
0 |
0.5 |
1.0 |
|
|
6/1/2015 |
0.5 |
1.8 |
3.0 |
|
|
7/1/2015 |
0.5 |
2.5 |
4.4 |
|
|
8/1/2015 |
0 |
0.0 |
0.0 |
|
|
Titik sampling 4 |
5/1/2015 |
0.2 |
0.7 |
1.4 |
|
6/1/2015 |
0.8 |
2.9 |
6.5 |
|
|
7/1/2015 |
0.3 |
1.3 |
6.3 |
|
|
8/1/2015 |
0 |
0 |
0 |
Hasil pengukuran gas vulkanik pada pada periode 1 – 8 Januari 2015 di lokasi tersebut diatas secara umum menunjukan nilainya masih dibawah ambang batas gas-gas vulkanik di udara yang tidak menggangu kesehatan. Di Titik sampling 4 pada tanggal 6, 7 Januari 2015 kandungan SO2 berada di atas ambang batas karena lokasinya di saddle antara K. Ratu-K. Upas (lk 200-300 m). (Lampiran 10)
VI. Suhu Tanah
Suhu tanah di kawah Ratu diukur secara realtime dan di kirim secara periodik setiap 5 dan 10 menit dengan sistem Telemetri Laju Rendah (TLR). Sensor suhu tanah ini ditempatkan sekitar 100 m dari lubang kawah aktif/K. Ratu (asap dari K. Ratu seperti ditunjukkan pada Lampiran 1). Tiga sensor dipasang 1A dan 1B, 2A dan 2B, serta 3A dan 3B (yang merupakan sensor yang terdekat dengan lubang kawah aktif).
Hasil pengukuran suhu tanah di kawah Ratu secara perlahan terlihat adanya penurunan, terutama pada sensor 3A dan 3B. (Lampiran 11)
VII. Kesimpulan
- Pemantauan kegempaan baik jumlah harian maupun energi gempa vulkanik harian sudah menurun.
- Hasil pengukuran deformasi menunjukkan hasil yang stabil sejak tanggal 4 Januari 2015.
- Pengukuran gas-gas vulkanik di udara/ ambien secara umum konsentrasi gas SO2 masih < 2 ppm (batas ambang normal 2 ppm). Sedangkan gas H2S < 5 ppm jauh di bawah batas ambang normal 10 ppm.
- Berdasarkan hasil pengamatan kegempaan, visual sekitar kawah, deformasi dan geokimia serta analisis data maka tingkat aktivitas G.Tangkubanparahu di turunkan dari Level II (Waspada) menjadi Level I (Normal) terhitung tanggal 8 Januari 2015, pukul 17.00 WIB.
Tingkat aktivitas G. Tangkubanparahu akan di dinaikkan jika terjadi peningkatan aktivitas vulkanik.
VIII.Rekomendasi
Sehubungan dengan tingkat aktivitas G. Tangkubanparahu Level I (Normal), maka direkomendasikan:
- Masyarakat di sekitar G. Tangkubanparahu dan pedagang/ pengujung / wisatawan / pendaki tidak diperbolehkan turun dan mendekati dasar Kawah Ratu dan Kawah Upas serta tidak boleh menginap dalam kawasan kawah-kawah aktif yang ada di dalam kompleks G. Tangkubanparahu, dikarenakan terdapatnya gas-gas vulkanik yang dapat membahayakan kehidupan manusia.
- Masyarakat di sekitar G. Tangkubanparahu diharap tenang, tidak terpancing isu-isu tentang letusan G. Tangkubanparahu dan harap selalu mengikuti arahan dari BPBD setempat.
- Masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar G. Tangkubanparahu dalam KRB III untuk selalu waspada dan tetap memperhatikan perkembangan aktivitas G. Tangkubanparahu yang dikeluarkan oleh BPBD setempat.
- Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat (BPBD Provinsi Jabar) dan BPBD Kabupaten Bandung Barat serta BPBD Kabupaten Subang.
- Agar BPBD Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan G. Tangkubanparahu di Desa Cikole, Kec. Lembang, Kab. Bandung Barat atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.
Sumber: http://pvmbg.bgl.esdm.go.id/
foto: http://id.wikipedia.org/













