Selamat hari Kartini, warga tropis!
Sore, 16 April 2016, berlokasi di Eiger Flagship Sumatera. Setelah hujan mengguyur disore hari, bersyukur malam ini langit kembali cerah. Narasumber #NgobrolSore sudah merapat hadir, ada Kak Anggi Frisca dan Kak Dinni Septianingrum. #NgobrolSore kali ini dalam rangka memperingati hari kartini, tema yang kami ambil ‘Kartini masa Kini’. Tidak lama waktu berselang, Kang Galih Donikara moderator #NgobrolSore memberikan tanda, tanda #NgobrolSore akan segera dimulai. #NgobrolSore dibuka oleh Kang Galih Donikara, dengan memperkenalkan #NgobrolSore, penyelenggara #NgobrolSore yaitu Pustaka Tropis Wanadri dan Eiger sebagai sponsor #NgobrolSore. Obrolan dibuka dengan perkenalan Narasumber, dimulai dengan Kak Dinni.
Kak Dinni Septianingrum, seorang penggerak gerakan 1000 Guru dan SeaSoldier. 1000 guru adalah akun twitter inspirasi bagi pendidikan pedalaman dan perbatasan negeri ini. Dibentuk pada 22 Agustus 2012 oleh Jemi Ngadiono, pada awalnya adalah akun inspirasi dengan memberitakan keadaan realita pendidikan di pedalaman pelosok negeri melalui media social, namun kini berkembang dengan melakukan aksi sosial nyata dengan turun langsung membantu pendidikan anak-anak pedalaman negeri. Pergerakan beliau dimulai dengan ikut bergerak di 1000 Guru, hingga kini beliau sebagai Managing Director 1000 Guru. Hingga saat ini, gerakan 1000 Guru sudah menyebar hingga memiliki 35 Regional dengan kurang lebih 6000 Guru Volunteer yang telah dirangkul oleh mereka. Seasoldier adalah sebuah aksi peduli lingkungan yang memiliki KOMITMEN untuk berani menyebarkan virus ramah lingkungan. Lingkungan bukan hanya di LAUT, tetapi juga termasuk masyarakat KOTA yang ingin melakukan perubahan. Air bergerak dari HULU ke HILIR. Jika daratan/kota adalah hulu, maka lautan adalah hilir. Perubahan besar tidak akan tercapai tanpa perubahan kecil. Perubahan dimulai dari yang paling sederhana seperti membiasakan diri/menumbuhkan INISIATIF. Contohnya: kurangi penggunaan plastik, hemat listrik dan air, bilang TIDAK untuk makan sirip hiu, atau menjadi “smart” traveler dan bertanggung jawab. Karena semua sampah yang ada di kota atau darat, akan bermuara dilaut.
Narasumber selanjutnya Kak Anggi Cumit, yang bermula dengan membuat sebuah sekolah yang diberi nama Roka Ora. Sekolah ini dibuat dari hasil penjualan buku yang beliau buat sendiri. Beliau berkata ‘karena yang saya bisa lakukan dengan keahlian saya adalah membuat buku ini, jadi saya membuat buku ini dan menjualnya untuk membuat sekolah ini’ begitu kira-kira statment dari beliau mengenai pembuatan Roka Ora. Melakukan perjalanan solo ke Nepal, untuk merenung, mencari inspirasi, menemukan diri. Membawa bekal sebuah ide dan gerakan untuk negeri sendiri. Tidak berhenti disitu, beliau juga menggagas Aksa 7 (7 orang, 7 Film Maker dan 7 Gunung Indonesia). Aksa 7 lahir dari sebuah rasa gelisah, sebuah proses alami dan pencapaian mimpi, serta berusaha mencari karakter dan pembentukan diri dalam ruang semesta, pencarian bentuk baru dalam sebuah proses pembuatan film. Aksa 7 dibentuk dengan kekuatan hati, integritas yang tinggi untuk mencapai mimpi nya, mencapai sebuah keinginan untuk kembali ke hasanah kebudayaan, dengan rasa nasionalis yang tinggi atas semesta, atas bumi yang dipijak nya, dan atas kecintaan terhadap apa yang bisa mereka berikan untuk sebuah Negara yang mereka cintai, INDONESIA. Kami hanya punya satu keyakinan bahwa ideologi kebersamaan dapat dicapai dengan tujuan yang sama disertai rasa “kecintaan” kami akan alam ini (Indonesia), kami mencintai prosesnya dan kami punya tujuan yang sama. ”Kami berbangsa satu bangsa Indonesia, inilah sumpah kami, sumpah pemuda dan kami memiliki kepercayaan bahwa untuk menjadi negara kesatuan Republik Indonesia, bangsa ini harus bersatu untuk kepentingan bersama bukan kepentingan diri sendiri”.
#NgobrolSore ‘Kartini masa Kini’ berbicara tentang para wanita yang membuat sebuah gagasan, ide, pergerakan, hingga membuahkan sebuah perubahan yang positif. Kak Dinni dengan gerakan 1000 Guru, sudah menghasilkan kurang lebih 6000 Guru (anak muda yang mengajar), tersebar di 35 Regional dan mengajar kurang lebih 15.000 ribu anak). Seasoldier yang mengajak untuk mempeerbaiki pola hidup dengan mengurangi sampah mulai dari rumah kita masing-masing. Kak Anggi dengan pergerakan Roka Ora, sebuah sekolah yang dibuat dari hasil berjualan buku karya beliau. Perjalan ke Nepal untuk merenung, mencari inspirasi dan menemukan diri sendiri. Menghasilkan sebuah kegelisahan yang dituangkan dalam Aksa 7, sebuah film dokumenter karya 7 anak bangsa, dari 7 gunung Indonesia. Mengangkat mengenai budaya, masyarakat dan ke Indonesiaan yang terkadang kita lupa atau bahkan tidak kita ketahui.
Dalam sebuah perjalanan tidak selalu mulus, akan selalu ada rintangan. Memulai adalah langkah awal yang baik, selanjutnya adalah menjalankan dan menyelesaikan yang menjadi tantangan selanjutnya. Konsistensi yang sangat penting untuk kita kuatkan, karena hal tersebut adalah hal yang sering kali kita lupakan karena terbawa suasana awal pergerakan. Team yang kita ajak untuk bergerak juga merupakan pijakan awal yang cukup menentukan keberlangsungan, team ini yang akan bersama-sama jatuh dan bangun untuk menyelesaikan apa yang pernah dimulai. Untuk warga tropis sekalian, jangan pernah takut untuk bermimpi, karena mimpi yang membuat kita hidup. Jangan berhenti untuk terus menuangkan ide-ide untuk memberikan perubahan posotif pada negeri. ‘Kita mampu memberikan yang terbaik untuk Indonesia, kita mampu menjadi ‘Kartini’ dengan cara kita sendiri’.
Salam Tropis!
Sumber: Pustaka Tropis Wanadri





















