Mama Aleta lahir dari keluarga petani di kaki Gunung Mutis, Timor, NTT. Di usia muda, dia kehilangan ibunya sehingga dia dibesarkan perempuan lain di sukunya, Suku Mollo.
Suku Mollo berabad-abad bertahan hidup dari keanekaragaman hayati di Gunung Mutis yang disakralkan. Mereka mengumpulkan makanan dan obat-obatan dari hutan, menanam di tanah subur dan menenun baju dari serat alami.
Menyadari pentingnya menjaga tradisi serta tanah tempatnya berpijak, ia berjuang mati-matian mempertahankan semua itu. Thn 1999, tiga tahun setelah para perusahaan tambang marmer memulai kegiatannya di wilayah Gunung Mutis, ia terus melakukan aksi protes agar kegiatan merusak bumi ini dihentikan
Dia pun bertindak, menyatukan komunitas untuk sama2 menolak upaya korporasi itu demi mempertahankan identitas Suku Mollo. Keinginannya sederhana, agar masyarakat setempat tidak kehilangan sumber pangan, identitas dan budaya daerah. Mama Aleta secara damai menduduki tempat-tempat penambangan marmer dengan aksi yang disebut “protes sambil menenun.”
.
Perjuangannya semakin berat manakala dia harus berhadapan dengan pemerintah setempat yang menuduhnya telah menyerobot hutan. Mereka pun memasang pengumuman untuk menangkap dan membunuh Mama Aleta. Bersyukur, beliau selamat dari usaha percobaan pembunuhan. Mama Aleta lari menyembunyikan diri di dalam hutan
Perjuangan Mama Aleta dan Masyarakat Adat Mollo selama 11 tahun mulai membuahkan hasil pada 2007, dengan dihentikannya operasi tambang di daerah tersebut. Perusakan tanah hutan yang sakral di Gunung Mutis, Pulau Timor akhirnya bisa dicegah
.
Tambang sudah tak ada. Kini, Mama Aleta bersama berbagai komunitas di seluruh wilayah Timor Barat memetakan hutan adat mereka. Ini untuk melindungi tanah-tanah adat dari jamahan tangan-tangan perusak di masa depan. Mama Aleta juga memimpin berbagai usaha untuk menciptakan berbagai peluang ekonomi baik dengan pertanian ramah lingkungan dan bertenun. Perjuangan Mama Aleta juga membawanya meraih penghargaan internasional bidang lingkungan hidup “Goldman Environmental Prize 2013”
Referensi : goldmanprize & Viva News
#gunungindonesia


