Kawasan Hutan Mangrove di Dumai Rusak Akibat Abrasi

Abrasi mengancam bandar bakau atau hutan mangrove di Pangkalan Sesai Kota Dumai. Sejumlah pohon mangrove tumbang, rusak dan mati akibat abrasi yang menggerus bibir pantai. Kawasan ini sedikitnya perlu 60 ribu batang bibit pohon untuk penanaman sulam ulang. (Foto: riaupos.co)*

Dumai – Abrasi di bibir pantai kawasan wisata bandar bakau atau hutan mangrove di Pangkalan Sesai Kota Dumai Provinsi Riau semakin parah dan mengakibatkan banyak pohon mangrove tumbang dan mati.

Sejumlah upaya dilakukan komunitas pencinta alam setempat guna mengantisipasi kerusakan meluas. Ketua Pencinta Alam Bahari (PAB) Datok Darwis Muhammad Saleh mengatakan bahwa hutan bakau tersebut kini memerlukan puluhan ribu bibit mangrove untuk rehabilitasi dengan metode penanaman sulam.

Saat ini, ada seluas 15 hektare kawasan hutan bakau yang perlu direhabilitasi agar ekosistem tetap terjaga. “Untuk mengatasi hal itu, PAB memerlukan 60 ribu batang pembibitan untuk penanaman sulam ulang,” ujar Darwis, Kamis (13/6/2019), dikutip dari riaupos.co.

Dikatakannya, jika 10 tahun tidak dilakukan rehabilitasi penyulaman ulang bibit, maka kerusakan secara alami akan terus berlangsung sehingga mengakibatkan mangrove terputus dan berselat.

“Penanaman sulam dengan jenis pohon bakau tertentu merupakan solusi untuk mencegah terjadi kerusakan pada sejumlah mangrove yang terkena dampak abrasi,” katanya.

Menurut Darwis, jika penanaman sulam dilakukan maka tingkat keberhasilan mengantisipasi abrasi diperkirakan 90 persen. Apalagi, hutan bakau di kota tersebut menjadi salah satu tempat konservasi habitat flora yang dilindungi sehingga sudah seharusnya dilestarikan untuk kebermanfaatan jangka panjang.

“Di dalam kawasan hutan mangrove Dumai terdapat sedikitnya 24 jenis spesies bakau yang dilindungi. Salah satu bakau istimewa yang ada di daerah ini adalah bakau belukap (Rhizophora mucronata) yang mulai mengalami kepunahan di daerah tersebut,” tutur Darwis. (iar)*