Warga berusaha memadamkan api dengan cara manual di kawasan hutan Desa Peunia Kecamatan Kaway XVI Kabupaten Aceh Barat Provinsi Aceh, 23 Oktober 2017 silam. Dalam kurun tiga tahun terakhir sedikitnya ada 283 kasus titik api yang tersebar di sejumlah kota dan kabupaten di Aceh. (Foto: Antara)*
Meulaboh – Tercatat 283 kasus titik api kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah kota dan kabupaten di Provinsi Aceh selama tiga tahun terakhir (2016 – 2019).
Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Wilayah IV Aceh M. Daud mengatakan, tingginya angka kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat kurangnya pemahaman masyarakat ketika membuka lahan dengan cara membakar.
Daud menyebut, meski masih terbilang tinggi tetapi angka kebakaran hutan dan lahan sesuai dengan sebaran titik api selama tiga tahun terakhir terus menurun dari tahun ke tahun.
“Pada 2016 jumlah kebakaran lahan di Aceh mencapai 103 titik api, pada 2017 tercatat 113 titik api, pada 2018 mencapai 65 titik api. Pada 2019, jumlah titik api mencapai dua titik dan berada di Kabupaten Aceh Barat,” tutur Daud, Minggu (16/6/2019) di Meulaboh.
Dikutip dari Antara, kata Daud menjelaskan, titik api yang selama ini sering mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan tersebar di sejumlah wilayah seperti Kabupaten Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, dan Aceh Singkil. Selain itu, lokasi kebakaran juga terjadi di Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Timur, Bener Meriah, Bireun, Gayo Lues, Pidie serta Pidie Jaya.
Sementara, kebakaran lahan gambut sering melanda Kabupaten Aceh Barat dan Nagan Raya dan hampir terjadi setiap tahun. Salah satu penyebabnya adalah cara membuka lahan yang tidak sesuai aturan. “Rata-rata kasusnya sama. Pembukaan lahan dengan cara membakar. Ini sangat berbahaya,” kata Daud.
Dalam upaya pencegahan karhutla di Aceh, pihaknya mulai membentuk kelompok masyarakat peduli gambut. Kata Daud, pencegahan karhutla mesti dilakukan bersama-sama agar warga sebagai pemilik lahan gambut tidak sembarangan melakukan pembakaran lahan saat akan membuka lahan baru.
“Kelompok yang kita bentuk ini diutamakan yang ada lahan gambutnya sehingga sedini mungkin bisa mendeteksi titik api agar segera dilakukan pencegahan sebelum terjadinya kebakaran hutan,” kata Daud. (iar)*

