Bandung Datar

Patahan Lembang - Foto: Titi Bachtiar
Patahan Lembang – Foto: Titi Bachtiar

BILA sedang berada di lereng dalam Cekungan Bandung, seperti di Gunungbatu, Lembang, di Perbukitan di Bandung selatan, di perbukitan sebelah utara Cimahi dan Cicalengka, atau bila dilihat dari pesawat udara, permukaan Cekungan Bandung itu terlihat datar, yang pinggirannya dikelilingi gunung-gunung.

Permukaan dataran itu bervariasi ketinggian, antara 665-725 meter di atas permukaan laut. Kini kawasan itu sudah terbangun, tempat warga Cekungan Bandung bermasyarakat, di atas bekas endapan Danau Bandung Purba.

Rona bumi Cekungan Bandung saat ini tak bisa lepas dari keberadaan Danau Bandung Purba, akibat Ci Tarum terbendung material letusan Gunung Sunda. Aliran Ci Tarum yang berasal dari anak-anak sungai di lereng-lereng gunung di sekeliling Cekungan Bandung, semula mengarah ke utara hingga di utara Padalarang, lalu alirannya berbelok ke arah barat laut, kemudian menukik ke arah barat. Sebagian aliran Ci Tarum purba di utara Padalarang itulah yang terbendung material letusan Gunung Sunda yang terjadi ±105.000 tahun yang lalu.

Pada letusan dahsyatnya, material letusan Gunung Sunda dengan seketika mengubur apa saja yang ditimpanya. Hutan belantara, sabana, lembah, semua terkubur bersamaan dengan mahluk hidup yang ada di dalamnya, seperti badak, rusa, kijang, dan lain-lain. Arang kayu seukuran drum yang melintang searah datangnya awan panas, ditemukan di penggalian pasir di Ciseupan, Cibeber, Kota Cimahi. Letusan Gunung Sunda inilah yang telah membendung Ci Tarum di utara Padalarang, kemudian membentuk danau raksasa, Danau Bandung Purba.

Bagian sungai ke arah hilir dari bendungan alami itu, sekarang bernama Ci Meta, sungai kecil dalam lembah besar Ci Tarum purba. Paras air danau itu mencapai 725 m dpl, merupakan paras danau tertinggi, yang terjadi 35.000-20.000 tahun yang lalu.

Bila dihitung sejak terjadi penggenangan pada 105.000 tahun yang lalu sampai bobolnya Danau Bandung purba pada 16.000 tahun lalu, maka selama 90.000 tahunan terjadi pengendapan lumpur di dasar danau. Endapan danau yang paling tebal terjadi di tengah-tengah danau, di bagian terdalam dari danau itu, seperti di daerah Sapan dan Sukamanah.

Rona bumi dasar Cekungan Bandung itu pada mulanya tidak rata seperti yang sekarang ada, namun bergelombang, ada bukit, punggungan, dan lembah-lembah tempat sungai mengalir. Sejak sebelum terjadi penggenangan menjadi danau, letusan-letusan gunung api di sekeliling Cekungan Bandung, material letusannya telah menutupi dan melapisi dasar Cekungan Bandung.

Namun, yang paling berperan menjadikan dasar Cekungan Bandung menjadi datar karena terjadinya proses pembendungan secara alami oleh letusan Gunung Sunda. Material endapannya bukan hanya endapan danau yang berupa material organik, namun juga berselang-seling berupa endapan dari material letusan gunung api. Di tengah Cekungan Bandung, ketebalan endapan itu ada yang mencapai lebih dari 100 meter.

Pertama, pastilah endapan itu pada mulanya mengisi relung-relung terdalam. Bila material endapan itu banyak, terus bertambah, semakin menebal ke arah permukaan. Kedua, karena air yang tergenang itu permukaannya rata, maka proses pengendapan yang terjadi di dalam air yang tergenang pun akan mengendapkan material endapannya relatif rata/datar. Pengendapan di dalam danau yang terjadi selama kurang-lebih 90.000 tahun, maka ketebalan endapan itu akan menutupi lembah-lembah hingga di atas bukit-bukitnya. Itulah sebabnya permukaan dari rona bumi dasar Cekungan Bandung saat ini menjadi datar.

Setelah danau ini bobol sekitar 16.000 tahun yang lalu di Curug Jompong untuk Danau Bandung Purba Timur dan di Cukangrahong untuk Danau Bandung Purba Barat, maka secara perlahan air danau itu menyusut. Tentu, tidak langsung mengering, namun menyisakan lahan basah yang sangat luas berupa ranca, rawa, dan situ. Itulah sebabnya, di dasar Cekungan Bandung ini banyak sekali nama geografi yang memakai kata situ, ranca, bojong, tanjung, empang, teluk, dano, nambo, dan beber.

Kini, bekas endapan danau di dasar Cekungan Bandung itu sudah dihuni oleh warganya. Karena berupa endapan danau, maka air tanah dangkal di sini tidak jernih, bahkan banyak mengandung cipeureu, mengadung zat besi.

Hal lain yang harus diwaspadai adalah gempa bumi di kawasan bekas endapan danau. Semakin tebal endapan danaunya, maka getarannya seolah tanpa hambatan. Cekungan Bandung ini dikelilingi oleh patahan, bukan hanya ada Patahan Lembang di utara, namun juga ada patahan di sisi barat, timur, dan selatan. Oleh karena itu, harus selalu siaga dan waspada, bagaimana seharusnya membangun rumah dan gedung, dan bagaimana seharusnya bertindak bila gempa itu benar-benar terjadi.***

 

Feature Image: Titi Bachtiar

Sumber: www.pikiran-rakyat.com